kabar

Taipan Indonesia lunasi tunggakan gaji 12 TKI dipulangkan dari Yordania

Paling kecil US$ 2.400 dan terbesar US$ 24 ribu, tergantung pada berapa bulan gaji tidak mereka terima.

07 September 2017 22:54

Dato Tahir, bos Mayapada Group sekaligus pendiri Tahir Foundation, tidak kuasa menahan haru saat satu-satu tenaga kerja perempuan baru dipulangkan dari Yordania itu maju ke hadapannya, untuk menerima plakat berisi bantuan dia berikan. Dia sekali menyeka air mata menggunakan punggung tangan kanannya.

Malam ini, dengan pakaian khasnya - bercelana panjang hitam dan berkemeja putih lengan panjang - Dato Tahir didampingi Menteri Tenaga Kerja Muhammad Hanif Dhakiri, melunasi tunggakan gaji dari 12 perempuan Indonesia yang tidak dibayar oleh majikan mereka di Yordania. Para mantan tenaga kerja tersebut, baru tiba di Jakarta hari ini, kelihatan senang karena mereka tidak pulang dengan tangan hampa.

Besaran bantuan diterima masing-masing berbeda, tergantung pada berapa bulan gaji tidak mereka terima dari majikan. Paling kecil US$ 2.400 (Rp 31,9 juta) dan terbesar US$ 24 ribu (Rp 319,1 juta).

Kepada wartawan, Dato Tahir bilang sebagai orang berkelebihan harta dirinya wajib membantu yang kekurangan. "Siapa saja yang sengsara, meenderita, kita sebagai warga negara Indonesia kita mempunyai kewajiban untuk membagi," katanya. "Kita kebetulan orang yang termasuk golongan beruntung dan mereka termasuk golongan kurang beruntung."

Ketika melakukan kunjungan kemanusiaan menengok para pengungsi Suriah di kamp di Yordania, April lalu, Dato Tahir sempat singgah ke tempat penampungan sementara tenaga kerja Indonesia bermasalah, berlokasi di Kedutaan besar Republik Indonesia di Ibu Kota Amman.

Dalam kesempatan itu, Dato Tahir berharap dalam beberapa tahun ke depan tidak ada lagi tenaga kerja Indonesia bekerja di luar negeri sebagai pembantu rumah tangga.

Filantropis berharta US$ 2,8 miliar versi majalah Forbes 2017 itu belum bisa memastikan apakah bantuan serupa juga bakal dia berikan bagi tenaga-tenaga kerja Indonesia bermasalah di negara-negara lainnya. "Saya belum berani jawab itu," ujar lelaki 65 tahun tersebut.

Hanif Dhakiri menilai harapan disampaikan Dato Tahir agar tidak ada lagi warga Indonesia bekerja sebagai pembantu di luar negeri sangat mungkin di wujudkan. Dia menambahkan kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam program pelatihan calon buruh migran. "Itu akan dapat membantu meningkatkan keahlian ketika mereka akan bekerja di dalam negeri maupun dalam negeri," ujarnya.

Dia mengakui aara-rata buruh migran Indonesia terganjal dua hal, yakni masalah bahasa asing dan keahlian.   

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir bersama kelima cucu angkatnya di kamp pengungsi Suriah di Azrq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

UNHCR berhasil temukan lima cucu angkat Dato Tahir di Suriah

Mereka sudah kembali ke kampung halaman mereka di Daraa.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir saat berbincang dengan keluarga pengungsi asal Suriah di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Patah arang sinterklas Suriah datang

Setahun lalu, Dato Tahir datang dengan wajah sumringah. Dia senang bisa kembali bertemu lima cucu angkatnya.

UNHCR Eminent Advocate Dato Tahir saat berbincang dengan keluarga pengungsi asal Suriah di kamp Azraq, Yordania, 3 April 2017. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Dato Tahir kunjungi kamp pengungsi Suriah lagi

Selain ke Yordania, dia juga akan mengunjungi kamp pengungsi di Libanon.

Bos Mayapada Group Dato Tahir berbincang dengan satu keluarga pengungsi Suriah di kamp Azraq, Yordania, pada 27 Oktober 2016. (KBRI Amman buat Albalad.co)

Dato Tahir berencana tengok pengungsi di Libanon dan Irak

Dia sudah dua kali mengunjungi kamp pengungsi Suriah di Yordania.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Bin Salman larang pangeran-pangeran tidak setia pergi keluar negeri

Masih ada sekitar seratus anggota keluarga kerajaan menghuni penjara bawah tanah di istana Bin Salman.

25 April 2019

TERSOHOR