kabar

Kongres Amerika sahkan beleid membolehkan keluarga korban 11/9 gugat Arab Saudi

Obama mengancam memveto karena takut hubungan baik dengan Saudi rusak. Dia juga cemas negara lain bakal melakoni hal serupa terhadap Amerika.

10 September 2016 14:33

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat kemarin mengesahkan rancangan undang-undang membolehkan keluarga korban tewas dalam serangan 11 September 2001 menggugat Arab Saudi, atas segala peran negara Kabah itu dalam merencanakan, mendanai, dan melaksanakan teror itu.

Pengesahan oleh DPR Amerika ini terjadi empat bulan setelah Senat juga menyetujui rancangan beleid bernama JASTA (Undang-undang Keadilan bagi Sponsor Terorisme) itu.

JASTA ini sekaligus membatalkan sebuah undang-undang disahkan pada 1976, memberikan kekebalan hukum bagi negara lain dari gugatan Amerika. JASTA mengizinkan negara lain digugat di pengadilan federal Amerika bila mereka terbukti berperan dalam serangan teroris membunuh warga negara Amerika di dalam negeri. Beleid ini juga memberikan hak bagi warga Amerika untuk mengajukan uang kompensasi terhadap para pendana serangan teror.

Para penolak JASTA bilang pengesahan beleid itu oleh Kongres bisa memperburuk hubungan Amerika dan Arab Saudi. Kedua negara selama ini dikenal sebagai sekutu dekat dalam memerangi terorisme. Saudi merupakan pemasok utama minyak bagi Amerika, sebaliknya Amerika merupakan eksportir persenjataan terbesar untuk Saudi.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adil al-Jubair April lalu memperingatkan bila rancangan undang-undang itu disetujui Kongres, negaranya akan menarik semua investasi Saudi di Amerika, berjumlah sekitar US$ 750 miliar.

Namun Ted Poe, anggota Kongres dari Partai Republik, mengatakan pemerintah Amerika mestinya lebih perhatian pada keluarga korban tewas akibat Teror 11/9 ketimbang hubungan baik dengan Arab Saudi.

Barack Obama kemarin mengancam memveto undang-undang itu. Dia beralasan negara lain bisa melakukan hal serupa terhadap warga atau pejabat Amerika.

"(JASTA) ini lebih penting ketimbang berkampanye," kata Terry Strada, suaminya tewas dalam Teror 11/9 membunuh sekitar tiga ribu orang. Dia adalah ketua organisasi keluarga korban untuk mengajukan gugatan hukum terhadap Arab Saudi.

Kepada surat kabar the Washington Post, Terry bilang, "Anda bisa berkampanye nanti, tapi Anda tidak akan pernah punya kesempatan buat mengesahkan beleid ini lagi. Ini adalah prioritas."    

Sejumlah pejabat Arab Saudi diduga terlibat dalam merencanakan dan mendanai Teror 11/9, seperti tercantum dalam 28 halaman laporan Kongres Amerika dirilis baru-baru ini. Selain itu, 15 dari 19 pembajak pesawat dalam serangan merobohkan menara kembar World Trade Center di Kota New York itu merupakan warga negara Saudi.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkomunikasi dengan Muhammad Saud, narablog Arab Saudi, melalui aplikasi telepon video Facetime pada 26 Desember 2019. (Screengrab)

Sudan dan Israel sepakat berdamai

"Negara Israel dan Republik Sudan telah setuju untuk berdamai," kata Trump.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bin Salman: Saya bisa dibunuh kalau berbaikan dengan Israel

Ketakutan itu dia sampaikan kepada Haim Saban, konglomerat Yahudi berkewarganegaraan Israel dan Amerika, ketika keduanya bertemu.

Putera Mahkota Abu Dhabi Syekh Muhamnad bin Zayid an-Nahyan menerima kunjungan Presiden Joko Widodo di Istana Qasr al-Watan di Ibu Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 12 Januari 2020. (Biro Pers Sekretariat Presiden)

UEA akan bangun Masjid Jokowi dan gedung KBRI

Masjid di Abu Dhabi akan diberi nama Masjid Presiden Joko Widodo, sedangkan Masjid di Solo bakal dinamai Masjid Syekh Muhammad bin Zayid.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, anak pengungsi Suriah tinggal bersama orang tuanya di sebuah kamp di Distrik Zajla, Lembah Bekaa, Libanon. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Ledakan bom pinggir jalan tewaskan mufti Damaskus

Syekh Adnan adalah ulama senior Suriah berperan penting dalam perundingan antara pemerintah dengan kubu pemberontak. 





comments powered by Disqus