kabar

Perang pohon Natal di negara Yahudi

Sejumlah rabbi di Israel mengharamkan pohon Natal dan pesta tahun baru.

25 Desember 2016 13:18

Secara harfiah adalah perang terhadap pohon selalu berdaun hijau.

Saban kali perayaan Natal dan tahun baru mengghampiri, banyak hotel-hotel di Israel, terutama di Kota Yerusalem, berupaya merias diri dengan beragam dekorasi Natal dan tahun baru agar para pelancong asing merasa disambut. Fenomena ini melukai perasaan kaum Yahudi ultra-Orthodoks mendominasi lembaga kerabian di negara Zionis itu.

Mereka percaya negara mestinya tidak merestui umat Nasrani di Israel menampilkan berbagai riasan Natal dan mengupayakan segala hal terbaik buat memperingati hari kelahiran Yesus sekaligus tahun baru.

Tahun ini, kontroversi dimulai dengan sebuah surat dari otoritas kerabbian di Yerusalem, dikirim ke hotel-hotel pada 7 Desember dan baru-baru ini dilansir di media. Surat ditandatangani dua kepala rabbi itu berisi peringatan: memasang satu pohon Natal di sebuah hotel diharamkan menurut ajaran Yahudi.

Dalam surat itu, kedua rabbi ini perayaan malam pergantian tahun juga tidak dibolehkan. Mereka mengingatkan tahun baru Yahudi jatuh pada musim gugur, bukan Desember.

Di masa lalu, otoritas kerabbian secara terbuka mengancam mencabut sertifikat kehalalan kalau hotel-hotel itu tetap nekat memasang pohon atau riasan Natal. Kashrut atau hukum makanan halal versi ajaran Yahudi, kerap dipakai buat menekan hotel-hotel atas pelbagai isu tidak terkait makanan, termasuk dekorasi Natal dan pesta tahun baru.

Perubahan berlangsung Maret tahun lalu, ketika Otoritas Kerabbian Israel mengeluarkan aturan kashrut baru bagi hotel yang mengurangi keterlibatan lembaga kerabbian dalam masalah tidak terkait status kehalalan makanan disajikan.

Kebijakan ini keluar setelah ada petisi dari Hiddush, organisasi nirlaba mengkaampanyekan kebebasan beragama, memprotes beragam pembatasan pada hotel dengan ancaman sertifikat halal mereka dicabut. Di antaranya larangan menampilkan musik dan foto saban Sabbath atau mengharamkan pohon Natal dan pesta tahun baru.

Hiddush mengancam menggugat ke pengadilan tinggi bila otoritas kerabbian tidak menghapus semua larangan itu. Kepala Otoritas Kerabbian Israel kemudian mengumumkan beberapa aturan non-makanan, termasuk mencabut larangan atas pohon Natal.

CEO Hiddush Rabbi Uri Regev menyembut gembira keputusan tersebut. "Kita mesti berterima kasih kepada jaksa agung dan Kementerian Agama telah menjelaskan kepada kepala Otoritas Kerabbian, hukum di Israel juga berlaku bagi mereka dan aturan mereka tidak boleh melanggar hukum," katanya.

Alhasil, ketika surat dari dua kepala rabbi di Yerusalem keluar, Otoritas Kerabbian Israel bilang meski mereka setuju pohon Natal dan pesta tahun baru tidak halal, surat itu adalah inisiatif pribadi dari cabang mereka di Yerusalem. Otoritas Kerabbian Israel menekankan setifikat halal hotel-hotel itu tidak akan dicabut, namun disarankan mencabut dekorasi Natal demi menghormati kaum Yahudi.

Di kota pantai Haifa di utara Israel, Rabbi Elad Dokow dari Premier Technology University mengambil langkah serupa. Dia memerintahkan mahasiswa Yahudi memboikot himpunan mahasiswa karena untuk pertama kali memasang pohon Natal.

Dia menyebut pohon Natal sebagai pohon pemujaan dan simbol pagan. Dia menambahkan pemasangan pohon Natal bertentangan dengan kehalalan gedung, termasuk pusat jajanan di dalamnya. "Ini bukan soal kebebasan beragama. Israel satu-satunya negara Yahudi di dunia," ujar Dokow.

Di kalangan orang Israel, Natal kian tersohor meski rabi-rabbi ultra-Orthodoks menentang. Banyak warga Yahudi ikut menikmati kemeriahan Natal di kota-kota berpenduduk mayoritas Kristen, terutama Nazareth dan Haifa. Natal juga dirayakan secara meriah di Ibu Kota Tel Aviv. Tahun ini, Kota Jaffa menggelar festival musim dingin sekaligus pasar Natal di pelabuhan.

Banyak imigran Yahudi asal Uni Soviet melanjutkan tradisi mereka merayakan Natal bareng 160 ribu umat Nasrani hidup di negara Bintang Daud itu.

Pekan ini, mirip tahun-tahun sebelumnya, JNF (Dana Nasional Yahud) membagikan pohon Natal ke geraja, biara, dan kedutaan-kedutaan besar, serta menjual seharga 80 shekel (US$ 20) kepada masyarakat.

Satu tempat tidak akan pernah dipasangi pohon Natal adalah kompleks Knesset (parlemen Israel). Tiga tahun lalu, Ketua Knesset Yuli Edelstein menolak permintaan dari politikus Kristen asal Partai Hadash untuk menempatkan sebuah pohon Natal di Knesset. Edelstein menjawab pohon Natal itu bisa dipasang di kantor atau ruang fraksinya.

Natal tidak selalu berarti kedamaian. Di Israel Natal bisa bermakna pertempuran.

Muhammad Ramadan, pengacara hak asasi manusia  ditangkap aparat keamanan Mesir karena memakai rompi kuning pada 10 Desember 2018. (Facebook)

Mesir tangkap seorang pengacara karena pakai rompi kuning

Hukum berlaku di Mesir tidak bisa menangkap orang lantaran memiliki rompi kuning.

Demonstran berompi kuning.  (Twitter)

Mesir batasi penjualan rompi kuning jelang peringatan delapan tahun revolusi

Kairo khawatir demonstrasi di Paris menular ke Mesir.

Pohon Natal dipajang dalam  the Big Fashion Mall di Kota Ashdod, selatan Israel. (Courtesy)

Pejabat Yahudi ultra-ortodoks desak mal singkirkan pohon Natal

Meski Natal hari suci bagi umat Nasrani, namun bukan hari libur di Israel.

Gereja di Ibu Kota Teheran, Iran, 5 Juni 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Iran tangkap 114 warganya karena murtad

Iran memang membebaskan warganyan beribadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing, tapi orang Islam murtad adalah sebuah kejahatan. Hukumannya penjara lebih dari sepuluh tahun.





comments powered by Disqus