kabar

Indonesia minta penjelasan dan akses konsuler atas jihadis ditangkap di Marawi

Muhammad Ilham Syahputra sempat dinyatakan tewas beberapa bulan lalu.

02 November 2017 21:41

Pemerintah Indonesia meminta penjelasan resmi dari Filipina sekaligus akses kekonsuleran terhadap jihadis ditangkap di Kota Marawi, diklaim sebagai warga negara Indonesia.

Dalam jumpa pers mingguan hari ini di kantornya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir menjelaskan setelah mendengar informasi tersebut dari media, pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Davao dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ibu Kota Manila langsung meminta penjelasan resmi dari pemerintah dan pihak terkait di Filipina, serta menuntut akses kekonsuleran buat menemui Muhammad Ilham Syahputra.

Dia menekankan akses kekonsuleran itu diperlukan untuk memastikan apakah benar Ilham merupakan warga Indonesia. "Namun tidak ada pihak Filipina bisa memberikan konfirmasi resmi," kata Arrmanatha. "Jadi informasi diterima, baik dari pihak kepolisian Filipina maupun tentara, mereka menyatakan informasi informal ada yang mereka duga WNI ditangkap."

Tentara Filipina menyatakan sudah menangkap seorang warga Indonesia ikut bertempur bareng milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) di Marawi, Provinsi Lanao del Sur, selatan Filipina. Lelaki asal Medan tersebut bernama Muhammad Ilham Syahputra, 22 tahun.

Dalam jumpa pers kemarin, Kepala Kepolisian Lanao del Sur Senior Superintendent John Guyguyon menjelaskan militer menangkap Ilham saat pasukan melanjutkan operasi pembebasan Marawi, seperti dilansir stasiun televisi CNN.

Arrmanatha menambahkan Kementerian Luar Negeri pagi hari ini telah memanggil kuasa usaha sementara Kedutaan Besar Filipina di Jakarta. Namun Kedutaan Filipina di Jakarta belum bisa memberikan informasi resmi mengenai kabar penangkapan warga Indonesia di Marawi.

Menurut dia, KJRI Davao dan KBRI Manila terus meminta konfirmasi resmi dan akses kekonsuleran untuk memverifikasi berita di media tersebut.

Sesuai hukum internasional berlaku, pemerintah Filipina wajib memberitahu kantor perwakilan dilomatik Indonesia, KJRI Davao atau KBRI Manila, bila ada warga Indonesia yang ditangkap. Setelah itu, perwakilan Indonesia akan meminta akses kekonsuleran untuk memastikan orang dibekuk benar merupakan warga Indonesia.

Verifikasi ini dilakukan melalui wawancara dengan yang ditangkap dan mengecek dokumen perjalanan atau paspor mereka, asli atau palsu. Sehabis itu, pihak KJRI atau KBRI bisa memastikan yang bersangkutan benar atau bukan warga negara Indonesia.

Arrmanatha mengatakan sampai saat ini KJRI Davao atau KBRI Manila belum sampai pada tahap itu. Dia menegaskan kembali pemerintah belum bisa memastikan lelaki yang ditangkap itu adalah warga Indonesia karena KJRI atau KBRI belum mendapat notifikasi resmi dan akses kekonsuleran.

Dia menambahkan militer Filipina April lalu menyebutkan trelah menemukan paspr Indonesia, juga atas nama Muhammad Ilham Syahputra. Namun ketika KJRI dan KBRI meminta paspor tersebut untuk proses verifikasi belum diberikan sampai sekarang.

"Pihak Filipina juga menyampaikan nama orang dipaspor tersebut diduga meninggal dalam peperangan di Marawi," ujarnya. "KJRI Davao mencoba memverifikasi apakah benar ada jenazah atas nama orang itu, namun tidak didapatkan."

Guyguyon menjelaskan Ilham mengaku kepada penyidikbahwa dia masuk ke Filipina pada November tahun lalu. Ilham bilang datang ke Filipina atas undangan pemimpin Abu Sayyaf Isnilon Hapilon untuk membantu perjuangan ISIS di Filipina Selatan.

Militer Filipina bulan lalu berhasil menewaskan Hapilon dan Abdullah Maute dalam pertempuran di Marawi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

17 warga Indonesia berhasil dievakuasi dari Marawi

Tujuh warga Indonesia diduga ikut bersama ISIS menyerbu Marawi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

17 warga Indonesia selamat meski ISIS serbu Marawi

Jihadis ISIS asal Indonesia tewas dalam pertempuran dengan pasukan Filipina.

Jihadis ISIS asal Indonesia Abu Muhammad al-Indunisi berpose sebelum melakukan serangan bunuh diri di Kota Palmyra, Suriah. (Al-Masdar News)

Bahrumsyah masih hidup

"Setahu kami, dia (Bahrumsyah) masih hidup," kata Sidney.

Kepala BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) Komisaris Jenderal Suhardi Alius. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

80 anak Indonesia ikut ISIS di Suriah

Sebanyak 75 warga Indonesia, termasuk anak-anak, ingin menyeberang ke Suriah dideportasi dari Turki.





comments powered by Disqus