kabar

Tiga hal mesti diketahui soal mendiang Ali Abdullah Saleh

Saleh mengembuskan napas terakhirnya dengan menyisakan korupsi, perang, dan rakyat terbelah di negeri Arab termiskin tersebut.

05 Desember 2017 06:37

Pemimpin milisi Al-Hutiyun Abdul Malik al-Hutiyun kemarin bilang tewasnya mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh sebagai kejadian luar biasa dan bersejarah.

Dia menyerukan unjuk rasa besar-besaran hari ini di Ibu Kota Sanaa atas apa yang dia sebut kecelakaan hadian dari Tuhan atas kematian Saleh.

Milisi Al-Hutiyun, menguasai Sanaa sejak dua tahun lalu, membenarkan Saleh terbunuh setelah mereka menembaki mobil dia tumpangi di Sanaa dengan senapan jitu dan roket peluncur granat.

Saleh mengembuskan napas terakhirnya dengan menyisakan korupsi, perang, dan rakyat terbelah di negeri Arab termiskin tersebut.  

Berikut tiga hal mesti diketahui mengenai Saleh:

* Dia adalah salah satu pemimpin paling lama berkuasa di dunia Arab

Saleh mengambil alih Yaman Utara pada 1978 dan menjadi presiden Yaman sejak 1990. Setelah 33 tahun di tampuk kekuasaan, dia berhasil digulingkan lewat protes besar-besaran selama berbulan-bulan terhadap masalah kemiskinan, pengangguran, dan korupsi bersalin rupa menjadi konflik berdarah.

Para aktivis menuding Saleh menggunakan kekerasan berlebihan dalam menghadapi para demonstran.

* Pemerintahannya termasuk paling korup sejagat

Setelah Saleh lengser, Perserikatan Bangsa-Bangsa menemukan bukti dirinya berhasil mengumpulkan kekayaan antara US$ 22 miliar hingga US$ 60 miliar melalui korupsi. Hartanya tersebar di sedikitnya 22 negara.

* Dia memiliki reputasi selalu berubah aliansi demi menjaga kekuasaannya

Dia pernah beraliansi dengan Presiden Irak Saddam Husain dan menyokong Irak selama Perang Teluk Pertama.

Ketika Arab Saudi mulai menggempur Yaman, dia memulangkah lebih dari sejuta warganya dari negara Kabah itu sehingga kian memperberat kondisi ekonomi Yaman.

Setelah serangan 11 September 2001, Saleh menjadi salah satu sekutu Amerika Serikat terpenting dan mengizinkan pesawat-pesawat nirawak Amerika mengebom sasaran-saran milik Al-Qaidah di Yaman. Sebagai balasannnya, Yaman memperoleh bantuan puluhan juta dolar Amerika.

Pada 2011, Saleh bersedia mundur dengan menandatangani sebuah kesepakatan ditengahi oleh GCC (Dewan Kerja Sama Teluk), namun di akhir 2014 Saleh kembali muncul di panggung politik dan bersekutu dengan milisi Al-Hutiyun, diyakini mendapat sokongan dari Iran.

Dua hari jelang kematiannya, Saleh dalam sebuah pidato di 2 Desember lalu menyatakan secara resmi berkongsi dengan Al-Hutiyun. Dia bilang dirinya ingin membuka dialog dengan pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi telah menggempur Al-Hutiyun sejak Maret 2015.

Keputusan Saleh ini memicu pertenpuran sengit antara Al-Hutiyun dengan pasukan loyalis Saleh. Dia tewas setelah mobil dia tumpangi diberondng penembak jitu dan roket peluncur granat.

Grafiti menentang perang di Yaman. (Middle East Monitor)

Ambisi bobrok Arab Saudi dalam Perang Yaman

Sebanyak 31 persen serangan udara mengincar target-target non-militer, termasuk 386 areal pertanian, 183 pasar, 102 instalasi air dan listrik, serta 62 gudang makanan.

Paspor milik Abdul Munthalib Husain Ali, warga Mesir tewas akibat pecahan peluru kendali ditembakkan milisi Al-Hutiyun dari Yaman ke Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Al-Arabiya)

Peluru kendali Al-Hutiyun hantam Riyadh tewaskan satu orang

Namun serangan dilakukan sejak Maret 2015 itu boleh dibilang gagal karena belum mampu menumpas Al-Hutiyun.

Pemberontak Al-Hutiyun di luar istana presiden di Ibu Kota Sanaa, Yaman. (www.bbc.com)

Pisah Yaman

Kekalahan koalisi di Yaman Selatan bisa mengakhiri bulan madu antara UEA dan Saudi dalam Perang Yaman.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Seribu hari Perang Yaman

"Kita sedang menyaksikan sebuah blokade mirip abad pertengahan di mana kelaparan massal dipakai sebagai senjata perang," kata CEO Oxfam Mark Goldring.





comments powered by Disqus