kabar

Diduga terlibat gerakan Gulen, sudah tiga mahasiswa Indonesia ditahan di Turki

Terbaru, penangkapan atas dua mahasiswi Indonesia berinisial YM dan DY.

18 Agustus 2016 23:15

Pemerintah Turki telah menahan tiga mahasiswa Indonesia diduga terkait dengan gerakan Gulen. Setelah Handika Lintang Saputra, ditangkap sejak Juni lalu, aparat keamanan Turki kembali membekuk dua mahasiswi asal Indonesia.

"Iya ada dua lagi ditahan di Kota Dara. KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Ankara sudah berusaha bertemu dengan kedua mahasiswi itu," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir kepada wartawan di kantornya hari ini. "Sampai saat ini masih dalam tahap investigasi. KBRI sudah menyiapkan pengacara untuk memberi bantuan hukum."

Dara, kota di tenggara Turki, terkenal dengan bangunan-bangunan peninggalan zaman Romawi.

Arrmanatha membenarkan kedua mahasiswi berinisial YM dan DY memang mendapat beasiswa dari PASIAD, lembaga berafiliasi dengan Gulen. Namun keterlibatan kedua mahasiswa itu masih diselidiki. Dia tidak menyebutkan kapan YM dan DY ditangkap.

PASIAD adalah sebuah lembaga bentukan para pengusaha Turki pada 1995, bertujuan memajukan pendidikan. PASIAD di Indonesia ditutup pada 1 November 2015 karena dituding terkait gerakan Gulen.

Gerakan Gulen atau Hizmet adalah bentukan Fethullah Gulen, ulama senior Turki menetap di Amerika Serikat sejak 1999. Rezim Presiden Recep Tayyip Erdogan mulai memberangus kelompok Gulen setelah skandal korupsi melibatkan putranya terbongkar pada Desember 2013. Gulen juga dituduh sebagai otak dari kudeta gagal 15 Juli lalu.

Arrmanatha menjelaskan pihak KBRI Ankara masih terus mendesak agar proses hukum terhadap Handika disegerakan. Mahasiswa semester ketujuh di Universitas Gaziantep itu sudah ditahan di kantor kepolisian Gaziantep sejak 3 Juni lalu.   

Setelah penangkapan dua mahasiswi Indonesia, Arrmanatha bilang Kementerian Luar Negeri sudah memanggil kuasa usaha Turki di Jakarta. "Kami menyampaikan keprihatinan terhadap penangkapan para pelajar Indonesia di Turki," ujarnya.

Seorang pengurus Oase (Organisasi Alumni Semesta) menolak ditulis namanya mengungkapkan Handika ditahan tanpa tuduhan jelas. Dia menambahkan pihaknya mendapat kabar kemarin pengacaranya Handika sudah tidak lagi mendampingi kliennya karena takut. "Kami sangat sulit mencari informasi. Pihak KBRI saja baru dua kali bertemu Handika," tuturnya kepada Albalad.co hari ini.

Dia menjelaskan Oase adalah lembaga menaungi pelajar dan mahasiswa Indonesia penerima beasiswa dari Turki. Organisasi dibentuk tiga tahun lalu ini beranggotakan 780, termasuk 65 warga negara Indonesia tengah kuliah di Turki.

Dihubungi terpisah, seorang pengurus Oase khusus perempuan membenarkan soal penangkapan YM dan DY. Meski tahu identitas asli keduanya, dia menolak memberitahu nama kedua mahasiswi Indonesia bernasib nahas ini.

Kutbettin Gulen, adik kandung Fethullah Gulen, ditangkap polisi Turki di Kota Gaziemir, Provinsi Izmir, Turki, pada 2 Oktober 2016. (Twitter)

Turki tahan adik Gulen

Kutbettin Gulen adalah saudara kandung pertama Gulen ditahan sejak kudeta gagal 15 Juli lalu.

Fethullah Gulen dan Recep Tayyip Erdogan semasa masih bersahabat. (Daily Mail)

Turki secara resmi minta Amerika tangkap Gulen

"Tapi kami perlu memenuhi persyaratan hukum sesuai aturan berlaku di negara kami," kata Biden.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato lewat aplikasi telepon video Face Time menyerukan kepada seluruh pendukungnya untuk turun ke jalan menentang usaha kudeta pada 16 Juli 2016. Face Time termasuk media sosial sering kali diblokir oleh Erdogan. (Screen Grab)

Geliat Gulen di Indonesia

Yayasan Pasiad di Indonesia ditutup karena tidak mendapat rekomendasi dari Kedutaan Beesar Turki. "Apa mungkin mereka bakal memberi rekomendasi?"

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat memberikan sambutan dalam acara penandatanganan nota kesepahaman soal pembentukan Koalisi Antiperdagangan Orang di kantornya, 23 Agustus 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pemerintah cemaskan mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Pasiad di Turki

Pasiad sudah meminta semua mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Pasiad untuk meninggalkan Turki karena alasan keamanan.





comments powered by Disqus