kabar

Janda mendiang Raja Fahad menolak pulang ke Arab Saudi

Lusinan pangeran, pebisnis, dan mantan menteri lari ke Eropa, terutama London dan Paris.

06 Februari 2018 20:01

Kampanye antikorupsi dilancarkan Putera Mahkota Arab Pangeran Muhammad bin Salman selama tiga bulan, November 2017-Januari 2018, menyasar keluarga mendiang Raja Fahad bin Abdul Aziz dan almarhum Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Anak-anak dari kedua penguasa negara Kabah itu ditangkapi. Konglomerat dan pejabat dinilai mengruk kekayaan negara dibekuk.

Penangkapan besar-besaran, dimulai 4 November tahun lalu itu, atas perintah Komisi pemberantasan Korupsi diketuai oleh Pangeran Muhammad bin Salman. Namun dua pekan lalu kampanye antirasuah tersebut berakhir dan rombongan tahanan dibebaskan termasuk pemilik Kingdom Holding Company Pangeran Al-Walid bin Talal bin Abdul Aziz.

Jaksa Agung Arab Saudi Saud al-Mujib bilang kompromi dengan para tersangka korupsi ini menghasilakn dana US$ 106,7 miliar. Masih ada 56 orang menlak bernegosiasi sehingga masih terus ditahan dan bakal diadili.

Salah satu menjadi sasaran kampanye antikorupsi itu adalah Puteri Jauhara al-Ibrahim, janda mendiang Raja Fahad dan menjadi istri kesayangan semasa penguasa negara Dua Kota Suci itu masih hidup. Dia kini tinggal di istana sangat besar di Collonge-Bellerive, Swiss dengan harga puluhan miliar dolar Amerika Serikat.

"Dia diminta kembali ke Arab Saudi tapi dia menolak," kata seorang sumber mengetahui hal itu.

Sumber lainnya dekat dengan keluarga kerajaan Arab saudi membenarkan Puteri Jauhara juga diinterogasi. "Dia tidak dalam bahaya dan tinggal dengan tenang di istananya di Swiss," ujarnya.

Abang-abang dari Puteri Jauhara, begitu berkuasa saat Raja Fahad masih bernapas, kalah kaya ketimbang Puteri Jauhara. Setidaknya tiga abangnya Puteri Jauhara sempat ditahan di Hotel Ritz Carlton namun telah dibebaskan.

Salah satunya adalah Walid al-Ibrahim, pemilik grup media MBC, jaringan stasiun televisi terbesar di Arab Saudi. Dia tetap menguasai 40 persen saham namun sisanya diambil alih oleh pemerintah Arab Saudi.

Gegara kampanye antirasuah tersebut, kaum Arab supertajir di Arab Saudi terguncang. Lusinan pangeran, pebisnis, dan mantan menteri lari ke Eropa, terutama London dan Paris.

Di Kota Jenewa, 20 orang dari satu keluarga mendapat izin tinggal tetap Desember lalu. "Tidak ada hukum lagi di Arab Saudi," ucap salah satu dari mereka.

Seorang pengusaha Arab Saudi mencari perlindungan ke Eropa menilai tindakan dilakukan Pangeran Muhammad bin Salman itu bukan memberantas rasuah, tapi perang terhadap keluarga dari raja-raja Saudi sebelumnya. "Kami takut komunikasi kami disadap atau bahkan kami akan diculik."

Kiri ke kanan: Syekh Salman al-Audah, Syekh Awad al-Qarni, dan Dr. Ali al-Umari. (Twitter)

Arab Saudi pecat tiga imam masjid karena kebebasan berekspresi

Arab Saudi juga berencana memenggal kepala tiga ulama moderat sehabis Ramadan tahun ini, yakni Syekh Salman al-Audah, Syekh Awad al-Qarni, dan Dr. Ali al-Umari.

Kiri ke kanan: Syekh Salman al-Audah, Syekh Awad al-Qarni, dan Dr. Ali al-Umari. (Twitter)

Arab Saudi akan eksekusi mati tiga ulama sehabis Ramadan

"Arab Saudi tidak akan menunggu sampai vonis mati dikeluarkan untuk mengeksekusi mereka," kata seorang sumber.

Iyad al-Baghdadi, aktivis prodemokrasi tinggal di Norwegia menjadi sasaran pembunuhan Arab Saudi. (Twitter)

Tiga teman Khashoggi terancam dibunuh oleh Arab Saudi

Ketiga orang ini adalah Iyad al-Baghdadi (tinggal di Norwegia), Umar Abdul Aziz (menetap di Kanada), dan satu orang belum diketahui identitasnya dan bermukim di Amerika.

Iyad al-Baghdadi, aktivis prodemokrasi tinggal di Norwegia menjadi sasaran pembunuhan Arab Saudi. (Twitter)

Arab Saudi incar aktivis prodemokrasi di Norwegia untuk dibunuh

Baghdadi bilang polisi Norwegia datang ke rumahnya pada 25 April dan membawa dia lokasi aman dan dirahasiakan.





comments powered by Disqus