kabar

Protes kebijakan antiimigran muslim Trump digelar di Jakarta

Mereka menyesalkan tidak ada reaksi keras dari pemerintah dan umat Islam di Indonesia.

04 Februari 2017 14:35

Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melarang imigran dari tujuh negara berpenduduk mayoritas muslim dan pengungsi dari seluruh dunia telah mengejutkan masyarakat global. Demonstrasi tidak hanya terjadi di dalam negeri, protes juga digelar di beragam negara.

Sekitar dua lusin orang dari gerakan antifasis dan antirasis pada hari ini menggelar unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika di Jakarta, untuk memprotes kebijakan rasis negara adikuasa itu. Ini merupakan demonstrasi pertama anti-Trump dilangsungkan di Indonesia.

Demonstran dari berbagai elemen masyarakat ini meneriakkan slogan anti-Trump dan membawa spanduk-spanduk mengecam kebijakan antiimigran muslim dikeluarkan presiden dari Partai Republik itu.

Trump dua pekan lalu merilis larangan atas imigran dari Iran, Irak, Suriah, Yaman, Libya, Sudan, dan Somalia memasuki wilayah Amerika. Kebijakan ini berlaku 90 hari.

Dia juga menutup pintu bagi pengungsi dari seluruh dunia selama 120 hari, namun untuk pengungsi asal Suriah tanpa batas waktu. Trump beralasan larangan ini perlu dikeluarkan untuk mencegah teroris menyusup masuk ke Amerika. Dia bilang kebijakan itu dibuat sambil mengkaji sekaligus memperbaiki aturan imigrasi demi keamanan wilayah dan rakyat Amerika.

Veronica Koman, pengacara hak asasi manusia ikut mengurusi masalah pengungsi di Indonesia, menekankan kebijakan antiimigran muslim dikeluarkan Trump juga berdampak langsung terhadap pengungsi ada di Indonesia, kebanyakan berasal dari negara-negara berpnduduk mayoritas Islam, seperti Iran, Irak, dan Suriah. 

Dia menjelaskan saat ini ada hampir 14 ribu pengungsi dan pencari suaka di Indonesia sebagai negara transit. Tahun lalu 1.200-an pengungsi dikirim ke negara ketiga. Dari jumlah itu, 760 dikirim ke Amerika. "Bila Amerika menutup pintunya, akan semakin banyak pengungsi terkatung-katung di Indonesia karena mereka tidak punya hak sama sekali," kata Veronica.

Veronica menambahkan kebijakan antiimigran muslim Trump tersebut telah memicu meningkatnya sentimen anti-Islam. Meski Indonesia tidak masuk daftar larangan Trump, menurut dia, warga muslim Indonesia di Amerika bisa saja menjadi korban sentimen anti-Islam kini naik di sana.    

Tidak sampai sepekan setelah Trump mengeluarkan kebijakan kontroversialnya, masjid di Kota Quebec, Kanada, dan Texas, Amerika, dibakar.

Azhar Irfansyah, dari Front Islam Progresif, menilai kebijakan Trump menolak imigran dari tujuh negara muslim merupakan bentuk pelabelan berbahaya terhadap pengikut Islam. Dia menambahkan selama ini kaum muslim sudah mendapat tindakan dikriminatif dan cap buruk sebagai teroris, terutama setelah serangan 11 September 2001. "Saya pikir ini bukan cuma perang terhadap Islam, tapi juga perang terhadap kemanusiaan secara keseluruhan," ujarnya.

Dia menyesalkan pula tidak ada reaksi keras dari pemerintah umat Islam meski Indonesia merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar sejagat. Dia menilai pemerintah bersifat oportunis karena lebih melihat kerugian secara ekonomi bila hubungan bilateral dengan Amerika terganggu.

Militer Israel memberikan pertolongan pertama terhadap satu dari empat anak yatim piatu Suriah menjadi korban luka dalam perang, sebelum dilarikan ke rumah sakit di Israel pada 29 Juni 2018. )the Israel Defense Forces)

Israel rawat empat anak yatim piatu Suriah

Jumlah pengungsi Suriah di perbatasan dengan israel di Dataran Tinggi Golan meningkat menjadi sekitar 270 ribu orang.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir menggendong Hanan, 4 tahun, anak pengungsi Suriah tinggal di sebuah kamp di Lembah Bekaa, Libanon, 11 April 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Israel kirim 300 tenda dan 30 ton makanan bagi pengungsi Suriah

Selama 2016-2017, Israel sudah menggelontorkan 360 ton makanan untuk pengungsi Suriah.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir bercengkerama dengan keluarga Abu Muhammad, pengungsi asal Suriah tinggal di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Bocah pengungsi Suriah pakai kaleng sebagai pengganti kaki

UNICEF Maret lalu menyebutkan ada 1,5 juta warga Suriah mengalami cacat, termasuk 86 ribu orang kehilangan kaki.





comments powered by Disqus