kabar

Kabinet Mesir setujui pemberian dua pulau kepada Arab Saudi

Para pengacara menolak penyerahan Tiran dan Sanafir berpendapat kedaulatan Mesir atas kedua pulau ini sesuai perjanjian dibuat pada 1906, sebelum negara Arab Saudi terbentuk.

31 Desember 2016 22:23

Kabinet Mesir Kamis lalu menyetujui kesepakatan soal batas maritim dengan Arab Saudi sekaligus pemberian dua pulau di Laut Merah, Tiran dan Sanafir, kepada negara Kabah itu. Perjanjian ini telah dikirim ke parlemen untuk diratifikasi.

Kesepakatan tersebut dicapai April lalu saat Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz berkunjung ke Mesir. Pihak oposisi menilai hadiah dua pulau tidak berpenghuni itu sebagai balas jasa lantaran Saudi berkomitmen memberikan bantuan keuangan dan investasi bernilai miliaran dolar Amerika Serikat.

Namun kontroversi pemberian dua pulau kepada Saudi ini berlanjut setelah pengadilan tata usaha negara Juni lalu membatalkan kesepakatan dicapai antara Presiden Mesir Abdil Fattah as-Sisi dengan Raja Salman itu. Pemerintah Mesir mengajukan banding dan keputusan akan dikeluarkan pada 16 Januari mendatang.

Khalid Ali menilai persetujuan kabinet itu menunjukkan runtuhnya hukum dan konstitusi negara Nil. "Keputusan parlemen akan dikeluarkan buat mengisi kekosongan dan rakyat harus membela dengan segala cara sah menghadapi rezim tiran tidak menghormati hukum atau keadilan," kata pengacara mengajukan gugatan Juni lalu agar kesepakatan pemberian dua pulau tersebut dibatalkan.

Namun Nabil al-Jamal, anggota Komite Hukum dan Konstitusi di parlemen, bilang tidak ada salahnya mengirim perjanjian itu ke parlemen buat diratifikasi meski pengadilan banding belum mengeluarkan vonis.

Pulau Tiran dan Safir berlokasi di mulut Teluk Aqabah menuju Yordania dan Israel.

Para pejabat Saudi dan Mesir mengatakan Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi dan hanya di bawah kontrol Mesir lantaran Riyadh meminta Kairo pada 1950 buat melindungi kedua pulau itu.

Para pengacara menolak penyerahan Tiran dan Sanafir berpendapat kedaulatan Mesir atas kedua pulau ini sesuai perjanjian dibuat pada 1906, sebelum negara Arab Saudi terbentuk.

Kiri ke kanan: Syekh Salman al-Audah, Syekh Awad al-Qarni, dan Dr. Ali al-Umari. (Twitter)

Arab Saudi akan eksekusi mati tiga ulama sehabis Ramadan

"Arab Saudi tidak akan menunggu sampai vonis mati dikeluarkan untuk mengeksekusi mereka," kata seorang sumber.

Empat perempuan pamer bra untuk membubarkan ratusan demonstran Yahudi ultra-Ortodoks di Yerusalem, 18 Mei 2019. (Screenshot)

Demonstran Yahudi ultra-Ortodoks bubar karena dihadang perempuan pamer bra

Kaum Yahudi ultra-Ortodoks kerap memprotes pemasangan poster perempuan di tempat umum atau media dengan alasan haram.

Jamaah berkumpul di pelataran Masjid Al-Haram, Kota Makkah, Arab Saudi, sambil menunggu pembagian makanan berbuka puasa, Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Jamaah Qatar bisa pesan paket umrah setiba di Jeddah

Hubungan Saudi-Qatar memburuk sejak awal Juni 2017.





comments powered by Disqus