kabar

ISIS dan dua wajah Saudi

Dalam laporan Juni 2013, Parlemen Eropa menilai paham Wahabi sebagai sumber utama terorisme global.

07 Juli 2016 11:25

Bom bunuh diri meledak Senin lalu di halaman parkir Masjid Nabawi di Kota Madinah, Arab Saudi, bukan hanya mengguncang kaum muslim sejagat. Serangan teror, diyakini didalangi oleh milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), ini juga telah mempermalukan negara Kabah itu.

Apalagi serangan bunuh diri itu terjadi di satu dari dua kota paling disucikan olah umat Islam selain Makkah, juga tidak jauh dari masjid paling disucikan selain Masjid Al-Haram di Kota Makkah dan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz langsung berkomitmen bakal menumpas jaringan teroris tanpa menyebut ISIS secara khusus. Mufti Mesir mengutuk insiden itu namun belum ada komentar dari Mufti Agung Arab Saudi Syekh Abdul Aziz bin Abdullah asy-Syekh.

Banyak pihak mempercayai Arab Saudi - dengan paham Wahabinya - berkontribusi terhadap lahirnya organisasi-organisasi teror seperti ISIS, Al-Qaidah, dan Taliban. Para ahli bilang negeri Dua Kota Suci memainkan dua strategi berisiko: menyokong kelompok-kelompok ekstremis di luar negeri karena alasan ideologi dan strategis, yakni buat memerangi pengaruh Iran, di lain pihak memberangus jaringan-jaringan teror di dalam negeri demi kelangsungan rezim Bani Saud.

Dalam sebuah memo 2009 dibocorkan oleh WikiLeaks, Hillary Clinton - kemudian menjadi menteri luar negeri Amerika Serikat - mengatakan Arab Saudi adalah sumber pendanaan utama bagi kelompok-kelompok militan, termasuk Al-Qaidah. Dia menambahkan Riyadh tidak berusaha untuk menyetop aliran dana ini.

Kebijakan ini terus berlanjut dalam perang di Suriah. Kaum Arab supertajir di kawasan Teluk memasok dana bagi kelompok-kelompok ekstremis antirezim Presiden Basyar al-Assad di awal-awal meletupnya pemberontakan, kerap disalurkan lewat perantara di Turki.

Negara-negara Arab Teluk, termasuk Arab Saudi, membiarkan aliran dana itu sampai kepada kelompok-kelompok militan Sunni, karena mereka memandang para milisi itu sebagai cara efektif menghadapi pengaruh Iran di kawasan.

Kini pendanaan dari negara-negara Arab Teluk memang tidak lagi menjadi isu sentral. Pasokan dana dari mereka sudah anjlok. Pada Maret 2015, kepala intelijen Amerika Serikat James Clapper menjelaskan sumber-sumber pendanaan luar negeri sudah kering. Donasi pribadi telah berkurang hingga tidak sampai satu persen dari total pendapatan ISIS.

Namun bukan hanya fulus soal keterkaitan antara Arab Saudi dan ISIS. Paham Wahabi - berdasarkan ajaran Muhammad bin Abdul Wahab - menjadi sebab utama. Saudi telah berpuluh-puluh tahun menyebarluaskan paham Wahabi yang kaku, militan, dan menolak keberagaman itu ke seluruh dunia. Arab Saudi mendanai pembangunan masjid dan madrasah sekaligus menyediakan imam dan kitab-kitabnya.

Dalam laporan Juni 2013, Parlemen Eropa menilai paham Wahabi sebagai sumber utama terorisme global. Menurut temuan mereka, Arab Saudi telah menghabiskan lebih dari US$ 10 juta untuk mempromosikan ideologi Wahabi lewat lembaga-lembaga amal di seluruh negara muslim.

Meski ajaran Wahabi soal interpretasi Islam tidak sama persis dengan ISIS, tapi banyak karakteristik mirip. Para pemimpin ISIS mendasarkan pandangan Islam mereka pada ajaran dari Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri paham Wahabi). ISIS juga memusuhi Syiah dan kelompok-kelompok agam lainnya karena kakunya memahami ajaran Islam. Juga banyak orang menyamakan hukuman pancung berlaku di Saudi dengan praktek serupa dilakoni ISIS.   

Ketika pasukan Irak akhir bulan lalu mengusir ISIS dari Kota Fallujah, mereka menemukan para jihadis ISIS mengajarkan sebuah buku karya Muhammad bin Abdul Wahab. Sejumlah warga Saudi bergabung dengan ISIS dan membunuh kerabat mereka, juga terinspirasi oleh ajaran Ibnu Taimiyyah, ulama dipuja di Saudi, dan mengajarkan boleh membunuh keluarga dianggap sesat.

Alhasil, memerangi ISIS buat Saudi menjadi dilematis. Arab Saudi menganggap ISIS sebagai milisi paling kuat saat ini buat menghadapi pengaruh Iran. Kalau pun Riyadh berupaya menumpas, mereka bakal ditekan ulama-ulama Wahabi selama ini melegitimasi rezim Bani Saud sejak kelahiran Arab Saudi.

Uskup Ava Morkos memimpin misa Kristen Koptik pertama di Arab Saudi pada 2 Desember 2018. (Twitter/DrMahmoudRefaat)

Menanti salib tegak di negara Kabah

Raja Abdullah pernah bertemu Paus Benediktus XVI dalam kunjungan ke Vatikan pada 2007.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Raja Salman dikabarkan sakit parah

Pangeran Ahmad mendapat sokongan dari para pangeran senior untuk menjadi raja Arab Saudi berikutnya.

Putera Mahkota Abu Dhabi Syekh Muhammad bin Zayid an-Nahyan saat mengunjungi pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus pada September 2016. (Twitter/MohamedBinZayed)

Paus Fransiskus akan kunjungi UEA pada Februari 2019

UEA bakal menjadi negara muslim ketujuh didatangi Paus Fransiskus.

Jamal Khashoggi, pengkritik pemerintah Arab Saudi. (Twitter)

Para senator senior Amerika yakin anak Raja Salman perintahkan habisi Khashoggi

"Kalau disidangkan, juri bisa memutuskan Bin Salman bersalah dalam 30 menit," tutur Bob Corker.





comments powered by Disqus