kabar

Turki keluarkan surat perintah penangkapan terhadap 42 wartawan

Diyakini salah satunya adalah jurnalis menulis cerita penyelundupan senjata oleh badan intelijen Turki ke Suriah.

25 Juli 2016 23:55

Pemerintah Turki hari ini mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap 42 wartawan sebagai bagian dari penyelidikan atas para perencana kudeta.

Ribuan tentara, polisi, hakim, jaksa, dan pegawai negeri sudah ditahan atau ditangkap karena diduga terlibat kudeta gagal 15 Juli lalu. Presiden Recep Tayyip Erdogan menuding Fethullah Gulen, ulama Turki tinggal di Amerika Serikat, sebagai dalang dalam upaya menggulingkan dirinya.

Erol Onderoglu, perwakilan Reporters without Borders di Turki, menegaskan keluarnya surat perintah penangkapan buat 42 jurnalis itu tidak bisa dibenarkan. Dia bilang Turki mestinya menghormati kebebasan berekspresi sebagai salah satu prinsip berdemokrasi.

"Tidak mungkin menemukan seorang wartawan terlibat dalam suatu upaya serius dengan jaringan Gulen atau terkait kudeta dengan menggunakan cara-cara semacam itu," katanya. Lima wartawan dikabarkan telah ditahan untuk diinterogasi.

Salah satu wartawan diyakini menjadi sasaran penangkapan adalah Fatih Yagmur, jurnalis investigasi dari surat kabar Radikal, tidak terbit lagi, pada 2014 karena ada tekanan sangat intensif dari pemerintah.

Radikal telah mempublikasikan laporan Yagmur mengenai truk-truk milik badan intelijen Turki mengririm persenjataan ke Suriah lewat Turki tanpa sepengetahuan parlemen Turki, kisah menjadikan Yagmur terpilih sebagai peraih penghargaan Jurnalisme Investigatif Uni Eropa 2015.   

Dihubungi the Guardian lewat telepon selulernya, Yagmur mengaku telah meninggalkan Turki sehabis kudeta gagal Jumat pekan lalu lantaran menerima beragam ancaman pemerkosaan dan pembunuhan melalui media sosial. Ancaman serupa dia terima setelah cerita penyelundupan senjata ke Suriah diterbitkan.

"Saya takut nyawa saya terancam, saya tidak merasa aman di Turki," ujarnya. "Saya tidak mau kembali sebelum keadaan darurat dicabut."

Yagmur bilang dia sempat ditahan di perbatasan karena dia disangka akan diadili atas kasus penghinaan kepada Erdogan. Dia mendekam dalam sebuah sel bareng 40 tentara dan semuanya luka karena siksaan.

"Mereka tidak dibolehkan ke toilet. Benar-benar mengerikan," tutur Yagmur. "Karena saya melihat hal ini, saya merasa tidak aman. Saya telah menyaksikan penyiksaan."

Dia menambahkan di masa lalu dirinya juga mendapat tekanan dari para wartawan dan jaksa berafiliasi dengan gerakan Gulen. Dia dituding menjadi pendukung PKK (Partai Buruh Kurdistan) sebab menulis isu soal Kurdi.

Wartawan tersohor lainnya dan mantan anggota parlemen dari AKP (Partai Keadilan dan Pembangunan), Nazli Ilicak, juga dipercaya masuk dalam daftar surat perintah penangkapan. Dia dipecat dari Sabah, surat kabar propemerintah, pada 2013 setelah secara terbuka mengkritik menteri-menteri terlibat sebuah skandal korupsi besar.

Seorang pejabat di kantor Erdogan mengungkapkan para jaksa ingin 42 wartawan itu ditahan lantaran terkait kudeta bukan karena kegiatan jurnalistik mereka.

Setelah kudeta gagal dua pekan lalu itu, rezim Erdogan juga sudah menutup sejumlah situs berita rajin mengkritik pemerintah dan menarik 34 kartu pers dikeluarkan penguasa. Lebih dari 300 pekerja di TRT diberhentikan pekan lalu, termasuk pejabat Persatuan Buruh Media Kesk Haber Sen.

"Wartawan dipilih sebagai kambing hitam karena mereka sasaran gampang," kata Erol Onderoglu. "Mereka telah mulai menjadi target dari kampanye mematikan media di Turki."  

Fethullah Gulen dan Recep Tayyip Erdogan semasa masih bersahabat. (Daily Mail)

Turki secara resmi minta Amerika tangkap Gulen

"Tapi kami perlu memenuhi persyaratan hukum sesuai aturan berlaku di negara kami," kata Biden.

Suasana di Turki setelah militer mengambil alih negara itu lewat kudeta. (Juli 2016)

Turki akan bebaskan 38 ribu tahanan karena penjara kelebihan penghuni setelah kudeta

Keputusan itu berlaku bagi pelaku kejahatan sebelum 1 Juli 2016.

Sekitar 40 ribu warga Jerman berdarah Turki berunjuk rasa mendukung Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Kota Cologne, Jerman, 31 Agustus 2016. (Breit Bart)

Jerman larang siarkan pidato Erdogan

Hubungan kedua negara memang memburuk setelah Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan keprihatinan mendalam atas bersih-bersih ala Erdogan.

Hainler Mezarligi atau Pemakaman Pengkhianat, kompleks kuburan khusus bagi mayat-mayat pelaku kudeta 15 Juli, dibangun di Kota Istanbul, Turki. (Gazate Port)

Turki cabut paspor milik 50 ribu orang diduga terkait gerakan Gulen

Sebanyak 1.700 perwira tinggi sudah dipecat dengan tidak hormat dan 99 kolonel setia kepada Erdogan dipromosikan menjadi jenderal.





comments powered by Disqus