kabar

Ketika musuh selamatkan Erdogan

Melalui Twitter, sering kali dia blokir, Erdogan menulis, "Saya menyerukan kepada seluruh rakyat untuk turun ke semua bandar udara dan alun-alun untuk mengambil alih lagi demokrasi dan keinginan bangsa kita."

17 Juli 2016 08:54

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dikenal memusuhi media sosial saban kali krisis dan ketidakstabilan politik mengahntam Turki. Twitter dan Facebook kerap menjadi korban.

Tapi ketika upaya kudeta meletup Jumat malam lalu waktu setempat atau kemarin dini hari waktu Jakarta, kekuasaan pemimpin dari AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan) itu justru diselamatkan oleh media sosial, salah satu musuh bebuyutannya selama ini.

Media sosial memang menjadi salah satu sarana bagi kaum oposisi di Turki untuk mengkritik dan mengecam kebijakan Erdogan, termasuk saat dia membangun Istana Putih seharga Rp 4,2 triliun.

Saat ratusan tentara menguasai kantor-kantor pemerintah, termasuk TRT (Turkish Radio and Television), menutup jembatan melintasi Selat Bosphorus, dan mengepung gedung parlemen, Erdogan seolah kehilangan saluran buat menenangkan pendukungnya dan mengabarkan kepada dunia tentang usaha menggulingkan dia dari kekuasaan.

Dia akhirnya berpidato secara nasional lewat aplikasi telepon video Face Time, juga media sosial selama ini dia musuhi karena juga dipakai kelompok pembangkang. Lewat Face Time, dari sebuah kamar hotel di Marmaris, dekat kawasan wisata eksklusif Bodrum di tepi Laut Aegea, dia mengumumkan dirinya masih berkuasa dan meminta rakyat turun ke jalan untuk memprotes kudeta dilakukan sekelompok kecil tentara.

Melalui Twitter, sering kali dia blokir, Erdogan menulis, "Saya menyerukan kepada seluruh rakyat untuk turun ke semua bandar udara dan alun-alun untuk mengambil alih lagi demokrasi dan keinginan bangsa kita."

Lewat Twitter pula, Erdogan meneruskan kembali cuitan dari akun Twitter milik Perdana Menteri Turki Benali Yildrim dan akun resmi kantor kepresidenan yang mengecam upaya kudeta itu.

Seruan Erdogan melalui Face Time dan Twitter berhasil menggerakkan jutaan penyokongnya ke jalanan. Dalam lima jam, pasukan pemerintah berhasil menggagalkan usaha kudeta.

Perdana Menteri Yildrim kemarin mengumumkan usaha pendongkelan rezim Erdogan, berkuasa sejak 2003, menewaskan 205 orang, termasuk tentara pelaku kudeta, dan melukai 1.440 orang lainnya. Sebanyak 29 kolonel dan lima jenderal perencana kudeta diberhentikan dan 2.839 serdadu ditahan.

Kenyataan ini tentunya memalukan bagi Erdogan. Media sosial selama ini dia musuhi telah menyelamatkan kekuasaannya.

Fethullah Gulen dan Recep Tayyip Erdogan semasa masih bersahabat. (Daily Mail)

Turki secara resmi minta Amerika tangkap Gulen

"Tapi kami perlu memenuhi persyaratan hukum sesuai aturan berlaku di negara kami," kata Biden.

Suasana di Turki setelah militer mengambil alih negara itu lewat kudeta. (Juli 2016)

Turki akan bebaskan 38 ribu tahanan karena penjara kelebihan penghuni setelah kudeta

Keputusan itu berlaku bagi pelaku kejahatan sebelum 1 Juli 2016.

Sekitar 40 ribu warga Jerman berdarah Turki berunjuk rasa mendukung Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Kota Cologne, Jerman, 31 Agustus 2016. (Breit Bart)

Jerman larang siarkan pidato Erdogan

Hubungan kedua negara memang memburuk setelah Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan keprihatinan mendalam atas bersih-bersih ala Erdogan.

Hainler Mezarligi atau Pemakaman Pengkhianat, kompleks kuburan khusus bagi mayat-mayat pelaku kudeta 15 Juli, dibangun di Kota Istanbul, Turki. (Gazate Port)

Turki cabut paspor milik 50 ribu orang diduga terkait gerakan Gulen

Sebanyak 1.700 perwira tinggi sudah dipecat dengan tidak hormat dan 99 kolonel setia kepada Erdogan dipromosikan menjadi jenderal.





comments powered by Disqus