kabar

Kapolri sebut selama ada ISIS potensi teror tetap ada

Terduga teroris tewas tahun lalu berjumlah tujuh orang dan tahun ini naik menjadi 33 orang.

29 Desember 2016 02:22

Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian mengakui selama ISIS (Negara Islam Irak daan Suriah) masih ada di Suriah dn Irak, potensi serangan terorisme akan tetap ada di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Dalam jumpa pers akhir tahun di kantornya kemarin, Tito menjelaskan tahun lalu terdapat 82 kasus terorisme di Indonesia, termasuk rencana serangan teror digagalkan dan terduga terorisnya ditangkap. Sedangkan tahun ini, ada 170 kasus terorisme, termasuk yang digagalkan.

Dia menambahkan terduga teroris tewas tahun lalu berjumlah tujuh orang dan tahun ini naik menjadi 33 orang. Tito menekankan polisi akan mengambil tindakan mematikan bila terduga teroris mengancam nyawa aparat atau masyarakat.

Dia menilai kasus terorisme di Indonesia tahun lalu relatif rendah karena strategi ISIS kala itu adalah memperkuat basis di Suriah baru kemudian berekspansi secara perlahan. Namun tahun ini semua negara besar, Rusia dan Barat, menggempur milisi dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi itu, sehingga wilayah mereka kuasai kian mengecil.

"Akibatnya yang mereka lakukan untuk mengalihkan perhatian, jaringan di luar negerinya disuruh aktif bergerak. Makanya terjadi serangan di Eropa, Prancis, Istanbul, Afrika, Pakistan, termasuk Indonesia," kata Tito. "Tidak heran (kasus teror di) Indonesia pun meningkat karena instruksi dari ISIS pusat, semua dimainkan agar perhatian ke seluruh dunia. Tidak hanya di situ (Suriah dan Irak)."

Basis pertahanan terkuat ISIS di Mosul, Irak, dan Raqqah, Suriah, juga tengah digempur habis-habisan.

Menurut Tito, berdasarkan informasi dari Kepala Detasemen Khusus 88 Antiteror Brigadir Jenderal Edi Hartono, lebih dari 600 warga Indonesia ikut bertempur di Suriah. Dari jumlah tersebut, ada yang sudah meninggal dan ada yang sudah kembali.

Dia menerangkan ada juga orang-orang Indonesia ingin berangkat berjihad ke Suriah berhasil digagalkan di tanah air atau di negara lain. Secara regional, tambah Tito, pihaknya bekerja sama dengan Malaysia dan Singapura untuk menggagalkan warga Indonesia ingin menyeberang ke Suriah. Pihaknya juga bekerja sama dengan Turki, merupakan pintu masuk utama bagi jihadis-jihadis asing ke Suriah.

Tito mengatakan prinsipnya ada dua kelompok teroris besar di Suriah, yakni ISIS dan Jabhat Nusrah, merupakan cabang Al-Qaidah. Kelompok kedua ini telah berganti nama menjadi Jabhat fatih asy-Syam karena tidak mau lagi di bawah komando Al-Qaidah.

"Di Indonesia juga ada perpecahan. Sebagian mendukung ISIS, seperti JAD (Jamaah Ansarud Daulah), dan sebagian mendukung Jabhat Nusrah, terutama dari kelompok-kelompok eks Jamaah Islamiyah yang pro Al-Qaidah," ujar Tito. "Tapi yang banyak berangkat ke sana sebagian besar adalah dari jaringan JAD mendukung ISIS. Sebagian kecil lainnya dari kelompok eks JI (Jamaah Islamiyah) yang mendukung Jabhat Nusrah."

Dalam kasus terakhir, aparat keamanan Turki menangkap tiga warga negara Indonesia di Provinsi Hatay, berbatasan dengan Suriah. Ketiga orang itu adalah Tomi Gunawan, 18 tahun dari Pekanbaru, Jang Johana, 25 tahun, dari Bandung Barat, dan Irfan, 21 tahun, asal Jakarta. Ketiganya ditangkap karena diduga hendak menyusup ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok pemberontak.

Turki telah mendeportasi ketiga warga Indonesia itu Sabtu pekan lalu. Begitu mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, mereka digiring ke Markas Korps Brigade Mobil di Kelapa Dua, Depok, untuk menjalani pemeriksaan.   

Pemimpin ISIS wilayah Irak Abu Yasir al-Isawi tewas oleh serangan pasukan antiteror Irak pada 27 Januari 2021 di Kota Daquq, Provinsi Kirkuk, utara Irak. (Twitter)

Pemimpin ISIS wilayah Irak tewas

Abu Yasir, 39 tahun, adalah orang asli dari Falujah, kota di Provinsi Anbar berjarak sekitar 60 kilometer sebelah barat Baghdad.

Milisi ISIS. (Dabiq/Global Look Press)

Tidak ada warga Indonesia jadi korban dalam dua bom bunuh diri di Baghdad

ISIS mengklaim bertanggung jawab atas insiden menewaskan 32 orang itu.

Pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah dan putranya, Jawad Nasrallah. (Arabi21)

Pemimpin Hizbullah, ISIS, dan Hamas puncaki daftar 20 ekstremis paling berbahaya

Dalam daftar itu juga ada mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad karena suka melontarkan pernyataan anti-Yahudi.  

Gubernur Provinsi Makkah Pangeran Misyaal bin Majid menjenguk warga Saudi menhadi korban luka dalam ledakan di pemakaman nin-muslim di Kota Jeddah, Arab Saudi, pada Rabu, 11 November 2020. (Saudi Gazette)

ISIS akui bertanggung jawab atas ledakan di Jeddah

ISIS bilang serangan itu untuk diplomat Prancis.





comments powered by Disqus