kabar

Perang Suriah bukan konflik Sunni-Syiah

Sebelum perang meletup, kebutuhan pokok masyarakat, seperti listrik, air, dan roti disubsidi oleh pemerintah. Pendidikan dan layanan kesehatan di rumah sakit negeri gratis.

28 Desember 2016 11:30

Penyesatan opini telah meluas soal Perang Suriah. Sejumlah pihak menilai palagan telah terbentuk sejak lima tahun lalu itu merupakan konflik antara Sunni dan Syiah.

Padahal, menurut Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Suriah, perang di negara Syam itu bukan konflik sektarian. "Melainkan konflik berkaitan erat dengan beerbagai kepentingan politik regional dan global," kata PPI Suriah dalam keterangan tertulis diterima Albalad.co hari ini.

Munculnya pandangan Perang Suriah adalah konflik Sunni-Syiah dipicu oleh keterlibatan Iran, merupakan sekutu Presiden Basyar al-Assad, dan campur tangan Arab Saudi dan para sekututnya di kawasan Arab Teluk mendukung kaum pemberontak.

Assad pun digambarkan sebagai penganut Syiah meski dia dari kalangan Alawi atau keturunan Nabi Muhammad.

Sejatinya, keterlibatan Iran dan Arab Saudi adalah bentuk perebutan pengaruh oleh kedua negara di kawasan Timur Tengah. Lebih luas dari itu, Rusia mendukung Iran dan Amerika Serikat di belakang Saudi, menunjukkan ada Perang Dingin Baru dalam konflik bersenjata di Suriah.

PPI Suriah menjelaskan sebelum perang meletup pada 2011, Suriah termasuk dalam lima negara dengan tingkat kejahatan terendah di dunia. "Suriah adalah negara sekuler sosialis, multietnis (Arab, Kurdi, Armenia, Turkman, dan lainnya), serta multiagama dan sekte (muslim Sunni dan Syiah, Katolik Orthodoks Timur, Orthodoks Suriah, Protestan, Druze, dan bahkan atheis)."

Di bawah rezim Assad sebelum perang meletup, PPI Suriah menyatakan negara ini terbilang makmur. "Kebutuhan pokok masyarakat, seperti, listrik, air, dan roti disubsidi oleh pemerintah. Pendidikan dan layanan kesehatan di rumah sakit negeri disubsidi penuh oleh pemerintah (gratis)."

PPI Suriah mengimbau pemerintah untuk mewaspadai warga negara Indonesia pernah ikut bertempur bareng pemberontak di Suriah dan berkoordinasi dengan Perkumpulan Alumni Syam Indonesia (Al-Syami). Mereka menyarankan masyarakat Indonesia ingin memberi bantuan buat warga Suriah agar disalurkan melalui lembaga resmi dikoordinir dengan perwakilan Indonesia di Suriah. 

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir bercengkerama dengan keluarga Abu Muhammad, pengungsi asal Suriah tinggal di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Israel danai dan persenjatai 12 kelompok pemberontak di Suriah

Tiap pemberontak mendapat bayaran US$ 75 saban bulan. Juga ada dana tambahan untuk 12 kelompok pemberontak buat membeli senjata di pasar gelap Suriah.

Militer Israel memberikan pertolongan pertama terhadap satu dari empat anak yatim piatu Suriah menjadi korban luka dalam perang, sebelum dilarikan ke rumah sakit di Israel pada 29 Juni 2018. )the Israel Defense Forces)

Israel selamatkan 800 relawan Helm Putih dari Suriah

Evakuasi itu dilakukan setelah Inggris, Jerman, dan Kanada bersedia memberikan suaka.

Bos Mayapada Group Dato Tahir berbincang dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, pada 27 Oktober 2016. (KBRI Amman buat Albalad.co)

Senjata bikinan Israel ditemukan dalam gudang senjata ISIS

Israel dan ISIS memang memiliki kepentingan sama, yakni menggulingkan rezim Basyar al-Assad disokong oleh Iran.

Militer Israel memberikan pertolongan pertama terhadap satu dari empat anak yatim piatu Suriah menjadi korban luka dalam perang, sebelum dilarikan ke rumah sakit di Israel pada 29 Juni 2018. )the Israel Defense Forces)

Israel rawat empat anak yatim piatu Suriah

Jumlah pengungsi Suriah di perbatasan dengan israel di Dataran Tinggi Golan meningkat menjadi sekitar 270 ribu orang.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Senat Amerika sepakat anak Raja Salman terlibat pembunuhan Khashoggi

Senat juga mengesahkan resolusi meminta Amerika menghentikan keterlibatannya dalam Perang Yaman dimotori Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

14 Desember 2018

TERSOHOR