kabar

Pejabat Amerika bungkam saat ditanya soal demokrasi di Saudi

Jones diam 20 detik di atas podium tanpa memberi jawaban.

31 Mei 2017 20:51

Sejumlah pejabat Amerika Serikat mengklaim kunjungan Presiden Donald Trump ke Arab Saudi akhir pekan lalu sebagai sesuatu yang berhasil. 

Dalam lawatan resmi pertamanya ke luar negeri itu, Trump menyepakati penjualan senjata senilai US$ 110 miliar dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz. Dia juga mengajak seluruh negara berpenduduk mayoritas muslim memerangi terorisme.

Namun Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Urusan Timur Tengah Stuart Jones bungkam saat ditanya soal komitmen Arab Saudi terhadap demokrasi.

"Bagaimana Anda melihat komitmen Arab Saudi soal demokrasi?" tanya seorang reporter AFP. "Apakah pemerintah Saudi meyakini demokrasi sebagai hambatan bagi ekstremisme?"

Jones diam 20 detik di atas podium tanpa memberi jawaban. Mantan Duta Besar Amerika buat Irak dan Yordania itu malah mengecam Iran. Dia menuding Iran sumber ekstremisme.

Arab Saudi memang tidak mengakui demokrasi. Negara Kabah ini menganut sistem kerajaan, di mana semua keputusan akhir berada di tangan raja. Di Saudi tidak ada partai politik dan pemilihan umum.

Jangankan oposisi, pengkritik raja saja bisa dipenjara. Banyak organisasi hak asasi manusia menuduh Saudi melanggar hak asasi perempuan dan kaum minoritas Syiah. Non-muslim dilarang memakai simbol agama. Tidak ada satu pun tempat ibadah bagi penganut non-Islam.

Sedangkan di Iran, pemilihan presiden digelar saban empat tahun. Penganut agama lain, termasuk Majusi dan Yahudi diberikan kebebasan beribadah. Kaum hawa juga bebas bersekolah dan bekerja.

 

Uskup Ava Morkos memimpin misa Kristen Koptik pertama di Arab Saudi pada 2 Desember 2018. (Twitter/DrMahmoudRefaat)

Menanti salib tegak di negara Kabah

Raja Abdullah pernah bertemu Paus Benediktus XVI dalam kunjungan ke Vatikan pada 2007.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Joko Widodo berdiri di teras Istana Bogor, di sela pertemuan bilateral dilakoni kedua pemimpin itu pada 1 Maret 2017. (Dokumentasi Albalad.co)

Raja Salman dikabarkan sakit parah

Pangeran Ahmad mendapat sokongan dari para pangeran senior untuk menjadi raja Arab Saudi berikutnya.

Putera Mahkota Abu Dhabi Syekh Muhammad bin Zayid an-Nahyan saat mengunjungi pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus pada September 2016. (Twitter/MohamedBinZayed)

Paus Fransiskus akan kunjungi UEA pada Februari 2019

UEA bakal menjadi negara muslim ketujuh didatangi Paus Fransiskus.

Jamal Khashoggi, pengkritik pemerintah Arab Saudi. (Twitter)

Para senator senior Amerika yakin anak Raja Salman perintahkan habisi Khashoggi

"Kalau disidangkan, juri bisa memutuskan Bin Salman bersalah dalam 30 menit," tutur Bob Corker.





comments powered by Disqus