kabar

Pemerintah cemaskan mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Pasiad di Turki

Pasiad sudah meminta semua mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Pasiad untuk meninggalkan Turki karena alasan keamanan.

23 Agustus 2016 21:24

Pemerintah Indonesia mencemaskan kelanjutan studi dari semua mahasiswa Indonesia penerima beasiswa dari Pasiad tengah belajar di Turki.

Dari hasil dialog lewat konferensi video, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mendapat penjelasan dari Duta Besar Indonesia untuk Turki Wardana, pihak KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Ibu Kota Ankara terus memperhatikan kondisi mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Pasiad dan terus menjalin komunikasi.

Retno menambahkan pihak KBRI juga sudah menyarankan seluruh mahasiswa Indonesia untuk meninggalkan tempat-tempat terkait gerakan Gulen, kini sedang diberantas pemerintah Turki.

"Kita tidak ikut mencampuri politik dalam negeri Turki, tapi menjadi perhatian kita adalah perlindungan terhadap warga negara Indonesia," kata Retno kepada wartawan di kantornya hari ini. "Kita harus memetakan anak-anak ini kelanjutan seklahnya seperti apa? Karena sudah jelas beasiswa dari pasiad sudah tidak akan ada lagi."

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuding Fethullah Gulen, ulama senior Turki tinggal di Amerika Serikat sejak 1999, seagai otak upaya menumbangkan rezim Erdogan. Sejak kudeta gagal 15 Juli lalu, rezim Erdogan melakukan pembersihan besar-besaran terhadap semua institusi negara dari semua pengikut Gulen. lebih 35 ribu orang ditahan dan 70 ribu pegawai negeri diberhentikan.  

Tiga mahasiswa Indonesia pun menjadi korban penangkapan, yakni Handika Lintang Saputra, Dwi Puspita Ari Wijayanti, 21 tahun, asal Demak, Jawa Tengah, dan satu temannya berinisial YU dari Aceh. Mereka diduga terlibat gerakan Gulen.  

Retno menjelaskan saat ini terdapat 738 mahasiswa Indonesia di Turki. Dari jumlah ini, yang mendapatkan beasiswa Pasiad 248 orang, empat di antaranya adalah penerima beasiswa S-2 dan sisanya penerima beasiswa S-1.

Sebanyak 248 mahasiswa penerima beasiswa Pasiad itu tersebar di 20 kota di Turki. Paling banyak di Kota Istanbul dan sekitarnya (62 orang), Ankara (59 orang), dan Kayseri (27 orang). Mereka berasal dari 16 provinsi, paling besar dari Jawa Barat, Aceh, dan Jawa Tengah. "Saya harus mulai juga berbicara dengan pemerintah daerah setempat mengenai kelangsungan pendidikan mereka di sana," ujar Retno.

Soal imbauan agar seluruh mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Pasiad meninggal Turki, Retno mengaku pemerintah tidak bisa memaksa. Keputusan ada di tangan orang tua dan masing-masing mahasiswa.

Dalam keterangan tertulis diterima Albalad.co Jumat pekan lalu, Yayasan Pasiad meminta seluruh masiswa Indonesia penerima beasiswa dari pihaknya untuk meninggalkan Turki. Mereka diimbau melanjutkan kembali pendidikan di Indonesia.

Pasiad adalah lembaga sosial bergerak di bidang pendidikan. Pemerintah Turki menuding Pasiad - dibentuk pada 1995 - terkait dengan Fethullah Gulen.

Pasiad menyampaikan imbauan itu terkait masalah keamanan. Yayasan ini menyebutkan bahkan KBRI di Ankara tidak bisa menjamin keamanan para penerima beasiswa Pasiad. "Keamanan di sini dalam arti tidak memiliki daya dan upaya melindungi penerima beasiswa dari penangkapan dan pengeluaran dari tahanan," kata Pasiad.

Meski begitu, Pasiad tidak bisa memaksa bila ada warga negara Indonesia ingin tetap melanjutkan kuliah di Turki. Dengan syarat masalah keuangan dan keamanan ditanggung sendiri.

Sebab, menurut Pasiad, pihaknya tidak mampu lagi memberikan dukungan dana. "Sebanyak 90 persen dari donatur pemberi beasiswa saat ini mendekam dalam penjara.," ujar Pasiad. Mereka menambahkan siapa saja tidak sejalan dengan pemerintah hanya memiliki dua pilihan: meninggalkan Turki atau menunggu giliran masuk ke dalam penjara.

Imbauan Pasiad ini keluar setelah tiga mahasiswa Indonesia penerima beasiswa dari Pasiad ditahan aparat keamanan Turki.

Pasiad menegaskan kebijakan ini diambil demi keselamatan semua penerima beasiswa. "Keselamatan dan keamanan jauh lebih penting dari studi kalian di Turki dan hal ini perlu dimusyawarahkan secara serius dengan orang tua kalian."

Yayasan Pasiad di Indonesia sudah ditutup sejak 1 November 2015 atas permintaan pemerintah Turki.

Kutbettin Gulen, adik kandung Fethullah Gulen, ditangkap polisi Turki di Kota Gaziemir, Provinsi Izmir, Turki, pada 2 Oktober 2016. (Twitter)

Turki tahan adik Gulen

Kutbettin Gulen adalah saudara kandung pertama Gulen ditahan sejak kudeta gagal 15 Juli lalu.

Fethullah Gulen dan Recep Tayyip Erdogan semasa masih bersahabat. (Daily Mail)

Turki secara resmi minta Amerika tangkap Gulen

"Tapi kami perlu memenuhi persyaratan hukum sesuai aturan berlaku di negara kami," kata Biden.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berbincang dengan seorang anggota Komisi I Bidang pertahanan dan Luar Negeri Dewan Perwakilan Rakyat di gedung parlemen, Jakarta, 31 Agustus 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Turki tahan lagi satu mahasiswa Indonesia

Penangkapan ini terjadi sehari setelah dua mahasiswi Indonesia ditahan di Kota Bursa dibebaskan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato lewat aplikasi telepon video Face Time menyerukan kepada seluruh pendukungnya untuk turun ke jalan menentang usaha kudeta pada 16 Juli 2016. Face Time termasuk media sosial sering kali diblokir oleh Erdogan. (Screen Grab)

Geliat Gulen di Indonesia

Yayasan Pasiad di Indonesia ditutup karena tidak mendapat rekomendasi dari Kedutaan Beesar Turki. "Apa mungkin mereka bakal memberi rekomendasi?"





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Iran tangkap 114 warganya karena murtad

Iran memang membebaskan warganyan beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing, tapi orang Islam murtad adalah sebuah kejahatan. Hukumannya penjara lebih dari sepuluh tahun.

12 Desember 2018

TERSOHOR