kabar

Setelah ditawan 4,5 tahun, perompak Somalia bebaskan empat pelaut Indonesia

Pembajakan di Somalia mencapai puncaknya pada 2011, ketika itu terdapat 736 sandera dan 32 kapal ditawan.

24 Oktober 2016 03:38

Perompak Somalia Sabtu pagi pekan lalu membebaskan 26 sandera, termasuk empat pelaut asal Indonesia. Mereka telah ditawan selama 4,5 tahun.

Informasi diperoleh Albalad.co menyebutkan keempat sandera asal Indonesia dibebaskan itu adalah Elson Pesireron, Supardi, Sudirman, dan Adi Manurung

Sejatinya, ada 29 anak buah kapal Naham 3, berbendera Oman, diculik sejak Maret 2012, ketika kapal ini tengah berlayar di Samudera Hindia dirompak di selatan Seychelles. Namun satu pelaut meninggal saat pembajakan dan dua lainnya, termasuk Nasirin dari Indonesia, mengembuskan napas terakhir karena sakit selama ditawan.

"Mereka masih menginap semalam di Galkayo. Mereka akan tiba di Nairobi (Kenya) pukul 18.30 waktu setempat besok (kemarin)," kata John Steed, Manajer Oceans Beyond Piracy untuk kawasan Afrika Timur, Sabtu lalu.

Steed, pensiunan kolonel angkatan darat Inggris, menjelaskan evakuasi ke-26 sandera itu ke Nairobi ditunda lantaran masih terjadi pertempuran sengit di Galkayo, antara pasukan dari dua provinsi bersengketa di Somalia, yakni Puntland dan Galmudug.

Selain dari Indonesia, 26 sandera dibebaskan itu berasal dari Kamboja, Cina, Filipina, Vietnam, dan Taiwan. Mereka bekerja di Naham 3 milik perusahaan Al-Naham 3 Fishing Company, berkantor pusat di Ibu Kota Muskat, Oman. Sedangkan operator kapal Naham 3 itu adalah Jiang Chang Marine Enterprises, perusahaan di Taiwan. Para pelaut Indonesia ini diberangkatkan oleh perusahaan agen kapal di Singapura bernama Step Up Marine Enterprises Pte. Ltd.

Tidak ada penjelasan apakah pembebasan itu dilakukan setelah kelompok perompak menerima uang tebusan. "Kru tidak mengatakan soal duit tebusan," ujar Hirsi Yusuf Barre, Wali Kota Galkayo, wilayah di utara Somalia.

Steed menambahkan para sandera ini dalam keadaan kurang gizi. Salah satu tawanan luka tembak di kaki, seorang lagi pernah menderita stroke, dan satu lainnya sakit diabetes.

Dia bilang proses perundingan berjalan alot selama 18 bulan, melibatkan masyarakat, sesepuh suku, dan pemimpin agama setempat. "Pembebasan anak buah kapal Naham 3 menandai akhir dari pembajakan dan penyanderaan di Somalia," tuturnya.

Sebanyak 26 pelaut itu merupakan sandera terlama kedua ditawan perompak Somalia. Seorang pelaut dari Thailand dilepaskan Februari tahun lalu setelah disekap selama hampir lima tahun.  

Para perompak Somalia itu pertama kali membajak kapal dagang besar pada 2005. Peristiwa serupa terus meningkat akibat perang saudara melanda negara itu dan langkanya lapangan pekerjaan.

Pada 2012, pembajakan di Somalia merugikan perekonomian global antara US$ 5,7 miliar hingga US$ 6,1 miliar. Pembajakan mencapai puncaknya di 2011, ketika itu terdapat 736 sandera dan 32 kapal ditawan.

Muhammad Ramadan, pengacara hak asasi manusia  ditangkap aparat keamanan Mesir karena memakai rompi kuning pada 10 Desember 2018. (Facebook)

Mesir tangkap seorang pengacara karena pakai rompi kuning

Hukum berlaku di Mesir tidak bisa menangkap orang lantaran memiliki rompi kuning.

Demonstran berompi kuning.  (Twitter)

Mesir batasi penjualan rompi kuning jelang peringatan delapan tahun revolusi

Kairo khawatir demonstrasi di Paris menular ke Mesir.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berpose bersama enam warga Indonesia pernah disandera di Kota Benghazi, Libya, dan keluarga mereka seusai acara serah terima di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, 2 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Indonesia bebaskan enam warganya disandera di Benghazi

Mereka ditawan selama tujuh bulan.

Keharuan menyelimuti proses penyerahan empat mantan sandera Indonesia di Somalia oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di kantornya, 31 Oktober 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Empat mantan sandera di Somalia diserahkan kepada keluarga

Keempat pelaut Indonesia ini termasuk dalam 26 sandera dibebaskan oleh perompak Somalia pada 22 Oktober lalu.





comments powered by Disqus