kabar

Kidung Natal dari Bethlehem

Orang Kristen Palestina juga bilang Allahu Akbar.

25 Desember 2016 10:54

Natal masih dua pekan, namun atmosfernya sudah terasa di Gereja Bethel Indonesia Glow Fellowship Centre, berlokasi di sebuah apartemen tidak jauh dari kawasan Bundaran Hotel Indonesia di jantung Jakarta. Sejak pagi ruangan gereja sudah mulai dijubeli jemaat.

Menurut seorang perempuan paruh baya, sejak pukul 7.30 pagi, jemaat mulai berdatangan. "Biasanya masih sepi," katanya kepada Albalad.co.

Maklum saja, jemaat misa Ahad dua pekan lalu di Gereja Glow Fellowship Centre itu kedatangan tamu istimewa, yakni elompok paduan suara dari Bethlehem Bibble College di Kota Bethelehem, Palestina. Mereka datang ke Indonesia untuk tampil dalam konser Natal di Jakarta dan Bali. Mereka tampil pertama di depan jemaat misa di Gereja Bethel Indonesia Glow Fellowship Centre.

Paduan suara beranggotakan 14 warga Kristen Palestina ini tampil di tiga gereja di Jakarta dan satu gereja di Bali.

Dalam sambutan lewat rekaman video sebelum konser dimulai, pemimpin Gereja Bethel Glow Fellowship Centre Pendeta Gilbert Lumoindong meminta maaf kepada sekitar dua ribu jemaat hadir karena dia sedang berada di Australia. Dia mengajak seluruh jemaatnya untuk bersyukur karena kedatangan paduan suara dari kota kelahiran Yesus.

"Sungguh kita percaya pelayanan mereka kita beri nama Palestinian Christmas Concert," kata Pendeta Gilbert. "Mereka menyanyikan lagu-lagu Natal dalam bahasa Arab. Saya percaya pasti jadi berkat."

Bethlehem Bibble College didirikan sejak 1979 dan merupakan satu-satunya kampus Injil di Palestina.

Dr Bishara Awad, pendiri Bethlehem Bibble College, mengaku pihaknya sangat senang bisa mengunjungi Indonesia. Dia menjelaskan komunitas Kristen di Palestina sangat kecil, namun mereka memiliki hubungan sangat harmonis dengan kaum muslim.

Dia mencontohkan wali kota Bethlehem harus selalu dijabat orang Nasrani meski dia tidak mendapat semua suara dukungan. "Tapi sesuai aturan berlaku, dia harus orang Kristen. Warga Bethlehem menerima itu dan tidak ada masalah antara komunitas muslim dan Kristen," ujarnya.

Jemaat hadir sangat antusias menikmati penampilan dari kelompok paduan suara Bethlehem Bibble College. Dengan telepon cerdas di tangan, mereka merekam dan mengambil gambar untuk mengabadikan konser Natal istimewa itu.  

Dalam sambutannya sebelum konser digelar, Bishara Awad menjelaskan banyak orang tidak paham orang Palestina juga ada yang beragama Kristen. Dia mencontohkan seorang pendeta asal Amerika Serikat baru tahu hal ini setelah sepekan berkunjung ke Palestina.

Dia menambahkan orang Kristen palestina juga bilang Allahu Akbar dalam bahasa Arab sama dengan kaum muslim. "Jadi tidak ada perbedaan karena kami satu bahasa."

Bishara menjelaskan paduan suara dari kampusnya sudah berkeliling ke banyak negara, yakni Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Norwegia, dan Afrika Selatan. Dalam kesempatan itu, dia juga menyampaikan salam dari wali Kota Bethlehem.

Saur Hasugian, Rektor Sekolah Tinggi Teologi Global Glow Indonesia, bilang pihaknya sudah bekerja sama dengan Bethlehem Bibble College selama lima tahun, khusus untuk pembelajaran bahasa Arab. Kerja sama itu dalam bentuk pertukaran dosen.

"Kita berharap umat Kristen ada di Indonesia bersama-sama untuk mendukung kehidupan bersama di Palestina, juga mendukung kehidupan bersama ada di Indonesia," tutur Saur.

Muhammad Ramadan, pengacara hak asasi manusia  ditangkap aparat keamanan Mesir karena memakai rompi kuning pada 10 Desember 2018. (Facebook)

Mesir tangkap seorang pengacara karena pakai rompi kuning

Hukum berlaku di Mesir tidak bisa menangkap orang lantaran memiliki rompi kuning.

Demonstran berompi kuning.  (Twitter)

Mesir batasi penjualan rompi kuning jelang peringatan delapan tahun revolusi

Kairo khawatir demonstrasi di Paris menular ke Mesir.

Pohon Natal dipajang dalam  the Big Fashion Mall di Kota Ashdod, selatan Israel. (Courtesy)

Pejabat Yahudi ultra-ortodoks desak mal singkirkan pohon Natal

Meski Natal hari suci bagi umat Nasrani, namun bukan hari libur di Israel.

Gereja di Ibu Kota Teheran, Iran, 5 Juni 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Iran tangkap 114 warganya karena murtad

Iran memang membebaskan warganyan beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing, tapi orang Islam murtad adalah sebuah kejahatan. Hukumannya penjara lebih dari sepuluh tahun.





comments powered by Disqus