kabar

Pramugari Air France tolak berkerudung tidak ditugaskan dalam penerbangan ke Iran

British Airways bakal memulai kembali penerbangan ke Iran Juli tahun ini.

06 April 2016 11:01

Manajemen Air France akhirnya mengalah. Mereka membolehkan pramugari-pramugari menolak berkerudung untuk tidak bertugas dalam penerbangan ke Iran.

"Kru perempuan mana saja ditugaskan dalam penerbangan Paris-Teheran karena alasan pribadi bakal menolak berkerudung saat meninggalkan pesawat akan ditugaskan di rute lain," kata Gilles Gateau, pejabat sumber daya manusia Air France, kepada radio Europe 1 Senin lalu. "Jadi tidak diwajibkan dalam penerbangan ini."

Kesepakatan itu dicapai dalam perundingan antara serikat pekerja dengan manajemen perusahaan. Serikat pekerja beralasan klausul pengecualian itu pernah dibuat untuk rute ke Conakry di Guinea ketika krisis Ebola tahun lalu dan penerbangan ke Tokyo setelah kebocoran reaktor nuklir di Fukushima pada 2011.

Air France bakal membuka kembali rute Paris-Tehran, pertama kali diresmikan pada 1946, pertengahan bulan ini setelah dihentikan pada 2008, karena Iran terkena sanksi internasional akibat program nuklirnya.

Polemik muncul setelah manajemen mengedarkan memo kepada kru kabin perempuan. Isinya mewajibkan mereka berpakaian sopan dan berkerudung saat keluar pesawat setelah mendarat di Ibu Kota Teheran, Iran.

Manajemen beralasan semua maskapai melakukan ini karena menghormati tradisi berlaku di negara Mullah itu. Air France juga memberlakukan kebijakan serupa bagi kru kabin bertugas dalam penerbangan ke Arab Saudi.

"Hukum di Iran mewajibkan semua perempuan berjilbab atau berkerudung di muka umum," kata manajemen Air France dalam memonya. "Kewajiban ini dipatuhi semua maskapai internasional terbang ke Iran."

Aturan itu berlaku sejak kemenangan Revolusi Islam pada 1979.

British Airways bakal memulai kembali penerbangan ke Iran Juli tahun ini.  

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Ketambahan 1.881 kasus baru, jumlah penderita Covid-19 di Saudi jadi 87.142 orang

Pengidap Covid-19 di Makkah bertambah menjadi 15.595 orang, termasuk 224 meninggal.

Jalan di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, lengang dari kendaraan setelah jam malam diberlakukan sejak 23 Maret 2020. (Twitter)

Ketambahan 1.877 kasus baru, jumlah pengidap Covid-19 di Saudi jadi 85.261 orang

Penderita Covid-19 di Makkah meningkat menjadi 15.431 orang, termasuk 220 meninggal.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Ketambahan 1.618 kasus baru, jumlah penderita Covid-19 di Saudi jadi 83.384 orang

Pengidap Covid-19 di Makkah bertambah menjadi 15.272 orang, termasuk 215 meninggal.

Jalan di sekitar Masjid Al-Haram, Kota Makkah sepi dari kendaraan sejak Arab Saudi memberlakukan jam malam pada 23 Maret 2020. (Haramain Info)

Haji dan dilema Saudi

Ada tiga hal menjadi pertimbangan bagi Raja Salman atau Bin Salman untuk memutuskan jadi tidaknya pelaksanaan haji tahun ini.





comments powered by Disqus