kabar

Kongres Amerika batalkan veto Obama atas beleid 11/9

Alhasil, keluarga korban bisa menggugat pemerintah Arab Saudi diyakini terlibat dalam serangan 11 September 2001.

29 September 2016 16:04

Presiden Amerika Serikat Barack Obama menerima pukulan telak setelah Kongres kemarin menolak vetonya atas sebuah undang-undang mengizinkan keluarga korban Teror 11/9 menuntut pemerintah Arab Saudi secara hukum.

Ini merupakan penolakan pertama terhadap veto Obama selama menjabat presiden. Sekretaris Pers Gedung Putih Josh Earnest bilang keputusan Kongres Amerika - terdiri dari DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dan Senat - itu sebuah tindakan paling memalukan.

DPR menolak veto Obama ini dengan perbandingan suara 348-77, beberapa jam setelah Senat melakoni hal serupa dengan hasil voting 97-1. Dengan penolakan Kongres itu, Undang-undang bernama Justice Against Sponsors of Terrorism Act (JASTA) mulai berlaku.  

Barack Obama menilai Kongres telah membikin kesalahan. Dia mengulangi keyakinannya JASTA merupakan preseden berbahaya. Dia melihat keputusan Kongres ini atas pertimbangan politik.

"Jika kita menghapus kekebalan hukum negara lain, maka warga negara kita berseragam (militer dan sipil) bisa mendapat perlakuan serupa," kata Obama merujuk pada gugatan hukum.  

Akta itu membolehkan pengadilan mencabut kekebalan hukum atas pemerintahan asing diduga terlibat dalam serangan teroris terjadi di wilayah Amerika. Arab Saudi menolak keras JASTA dan membantah terlibat dalam Teror 11/9. Namun 15 dari 19 pembajak pesawat adalah warga negara Saudi.

Rancangan undang-undang tersebut disahkan Senat Mei lalu dan lolos di DPR bulan ini. Obama memveto rancangan beleid itu Jumat pekan lalu.

Rancangan beleid ini diajukan kembali tahun lalu oleh Senator John Cornyn dari Negara Bagian Texas dan Senator Chuck Schumer dari Negara Bagian New York.

Cornyn menyebut bersatunya anggota Kongres dari partai Demokrat dan Republik di DPR serta Senat dalam menyokong JASTA seperti sebuah keajaiban. Dia menolak alasan Obama akta ini bakal menimbulkan persoalan bagi Amerika. "Yang benar adalah JASTA hanya menyasar pemerintah-pemerintah asing mensponsori serangan teroris di wilayah Amerika."

"Gedung Putih dan para eksekutifnya lebih peduli pada masalah diplomatik," ujar Schumer. "Kami lebih mementingkan keluarga (korban Teror 11/9) dan keadilan."

Hamzah Yahya Kusyak, insinyur perancang sumur Zamzam, wafat dalam umur 80 tahun pada 2 Maret 2021. (Arab News/Supplied)

Insinyur perancang sumur Zamzam wafat

Yahya dilahirkan di Makkah pada 1941. Ayahnya pedagang sekaligus bekerja sebagai mutawif bagi jamaah umrah.

Sebanyak 60 mahasiswa Indonesia tengah belajar pertanian di Israel pada 2 Maret 2021 telah mendapat suntikan dosis kedua vaksin Covid-19. (Albalad.co)

60 mahasiswa Indonesia di Israel telah disuntik dosis kedua vaksin Covid-19

Diperkirakan 75 persen dari sekitar sembilan juta penduduk Israel sudah divaksinasi Covid-19 akhir bulan ini.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkomunikasi dengan Muhammad Saud, narablog Arab Saudi, melalui aplikasi telepon video Facetime pada 26 Desember 2019. (Screengrab)

Biden siap wujudkan hubungan diplomatik Saudi dan Israel

Pada November tahun lalu, Netanyahu terbang ke Kota Neom, Arab Saudi, dan mengadakan pertemuan dengan Bin Salman. Itu menjadi pertemuan ketiga mereka.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Saudi Gazette)

Bin Salman dan dilema Biden

Bin Salman makin percaya tidak ada yang bisa membantah atau mencegah kuasa mutlaknya, sekalipun negara sebesar Amerika.





comments powered by Disqus