kabar

17 warga Indonesia berhasil dievakuasi dari Marawi

Tujuh warga Indonesia diduga ikut bersama ISIS menyerbu Marawi.

03 Juni 2017 02:19

Pertempuran antara pasukan pemerintah Filipina menghadapi gerilyawan Maute, telah berbaiat kepada ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah), di Kota Marawi, Filipina Selatan, sejak Selasa pekan lalu telah mengakibatkan 17 warga Indonesia terjebak di sana. Mereka terdiri dari 16 anggota Jamaah tabligh dan satu orang menetap di Marawi karena menikah dengan warga setempat.

Setelah berupaya keras, pemerintah akhirnya berhasil mengevakuasi 17 warga Indonesia itu kemarin. Dalam jumpa pers mingguan berlangsung di kantornya kemarin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir menjelaskan evakuasi itu dapat dilakukan atas usaha Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ibu Kota Manila dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Davao, berkoordinasi dengan aparat keamanan Filipina.

"Pemerintah Indonesia kemarin berhasil mengevakuasi 17 warga Indonesia merupakan Jamaah Tabligh dari dua tempat," katanya. "Di Maratao (sekitar 20 kilometer dari Kota Marawi) dan dari Sultan Naga Dimaporo (Provinsi Lanao del Norte)."

Dia menambahkan 17 warga Indonesia itu kemudian diterbangkan dari Bandar Udara Lagundingan di Mindanao Utara ke Kota Davao. Mereka semalam sudah berada di Wisma KJRI di Davao.

Menurut Arrmanatha, penyelamatan dilakukan oleh dua tim setelah Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mendapat jaminan keamanan dari pemerintah Filipina. Proses evakuasi terhadap 17 warga Indonesia itu dimulai Kamis lalu pukul tujuh pagi waktu setempat dan berlangsung seharian. Evakuasi sempat tertunda beberapa hari karena situasi dianggap belum memungkinkan.  

Dia bilang Menteri Luar Negeri Retno Marsudi Kamis malam lalu sudah berbicara melalui telepon dengan salah satu dari 17 warga Indonesia itu.

"Mereka dalam kondisi baik dan sehat," ujar Arrmanatha. "Mereka menyampaikan apresiasi tinggi kepada pemerintah Indonesia karena telah mengambil langkah cepat untuk bisa mengevakuasi mereka dari tempat mereka anggap saat itu tidak sesuai harapan mereka."

Terkait tujuh warga Indonesia diduga ikut dalam penyerangan ke Marawi, Arrmanatha mengaku tidak memiliki informasi detail mengenai hal itu.  

Marawi adalah ibu kota Provinsi Lanao del Sur, Pulau Mindanao. Sekitar 99,6 persen dari 202 ribu penghuni Kota Marawi adalah umat Islam. Meski di sana terdapat pengadilan syariah, namun hukuman pancung atau amputasi tidak berlaku karena tidak sesuai dengan sistem hukum di Filipina.

Provinsi Lanao del Sur merupakan basis dari kelompok Maute, telah berbaiat kepada ISIS.

Pertempuran di Marawi meletup Selasa minggu lalu setelah pasukan pemerintah Filipina berupaya menangkap Isnilon Hapilon, pemimpin kelompok Abu Sayyaf, sudah bersumpah setia kepada pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi pada Agusutus 2014.

Ketika usaha menangkap Hapilon itu gagal, lusinan lelaki bersenjata keluar ke jalan-jalan di Marawi. Mereka mengibarkan bendera biasa dipakai ISIS. Bangunan-bangun dibakar, tahanan di penjara dilepaskan, dan mereka menyekap sejumlah sandera ketika pertempuran meluas ke seantero kota.   

Pemimpin milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Abu Bakar al-Baghdadi muncul dalam rekaman video dilansir pada 29 April 2019. (Twitter)

Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi muncul dalam rekaman video

Dia terakhir kali tampil di depan publik saat berkhotbah Jumat di Mosul pada 2014.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir bercengkerama dengan keluarga Abu Muhammad, pengungsi asal Suriah tinggal di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

80 warga Indonesia eks ISIS terjebak di kamp Kurdi

Pemerintah akan memverifikasi status kewarganegaraan mereka.

Wilayah dikuasai ISIS. (govexec.com)

Trump umumkan kemenangan atas ISIS

Amerika segera menarik pasukannya dari Suriah.

Seorang petugas menggendong anak kecil selamat dari serangan kelompok bersenjata di acara parade militer di Kota Ahwaz, barat Iran, 22 September 2018. (Twitter)

ISIS rilis video pelaku serangan atas pawai militer di Iran

Selain ISIS, Gerakan Bangsa Ahvaz, mendiami Provinsi Khuzestan dan berusaha memerdekakan diri, juga mengklaim sebagai dalang dari serangan itu.





comments powered by Disqus