kabar

Pejabat MUI ikut dalam rombongan ke Israel

Menurut Muhyidin Junaidi, Istibsyaroh harus mundur atau diberhentikan.

19 Januari 2017 21:03

Dari tujuh anggota delegasi muslim diterima Presiden Israel Reuven Rivlin kemarin, terselip Profesor Istibsyaroh, Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat. Dalam foto dilansir situs Kementerian Luar Negeri Israel, Profesor Istibsyaroh, berjilbab kuning, duduk berdampingan dengan Rivlin.   

Dihubungi melalui telepon selulernya hari ini, Ketua MUI Bidang Luar Negeri Kiai Muhyidin Junaidi benar-benar marah mengetahui kabar itu. Dia memastikan lembaganya sebelumnya tidak mengetahui rencana Istibsyaroh ikut dalam rombongan bakal berkunjung ke negara Zionis itu. Lawatan ini diatur dan dibiayai oleh AIJAC, lembaga lobi Yahudi di Australia.

Muhyidin mengutuk keikutsertaan Istibsyaroh dalam kunjungan ke Israel itu. Apalagi, situasi di Palestina memanas sejak Oktober 2015. Ketegangan kian meningkat setelah tersiar kabar Donald Trump, bakal dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat pada 20 Januari ini, berencana memindahkan kedutaannya dari Ibu Kota Tel Aviv ke Yerusalem.

Sesuai amanat konstitusi, Indonesia tidak mengakui negara Israel karena masih menjajah Palestina. Indonesia menyokong gagasan sokusi dua negara untuk mengakhiri penjajahan tersebut. Karena itu, kunjungan dilakukan tokoh masyarakat Indonesia ke Israel, apalagi dari kalangan muslim, akan selalu menyorot perhatian dan memicu polemik.

Muhyidin menegaskan partisipasi Istibsyaroh dalam lawatan ke negara Bintang Daud itu melanggar kode etik dan prinsip negara, telah memboikot hubungan dan produk Israel.

"Kunjungan tersebut melukai perasaan umat Islam dan bangsa Indonesia karena kita sampai sejauh ini masih menolak untuk melakukan hubungan diplomatik dengan Israel," kata Muhyidin. "Dengan alasan negara tersebut belum mengakui kemerdekaan bangsa Palestina."

Dia menekankan kunjungan delegasi muslim Indonesia itu secara tidak langsung mendukung kekejaman tanpa batas kemanusiaan oleh Israel terhadap rakyat Palestina. Lawatan ini, menurut dia, akan merusak hubungan bilateral Indonesia dengan sejumlah negara anggota OKI (Organisasi Konferensi Islam) meski beberapa negara OKI telah menjalin hubungan dengan Israel.

Tapi, dia menambahkan, bila Indonesia ikut menjalin hubungan dengan Israel, negara-negara muslim lainnya akan ikut. Dia menegaskan Istibsyaroh mestinya sudah paham betul posisi MUI terhadap Israel.

Ini bukan kali pertama delegasi muslim berkunjung ke Israel, namun Muhyidin memastikan keikutsertaan pejabat MUI dalam rombongan ke Israel baru terjadi kali ini.

Untuk menghindari polemik berkepanjangan, Muhyidin bilang MUI akan meminta Istibsyaroh mengundurkan diri karena meminta maaf saja tidak cukup. "Alternatif kedua adalah pemberhentian dan itu biasa terjadi," ujarnya.       

Hampir saban tahun, AIJAC mengirim delegasi Indonesia ke Israel sebagai upaya mengenalkan negara itu secara langsung kepada tokoh, aktivis, atau cendekia. Tahun lalu, Israel mengundang lima wartawan Indonesia dan mereka bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.     

Baca juga:

Komunitas Yahudi gelar perayaan Paskah di Jakarta

Saya tidak menyesal menjadi orang Yahudi

Ada dua ribu orang Indonesia berdarah Yahudi

Saya ingin orang Indonesia bisa belajar bahasa Ibrani

Uskup Ava Morkos memimpin misa Kristen Koptik pertama di Arab Saudi pada 2 Desember 2018. (Twitter/DrMahmoudRefaat)

Menanti salib tegak di negara Kabah

Raja Abdullah pernah bertemu Paus Benediktus XVI dalam kunjungan ke Vatikan pada 2007.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Raja Salman dikabarkan sakit parah

Pangeran Ahmad mendapat sokongan dari para pangeran senior untuk menjadi raja Arab Saudi berikutnya.

Putera Mahkota Abu Dhabi Syekh Muhammad bin Zayid an-Nahyan saat mengunjungi pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus pada September 2016. (Twitter/MohamedBinZayed)

Paus Fransiskus akan kunjungi UEA pada Februari 2019

UEA bakal menjadi negara muslim ketujuh didatangi Paus Fransiskus.

Jamal Khashoggi, pengkritik pemerintah Arab Saudi. (Twitter)

Para senator senior Amerika yakin anak Raja Salman perintahkan habisi Khashoggi

"Kalau disidangkan, juri bisa memutuskan Bin Salman bersalah dalam 30 menit," tutur Bob Corker.





comments powered by Disqus