kabar

Mesir hadiahi Saudi dua pulau tidak berpenghuni

"Bagi banyak rakyat Mesir, presiden telah menjual tanah demi riyal Saudi."

12 April 2016 21:11

Kunjungan kenegaraan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke Mesir selama lima hari sejak Kamis pekan lalu tidak percuma. Setelah mengguyur bantuan dana dan investasi miliaran dolar, sebagai bentuk terima kasih negara Nil itu menghadiahi Saudi dua pulau tidak berpenghuni dan gersang.

Kabinet Mesir Sabtu pekan lalu mengumumkan menyerahkan Tiran dan Sanafir, dua pulau terletak di pintu Teluk Aqabah atau pojokan strategis Laut Merah kepada negara Kabah itu. Pemerintah menganggap penyerahan itu, masih menunggu persetujuan parlemen, sejatinya merupakan pengembalian kepada Saudi sebagai pemilik asli kedua pulau ini.

Arab Saudi menyerahkan Tiran dan Sanafir menjadi wilayah kedaulatan Mesir pada 1950 karena khawatir bakal dicaplok Israel.

Pengumuman itu dikecam rakyat Mesir, selama berpuluh-puluh tahun meyakini Tiran dan Sanafir memang hak negara mereka. Rakyat negeri Piramida ini menuding Presiden Abdil Fattah as-Sisi telah memberikan konsesi memalukan kepada negara supertajir itu.

Komentar di beragam media sosial menjuluki Sisi sebagai Awaad, sebuah karakter dalam lagu lama Mesir telah menjual tanahnya, tindakan memalukan di mata rakyat pedesaan di negara itu. "Pulau untuk bantuan semiliar, piramida buat sokongan dua miliar, dan mereka datang dengan dua hadiah di atas," tulis Basim Yusuf di akun Twitternya.

Sebuah demonstrasi kecil terjadi di Alun-alun Tahrir, jantung Ibu Kota Kairo, Mesir, tempat di mana unjuk rasa besar-besaran berhasil melengserkan Presiden Husni Mubarak lima tahun lalu.

Samir Syihata, profesor studi Timur Tengah di Universitas Oklahoma, Amerika Serikat, menilai keputusan Kairo itu mengerikan. "Salman datang ke Mesir, menjanjikan miliaran dolar bantuan dan investasi. Sebagai balasan kedua pulau itu diserahkan," ujarnya. "Bagi banyak rakyat Mesir, presiden telah menjual tanah demi riyal Saudi."

Para pejabat Saudi dan Mesir meneken 15 kesepakatan senilai US$ 22 miliar untuk dana pembangunan di Semenanjung Sinai, investasi, dan buat memenuhi kebutuhan minyak Mesir selama lima tahun.

Kedua pulau itu, pernah menjadi batas wilayah antara Kesultanan Usmaniyah dan Mesir saat dikuasai Inggris, strategis karena lokasinya berada di jalur pelayaran menuju pelabuhan Aqabah di Yordania dan Eilat di Israel. Blokade Mesir atas Selat Tiran pada 1967 merupakan salah satu pemicu pecahnya Perang Enam Hari.

Israel mencaplok Tiran dan Sanafir setelah menang dalam Perang Enam Hari itu. Negara Zionis ini mengembalikan kedua pulau itu kepada Mesir setelah kedua negara meneken Perjanjian Camp David pada 1979.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Mesir Ahmad Abu Zaid menegaskan Kairo tidak pernah mengklaim kedaulatan terhadap kedua pulau itu.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adil al-Jubair mengatakan negaranya meminta Mesir masuk ke Tiran dan Sanafir. "Sejarah dan dokumen kedua negara tidak menunjukkan segala ketidaksepakatan soal identitas Saudi atas kedua pulau ini."       

Empat perempuan pamer bra untuk membubarkan ratusan demonstran Yahudi ultra-Ortodoks di Yerusalem, 18 Mei 2019. (Screenshot)

Demonstran Yahudi ultra-Ortodoks bubar karena dihadang perempuan pamer bra

Kaum Yahudi ultra-Ortodoks kerap memprotes pemasangan poster perempuan di tempat umum atau media dengan alasan haram.

Jamaah berkumpul di pelataran Masjid Al-Haram, Kota Makkah, Arab Saudi, sambil menunggu pembagian makanan berbuka puasa, Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Jamaah Qatar bisa pesan paket umrah setiba di Jeddah

Hubungan Saudi-Qatar memburuk sejak awal Juni 2017.

Iyad al-Baghdadi, aktivis prodemokrasi tinggal di Norwegia menjadi sasaran pembunuhan Arab Saudi. (Twitter)

Tiga teman Khashoggi terancam dibunuh oleh Arab Saudi

Ketiga orang ini adalah Iyad al-Baghdadi (tinggal di Norwegia), Umar Abdul Aziz (menetap di Kanada), dan satu orang belum diketahui identitasnya dan bermukim di Amerika.





comments powered by Disqus