kabar

Abu Sayyaf sengaja sasar warga negara Indonesia

Empat bulan terakhir, Abu Sayyaf empat kali menculik warga Indonesia.

11 Juli 2016 19:08

Abu Sayyaf, milisi beroperasi di Filipina Selatan, kembali menyandera warga negara Indonesia. Insiden terakhir Sabtu pekan lalu dan ini merupakan penyanderaan keempat dalam empat bulan belakangan.

Kelompok bersenjata Isnilon Totoni Hapilon itu pertama kali menyandera warga Indonesia April lalu, yakni sepuluh orang menjadi anak buah kapal. Berlanjut terhadap empat lainnya pada Mei, lalu tujuh orang bulan lalu.

Usai rapat koordinasi siang hari ini di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di Jakarta, Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo menilai Abu Sayyaf sengaja menyasar warga negara Indonesia untuk dijadikan sandera.

"Mungkin kita terlalu persuasif, bisa jadi seperti itu. Mungkin alasan ekonomi atau alasan politik lainnya, harus kita analisa dengan benar," katanya. "Tapi yang jelas ini tanggung jawab Malaysia karena kapalnya berbendera Malaysia, beroperasi di wilayah Malaysia, dan tenaga kerja kita dengan membawa paspor legal di sana."

Dia menambahkan pihaknya menyiapkan semua kemungkinan akan diminta oleh pemerintah Filipina atau Malaysia dalam proses pembebasan sandera dan mengamankan jalur pelayaran itu.        

Di hari sama, dalam jumpa pers di kantornya di Jakarta, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan pada 9 Juli lalu sekitar pukul 23.30 waktu setempat, terjadi perompakan atas kapal pukat penangkap ikan LLD113/5/F berbendera Malaysia di perairan sekitar Felda Sahabat, Lahad Datu, Malaysia. Pemilik kapal baru melaporkan kejadian ini kemarin kepada Kepolisian Lahad Datu.

Dari informasi diterima, menurut Retno, kapal ikan itu disergap oleh satu perahu cepat berpenumpang lima lelaki bersenjata api. "Dari tujuh ABK kapal ikan itu, tiga diculik dan empat dibebaskan," katanya. "ABK diculik seluruhnya warga negara Indonesia. Penculik membawa sandera ke arah perairan Tawi-tawi, Filipina Selatan."

Dia mengatakan Kepolisian Lahad Datu membenarkan ketiga sandera adalah warga negara Indonesia dan memiliki izin kerja resmi di Malaysia. Pihak penculik kemarin sudah menghubungi pemilik kapal melalui sandera.

Soal tujuh warga negara Indonesia disekap Abu Sayyaf sejak bulan lalu, Retno bilang pemerintah telah berkomunikasi dengan mereka melalui telepon. "Ketujuh ABK (anak buah kapal) walau terdengar lelah mereka masih dalam kondisi baik," katanya. "Para sandera masih terus berpindah-pindah dalam dua kelompok dan diperkirakan mereka selalu berada di sekitar Pulau Sulu."

Retno menambahkan menambahkan dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Rivas Yasay Jumat dua pekan lalu di Ibu Kota Manila, dirinya juga menyampaikan surat Presiden Joko Widodo kepada Presiden baru Filipina Rodrigo Duterte. "Secara khusus dalam suratnya, presiden meminta perhatian khusus terhadap masalah penyanderaan warga negara Indonesia," ujarnya.

Presiden Joko Widodo menyampaikan kembali hal serupa saat berbicara langsung lewat telepon dengan Presiden Duterte Kamis pekan lalu.

"Kita minta agar pemerintah Filipina dan Malaysia berupaya keras menjaga wilayah darat dan perairan mereka," tutur Retno. "Khusus kepada pemerintah Filipina, kita akan meminta upaya keras pemerintah Filipina agar segera dapat membebaskan sandera kita. Keselamatan sandera merupakan prioritas bagi kita."

Dalam wawancara khusus dengan Albalad.co setelah penyanderaan pertama April lalu, ketua juru runding MILF (Barisan Pembebasan Islam Moro) Mohagher Iqbal bilang Abu Sayyaf menculik warga negara asing untuk menuntut uang tebusan. "Abu Sayyaf secara praktis telah kehilangan nilai-nilai ideologisnya, apa yang telah dan sekarang mereka lakukan demi uang tebusan," ujarnya.

Sempat pula beredar kabar, pembebasan 14 warga Indonesia dari sekapan Abu Sayyaf sebelumnya terwujud setelah uang tebusan dibayar. Namun Retno membantah keras hal itu. "Sekali lagi saya ingin tekankan, pemerintah tidak mendukung adanya kebijakan membayar uang tebusan."

Abu Sayyaf merupakan sempalan dari kubu MILF (Barisan Pembebasan Islam Moro). Kelompok ini dibuat oleh Abdurrazak Abu Bakar Janjalani. Pada 23 Juli 2014, pemimpin Abu Sayyaf Isnilon Totoni Hapilon berbaiat kepada pemimpin ISIS (Negara islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi. Dua bulan kemudian, milisi ini mulai menculik warga asing demi menuntut uang tebusan.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Letnan Jenderal Gadi Eizenkot. (mfa.gov.il)

Panglima angkatan bersenjata Israel kunjungi UEA

"Saat ini, Arab Saudi adalah sekutu terdekat Israel dalam semua isu regional dan internasional," kata Friedman.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berpose bersama enam warga Indonesia pernah disandera di Kota Benghazi, Libya, dan keluarga mereka seusai acara serah terima di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, 2 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Indonesia bebaskan enam warganya disandera di Benghazi

Mereka ditawan selama tujuh bulan.

Keharuan menyelimuti proses penyerahan empat mantan sandera Indonesia di Somalia oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di kantornya, 31 Oktober 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Empat mantan sandera di Somalia diserahkan kepada keluarga

Keempat pelaut Indonesia ini termasuk dalam 26 sandera dibebaskan oleh perompak Somalia pada 22 Oktober lalu.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada 24 Oktober 2016 memberikan jumpa pers soal pembebasan 26 sandera oleh perompak Somalia, termasuk empat pelaut Indonesia. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Satu pelaut Indonesia meninggal saat disandera perompak Somalia

Pemerintah membantah membayar uang tebusan untuk membebaskan empat pelaut itu.





comments powered by Disqus