kabar

Seribu hari Perang Yaman

"Kita sedang menyaksikan sebuah blokade mirip abad pertengahan di mana kelaparan massal dipakai sebagai senjata perang," kata CEO Oxfam Mark Goldring.

20 Desember 2017 20:41

Pekan ini menandai seribu hari perang meletup di Yaman, sejak pasukan koalisi Arab dipimpin Arab Saudi menggempur pemberontak Al-Hutiyun.

Pasukan gabungan terdiri dari Saudi, Bahrain, Mesir, Yordania, Kuwait, Maroko, Sudan, dan Uni Emirat Arab ini mulai memerangi milisi Syiah Al-Hutiyun sedari Maret 2015. Mereka beralasan ingin mengembalikan pemerintahan sah di Yaman dipimpin oleh Presiden Abdu Rabbu Mansur Hadi.

Pemberontakan oleh Al-Hutiyun, sokongan Iran, dimulai saat Presiden Ali Abdullah Saleh berkuasa pada 2011. Setelah unjuk rasa besar-besaran, Saleh terpaksa menyerahkan tampuk kekuasaan kepada wakilnya, Hadi.

Pada 2012, Al-Hutiyun bersekutu dengan pasukan loyalis Saleh merebut Ibu Kota Sanaa. Tiga tahun kemudian, Presiden Hadi mengungsi ke Kota Aden, selatan yaman, dan akhirnya mengasingkan diri ke Arab Saudi.

Atas permintaan Hadi, mulai Maret 2015, Arab Saudi memimpin serangan militer ke Yaman. Ini merupakan intervensi militer pertama dilakoni negara Kabah itu.

Sejak tahun lalu, milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) serta Al-Qaidah memanfaatkan situasi keamanan buruk di Yaman untuk merebut beberapa wilayah.

Tahun ini, mantan Presiden Saleh memutuskan aliansi dengan Al-Hutiyun, hingga akhirnya dia dibunuh oleh pemberontak Syiah tersebut.

Dalam laporannya hari ini, Oxfam memperingatkan jutaan rakyat Yaman terancam kelaparan lantaran pasukan koalisi Saudi terus memblokade pelabuahn di utara Yaman, sehingga bantuan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan tidak bisa masuk.

"Kita sedang menyaksikan sebuah blokade mirip abad pertengahan di mana kelaparan massal dipakai sebagai senjata perang," kata CEO Oxfam Mark Goldring.

Oxfam menyebutkan selama seribu hari perang meletup di Yaman, sebanyak 8.750 orang tewas, termasuk hampir lima ribu warga sipil, dan 58.600 lainnya luka. Sedangkan tiga juta lainnya mengungsi.    

Save the Children bulan lalu memperingatkan sampai akhir tahun ini 50 ribu anak di Yaman bisa meninggal. Perserikatan Bangsa-Bangsa bilang satu anak mengembusnapas terakhir saban sepuluh menit akibat diare, infeksi pernapasan, dan kekuarangan gizi.

Perang telah mengakibatkan 17 juta dari 27,4 juta jumlah penduduk kekurangan makanan. Sebanyak 6,8 juta di antaranya mengalami kelaparan akut.

Situasi kian diperparah oleh merebaknya wabah kolera tahun initelah menyebabkan 2.220 orang meninggal dari 914 ribu penderita.

Keterlibatan Saudi kian membikin runyam Yaman namun dunia terus bungkam.

Facebook menghapus artikel the New York Times soal gadis kelaparan di Yaman. (Al-Bawaba)

Facebook hapus artikel soal gadis kelaparan di Yaman

Sejatinya, artikel ini mengecam keterlibatan Arab Saudi dan UEA karena menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di Yaman.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Argentina selidiki dugaan kejahatan perang anak Raja Salman dalam Perang Yaman

Save the Children mengatakan 85 ribu anak berumur di bawah lima tahun mati kelaparan di Yaman sejak 2015.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Dua pilot Arab Saudi tewas di Yaman

Keterlibatan pasukan koalisi Saudi di Yaman membikin negara Saba itu mengalami tragedi kemanusiaan.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Pasukan koalisi Arab Saudi akui ledakkan bus sekolah menewaskan 40 anak di Yaman

Dua pekan setelah pengeboman bus sekolah di Saadah, serangan pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi terhadap Kota Al-Hudaidah menewaskan paling sedikit 26 anak.





comments powered by Disqus