kabar

Joko Widodo akan bahas kuota haji dengan raja Saudi

Raja Salman tahun lalu menjanjikan tambahan kuota sepuluh ribu, namun tidak ditepati.

06 Oktober 2016 20:18

Isu kuota haji telah menjadi sorotan lantaran panjangnya antrean bagi warga Indonesia ingin berhaji, 9-41 tahun, dan banyaknya orang Indonesia melaksanakan rukun Islam kelima itu lewat negara lain, terutama Filipina.

Kuota haji, menurut juru bicara Kementeri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, juga menjadi masalah bakal dibicarakan Presiden Joko Widodo saat menerima kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz di Indonesia. "Beberapa sektor akan menjadi perhatian kita, yakni bidang energi, ekonomi, perlindungan warga negara Indonesia, dan kuota haji," kata Arrmanatha kepada wartawan di kantornya hari ini.

Dalam rapat konsultasi dengan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat akhir bulan lalu, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menceritakan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz sampai sekarang tidak menepati janji menambah kuota sepuluh ribu jamaah haji bagi Indonesia. Janji itu disampaikan Raja Salman saat menerima Presiden Joko Widodo di istananya di Kota Jeddah, Arab Saudi, tahun lalu.

Penambahan kuota itu sangat diperlukan oleh Indonesia untuk memangkas panjangnya antrean calon jamaah haji Indonesia. Lukman Hakim menjelaskan masa tunggu bagi calon jamaah haji setelah mendaftar antara sembilan tahun hingga 41 tahun.

Sejak Arab Saudi melakukan renovasi besar-besaran terhadap Masjid Al-Haram di Kota Makkah, kuota haji bagi seluruh negara dipotong 20 persen pada 2013. Kuota haji normal bagi Indonesia tadinya sekitar 211 ribu orang, namun setelah dikurangi 20 persen menjadi 168.800 jamaah, terdiri dari 155.200 orang untuk haji reguler dan 13.600 buat haji khusus.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi Selasa lalu menjelaskan dia sudah mulai membicarakan hal itu saat bertemu Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adil al-Jubair di sela pertemuan G-20 di Cina bulan lalu.

"Kita masih menunggu respon dari pemerintah Arab Saudi," kata Retno kepada wartawan di kantor Kementerian Luar Negeri. "Bila pemerintah Arab Saudi sudah memberikan lampu hijau maka kita akan mendekati negara-negara sepakat memberikan sisa kuota tidak dipakai."

Retno mengakui pihaknya sudah mulai membicarakan permintaan sisa kuota dengan Singapura, Filipina, dan Jepang. Namun dia memastikan kelanjutan dari pembahasan soal itu harus menunggu izin dari Arab Saudi.

Arrmanatha belum bisa memastikan jadwal pasti kedatangan penguasa negara Kabah itu, kemungkinan besar bulan ini. Jika terlaksana, lawatan Raja Salman itu akan menjadi kunjungan raja Saudi pertama dalam 46 tahun terakhir, setelah kehadiran Raja Faisal bin Abdul Aziz pada 1970.

Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Nurul Aulia mengungkapkan tadinya pemerintah menyediakan waktu buat Raja Salman pada 5 Oktober, namun tidak ada tanggapan dari Riyadh.  

Muhammad Hasan, Ketua Komite Bilateral Timur Tengah Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia, menjelaskan Raja Salman akan datang selama dua atau tiga hari. "Dia direncanakan datang pada 15-17 Oktober nanti," katanya kepada Albalad.co melalui telepon selulernya Senin pekan ini.

Dia menambahkan rombongan Raja Salman akan terdiri dari empat jet pribadi dan bakal mendarat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Raja Salman bakal datang ditemani Putera Mahkota sekaligus keponakannya Pangeran Muhammad bin Nayif.

Muhammad Hasan bilang dalam lawatan kenegaraan Raja Salman itu, kedua negara bakal meneken nota kesepahaman untuk empat proyek besar, yakni kilang minyak di Cilacap, kilang gas di Jambi, wisata di Sumatera Barat, dan pembelian persenjataan dengan PT Pindad.

Dia mengatakan proyek beli senjata oleh Saudi dari Pindad sudah berjalan namun dia mengaku tidak tahu detailnya. Untuk proyek wisata di tanah Minang, Pangeran Muhammad bin Nayif bakal membeli lahan seluas sepuluh ribu hektare untuk membangun resor.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Raja Salman dikabarkan sakit parah

Pangeran Ahmad mendapat sokongan dari para pangeran senior untuk menjadi raja Arab Saudi berikutnya.

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz dari Arab Saudi. (huseofsaud.com)

Kelompok pembangkang serukan Pangeran Ahmad rebut takhta Raja Salman

Pangeran Ahmad termasuk tiga orang menolak penunjukan Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada 21 Juni 2017.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan cucunya, Pangeran Abdul Aziz bin Khalid bin Salman. (Al-Arabiya/Supplied)

Kudeta ancam Arab Saudi

"Dalam waktu dekat kita akan menyaksikan kudeta terhadap raja dan putera mahkota," kata Pangeran Khalid.

Pangeran Khalid bin Farhan dari Arab Saudi, mendapat suaka politik di Jerman sejak 2013. (Middle East Eye)

Pangeran pembangkang desak Raja Salman lengser

Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz cocok menjadi pengganti.





comments powered by Disqus