kabar

Blokade Qatar untungkan Israel

Saudi mensyaratkan Qatar memutus hubungan dengan Hamas untuk menormalisasi hubungan.

13 Juni 2017 14:11

Bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza, Qatar adalah dewa penolong. Saya menyaksikan sendiri ketika Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani mengunjungi Gaza lima tahun lalu. 

Syekh Hamad bin Khalifah menjadi pemimpin Arab pertama ke Gaza sejak wilayah dikuasai Hamas itu diblokade Israel dan Mesir sejak 2007. Dia begitu dielukan. Bendera dan posternya berjejer di sepanjang Jalan Salahuddin al-Ayyubi, menghubungkan Rafah (selatan Gaza) dan Bait Hanun (utara Gaza).

Maklum saja, Syekh Hamad bin Khalifah datang untuk meresmikan beragam proyek dibiayai Qatar senilai US$ 400 juta, termasuk perbaikan Jalan Salahuddin, pembangunan rumah sakit dan permukiman. 

Kini, ketika tengah dimusuhi negara-negara Arab tetangganya, Qatar menghadapi sebuah dilema. Negara Arab mungil ini mesti memutus mengusir semua anggota Hamas dari negaranya dan membekukan semua rekening mereka. Qatar juga harus memutuskan hubungan dengan Iran. 

Itulah tiga dari sepuluh syarat diajukan oleh Arab Saudi sebagai syarat bagi Qatar untuk menormalisasi hubungan. 

Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Mesir, dan Yaman Senin pekan lalu memutuskan hubungan dengan Qatar. Mereka beralasan Qatar menyokong terorisme.

Arab Saudi, UEA, dan Bahrain juga melakukan blokade darat, laut, dan udara terhadap Qatar.

Ironisnya ketiga syarat normalisasi bikinan Saudi itu sejalan dengan kepentingan Israel. Seperti Saudi, bagi negara Zionis itu, Iran adalah musuh bebuyutan dan dianggap sebagai ancaman bagi perdamaian dan keamanan kawasan serta dunia.

Sejak kemenangan Revolusi Islam pada 1979, Iran tidak mengakui negara Israel, didirikan pada 1948. Bahkan Teheran bertekad menghapus negara Bintang Daud itu dari peta dunia. 

Iran pula mendanai dan mendukung Hamas di Palestina dan Hizbullah di Libanon, dua milisi anti-Israel. 

Hamas, menang pemilihan umum pada Januari 2006, tidak diakui dan dicap teroris oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Israel. Ironisnya, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adil al-Jubair pun baru-baru ini mencap Hamas sebagai organisasi teroris. Padahal negara Kabah itu kerap gembar gembor menyokong perjuangan rakyat Palestina menghadapi penjajah Israel.

Sedangkan Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Muhammad bin Abdurrahman ats-Tsani menekankan Hamas adalah gerakan perlawanan rakyat Palestina yang sah.

Pandangannya itu sejalan dengan pendapat para pengguna media sosial di dunia Arab. Tanda pagar #Hamas adalah perlawanan bukan terorisme sedang populer di Twitter.

Ribuan pengguna media sosial menegaskan perlawanan merupakan hak bangsa Palestina untuk membebaskan diri dari penjajahan Israel. 

Pernyataan Adil al-Jubair menyebut Hamas sebagai gerakan teroris sama saja melayani kepentingan Israel dan mirip ungkapan sering dilontarkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. 

Sungguh ironis memang. Arab Saudi getol menggalang dukungan untuk memusuhi dan mengisolasi Qatar, negara tetangga sesama muslim. Tapi Riyadh tidak pernah mengumpulkan sokongan untuk memusuhi dan memblokade Israel.

Penyair asal Qatar Muhammad bin Futais al-Marri. (Al-Arabiya)

Qatar cabut kewarganegaraan penyair karena bela Saudi

Qatar bulan lalu mencabut status kewarganegaraan atas 55 orang dari suku Al-Murrah.

Syekh Abdullah bin Ali ats-Tsani pada 16 Agustus 2017 bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Jeddah, Arab Saudi. (Supplied)

Qatar tahan 20 pangeran membangkang terhadap emir

Menurut para pangeran tersebut, mereka ditahan sebab memiliki hubungan langsung dengan Syekh Abdullah bin Ali ats-Tsani.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Al-Arabiya)

Snapchat blokir Al-Jazeera di Arab Saudi

Layanan Al-Jazeera di Snapchat itu tersedia di Arab Saudi sejak Mei lalu.

Kepala suku Al-Marri Syekh Talib bin Muhammad bin Lahum bin Syuraim. (Al-Arabiya)

Qatar cabut kewarganegaraan 55 orang dari suku Al-Marri

Qatar pernah mencabut kewarganegaraan lebih dari enam ribu orang dari suku Al-Ghufran pada 2005, juga tanpa alasan jelas.





comments powered by Disqus