kabar

Lembaga lobi Saudi bayar US$ 138 ribu buat iklan anti-Qatar di Amerika

Ketujuh iklan itu hanya tayang di Washington DC.

26 Juli 2017 21:21

Lembaga lobi Arab Saudi di Amerika Serikat, the Saudi American Public Relation Affairs Committee (SAPRAC), telah meluncurkan kampanye iklan anti-Qatar.

Dalam kontrak dipelajari oleh Al-Jazeera, SAPRAC membayar US$ 138 ribu untuk penayangan tujuh iklan, masing-masing berdurasi setengah menit, buat mendiskreditkan Qatar.

Iklan itu mulai tayang di stasiun televisi NBC-4 di Ibu Kota Washington DC sejak Ahad lalu. Dalam pariwara itu disebutkan Qatar menyokong terorisme dan memicu ketidakstabilan negara-negara sekutu Amerika di kawasan Teluk Persia.

Atas dasar tudingan itu pula, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir, memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada 5 Juni lalu. Saudi, UEA, dan Bahrain juga memberlakukan blokade darat, laut, dan udara terhadap negara Arab supertajir tersebut.

Doha membantah semua tuduhan dan menyebut tudingan itu tidak berdasar.

Empat dari tujuh iklan itu akan tayang selama Meeet the Press, program wawancara mingguan di NBC-4. Untuk empat tayangan iklan dengan total durasi 120 detik ini, SAPRAC membayar US$ 120 ribu atau US$ 1 ribu per detik.

Buat tiga iklan lainnya diputar selama turnamen golf Inggris Terbuka pada 23 Juli lalu, SAPRAC merogoh kocek US$ 6 untuk tiap iklan.

Richard Lau, profesor ilmu politik di Rutgers University, dengan spesialisasi pengaruh media dalam kampanye dan persuasi politik, menjelaskan iklan berulang-ulang merupakan kunci untuk mempengaruhi penonton. Dia menambahkan sedikitnya jadwal tayangan dan urasi iklan, serta hanya ditayangkan di Washington DC, menunjukkan ketujuh pariwara dibeli oleh SAPRAC itu hanya ditujukan bagi politisi.  

"Iklan itu cuma buat mempengaruhi kebijakan pemerintah terhadap negara-negara," kata Lau. "Tidak seperti sebuah kampanye di mana orang baal keluar dan memilih Arab Saudi atau Qatar."

Lau ragu ketujuh iklan itu bakal efektif mempengaruhi para ahli dan politisi di Washington DC. Alasannya, beberapa dari mereka memiliki banyak informasi sal kebijakan luar negeri Amerika dan sudah tertanam d
alam pikiran mereka soal siapa pendana organisasi-organisasi ekstremis di Timur Tengah.

SAPRAC, berkantir di Washington DC, dibentuk pada Maret 2016. Salman al-Ansari, penulis, pelobi, dan komentator politik asal Arab Saudi, adalah pendiri sekaligus Presiden SAPRAC.

Oktober tahun lalu, Al-Ansari memicu kontroversi ketika dia menulis perlunya hubungan erat antara Israel dan Arab Saudi. Dia menyebutkan Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman, menggantikan Pangeran Muhammad bin Nayif, sudah siap dan ingin membangun hubungan nyata dan kekal dengan Israel.

Penyair asal Qatar Muhammad bin Futais al-Marri. (Al-Arabiya)

Qatar cabut kewarganegaraan penyair karena bela Saudi

Qatar bulan lalu mencabut status kewarganegaraan atas 55 orang dari suku Al-Murrah.

Syekh Abdullah bin Ali ats-Tsani pada 16 Agustus 2017 bertemu Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman di Jeddah, Arab Saudi. (Supplied)

Qatar tahan 20 pangeran membangkang terhadap emir

Menurut para pangeran tersebut, mereka ditahan sebab memiliki hubungan langsung dengan Syekh Abdullah bin Ali ats-Tsani.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Al-Arabiya)

Snapchat blokir Al-Jazeera di Arab Saudi

Layanan Al-Jazeera di Snapchat itu tersedia di Arab Saudi sejak Mei lalu.

Kepala suku Al-Marri Syekh Talib bin Muhammad bin Lahum bin Syuraim. (Al-Arabiya)

Qatar cabut kewarganegaraan 55 orang dari suku Al-Marri

Qatar pernah mencabut kewarganegaraan lebih dari enam ribu orang dari suku Al-Ghufran pada 2005, juga tanpa alasan jelas.





comments powered by Disqus