kabar

Amerika prihatin soal buruknya kebebasan beragama di Arab Saudi

Amerika juga menyoroti perlakuan buruk terhadap penganut Nasrani, Bahai dan kelompok minoritas lainnya di Iran.

18 Agustus 2017 18:52

Amerika Serikat sangat prihatin terhadap buruknya kebebasan beragama di Arab Saudi, salah sekutu utama mereka di Timur Tengah.

"Pemerintah (Saudi) tidak mengakui hak-hak non-muslim untuk melaksanakan agama mereka di muka umum dan memberlakukan hukuman kejahatan, termasuk penjara, cambuk, dan denda bagi pelaku kasus murtad, atheisme, penistaan agama, dan penghinaan atas cara pandang negara atas ajaran Islam," kata Menteri Luar Negeri Amerika Rex W. Tillerson Senin lalu, dalam pidato peluncuran Laporan Kebebasan Agama Internasional 2016 di Ibu Kota Washington DC, seperti dilansir situs resmi Keementerian Luar Negeri Amerika, www.state.gov.

Tillerson bilang pemerintah Amerika juga prihatin lantaran Saudi terus menyasar kaum muslim Syiah, serta terus mengkampanyekan prasangka buruk dan diskriminasi terhadap mereka.

Komentarnya itu bertepatan dengan pengepungan sekaligus pengepungan oleh pasukan Saudi terhadap Awamiyah, kota kuno Syiah berusia 400 tahun berlokasi di sebelah timur negara Kabah itu. "Kami mendesak Arab Saudi meningkatkan kebebasan beragam untuk seluruh warga negaranya," ujar Tillerson.

Seorang sumber Albalad.co di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, membenarkan buruknya kebebasan beragama di negeri Dua Kota Suci tersebut. "Di Arab Saudi tidak ada gereja atau tempat beribadah agama lain," tuturnya melalui pesan WhatsApp kemarin.

Amerika juga menyoroti perlakuan buruk terhadap penganut Nasrani, Bahai dan kelompok minoritas lainnya di Iran. Tillerson menjelaskan negara Mullah itu masih memberlakukan hukuman mati bagi orang keluar dari agama Islam atau murtad.

Dia menyebutkan sepanjang tahun lalu Iran mengeksekusi 20 orang murtad. Anggota-anggota Bahai sampai sekarang juga mendekam dalam penjara karena mempertahankan keyakinan mereka.

Tillerson menambahkan pemerintah Turki juga masih membatasi hak-hak dari kelompok agama minoritas.

Di Bahrain, pemerintahnya terus menahan dan menangkapi ulama dan warga Syiah, serta para pembangkang. Rezim berkuasa di sana masih melakukan diskriminasi dalam hal pekerjaan, pendidikan, dan hukum terhadap pemeluk Syiah merupakan mayoritas. "Bahrain harus menghentikan diskriminasi terhadap masyarakat Syiah," kata Tillerson.    

Jam tangan bergambar mendiang Presiden Irak Saddam Husain dijual di Ibu Kota Baghdad. Polisi sudah menangkap lelaki penjualnya. (Media sosial)

Polisi Irak tangkap penjual jam tangan bergambar Saddam Husain

Saddam menjalani hukuman gantung pada 30 Desember 2006.

Raja Hamad bin Isa al-Khalifah dari Bahrain. (Albawaba)

Raja Bahrain kembalikan status kewarganegaraan 551 warganya

Dalam pengadilan massal pekan lalu, 138 orang diputus kehilangan kewarganegaraannya.

Petugas kebersihan mengumpulkan ribuan jangkrik mati di Masjid Nabawi, Kota Madinah, Arab Saudi. (Saudi Gazette)

Ribuan jangkrik serbu Masjid Nabawi

Lebih dari 150 petugas kebersihan telah diterjunkan untuk menyemprotkan pestisida dan mengumpulkan jangkrik-jangkrik mati.

Maha as-Subaii (28 tahun) dan adiknya Wafa as-Subaii (25 tahun), dua gadis asal Arab Saudi meminta suaka ke Georgia. (Twitter/@GeorgiaSisters)

Dua gadis Arab Saudi minta suaka ke Georgia

Bulan lalu, dua perempuan Saudi kabur ke Hong Kong dan berhasil mendapatkan visa setelah bersembunyi di sana berbulan-bulan. Keduanya telah mendapat suaka di sebuah negara.





comments powered by Disqus