kabar

KJRI Jeddah paksa majikan pulangkan ekspatriat asal Indramayu

"Anak saya sampe sekarang tidak tahu muka saya," kata Wawas.

13 Maret 2018 16:09

Umumnya kasus menimpa ekspatriat asal Indonesia berupagaji tidak dibayar atau telat dibayar, hilang kontak dengan keluarga, penganiayaan oleh majikan. Namun belakangan ini, setelah pemerintah menyetop pengiriman buruhh migran sektor ke Arab Saudi, marak kasus mereka sulit pulang ke tanah air.
 
Seperti dialami Wawas Anulas Sari binti Kandeg. Perempuan dari Indramayu, Jawa Barat, ini sudah tujuh tahun bekerja pada sebuah keluarga di Jeddah. Selama itu pula dia tidak pernah menengok keluarganya di kampung halaman meski masa kontraknya telah habis.

Sesuai kontrak, Wawas mestinya berhak mengambil cuti dan pulang ke Indramayu  Perempuan setengah abad itu telah berkali-kali minta pulang untuk menjenguk keluarganya di Indramayu, tapi dia hanya dijanjikan dengan dalih menunggu penggantinya.  
 
"Udah ambil pembantu dari Vietnam, udah satu tahun. Kenapa saya nggak boleh pulang, karena pegang (jaga) majikan laki-laki dulu, sebab lagi sakit," kata Wawas setibanya di rumah singgah sementara di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Jeddah, seperti dilansir siaran pers diterima Albalad.co hari ini.
 
Ibu satu anak ini berkali-kali bilang kepada majikannya ingin pulang karena anaknya, dia tinggalkan sejak berusia tiga tahun, sakit-sakitan. Anak tunggalnya itu kini menetap bersama suaminya di Jakarta.
 
Dia sendiri mengaku tidak tahu harus bagaimana dan melapor ke mana. Sampai suatu hari masuklah sebuah pesan singkat ke telepon seluler Konsul Jenderal Indonesia di Jeddah Mohamad Hery Saripudin dari salah satu lembaga nirlaba di Indramayu, berisi pengaduan dari keluarga Wawas.
 
Pesan tersebut segera diteruskan kepada Staf Teknis Tenaga Kerja KJRI Jeddah Mochamad Yusuf. Bersama timnya, Yusuf bergerak melacak keberadaan Wawas belakangan terdeteksi tinggal di Tahlia, daerah tidak jauh dari kantor KJRI Jeddah.  
 
"Saya telepon langsung dia (Wawas). Saya dapat informasi telepon majikannya. Waktu saya telepon, ternyata dia angkat," ujar Yusuf. "Kami menyiapkan beberapa opsi untuk mengeluarkan dia dari rumah majikan."

Yusuf menambahkan dia bersama timnya tidak bisa langsung masuk ke rumah majikan karena tindakan itu melanggar hukum. "Kami mencoba mendekati rumah majikan dan minta Wawas keluar rumah," tuturnya. "Karena terlalu banyak orang lalu-lalang di sekitar rumah itu (majikan). Terlalu riskan. Akhirnya, kami menjauh dan minta Wawas keluar rumah naik taksi."

Berbekal uang 50 riyal, sekitar pukul sepuluh pagi waktu setempat, Wawas akhirnya meninggalkan rumah majikannya saat mereka dalam keadaan tidur.
 
Di hari sama, Yusuf memanggil majikan Wawas untuk datang ke KJRI Jeddah. Datanglah anak laki-laki majikan mewakili karena ayahnya sudah sakit-sakitan setahun belakangan ini.
 
Yusuf berbicara secara kekeluargaan dan pihak majikan menyanggupi akan memulangkan Wawas dalam tempo dua minggu. Selain itu, majikan diminta membikin surat perjanjian dan surat pernyataan memang gajinya telah dibayarkan semua.

Menurut Wawas, majikan dan keluarganya cukup baik.Dia lancar menerima gaji dan bahkan dinaikkan. Namun dia hanya ingin pulang karena kangen sama anak semata wayangnya, dia tinggalkan bersama suaminya sejak tujuh tahun lalu. "Saya tuh kangen sama anak saya. Anak saya sampe sekarang tidak tahu muka saya," katanya.
 
Saat melepas keberangkatan Wawas, perempuan ini disarankan untuk memanfaatkan  memanfaatkan hasil jerih payahnya selama bekerja di Arab Saudi dengan sebaik-baiknya. "Seberapa besar uang itu kalau hanya untuk belanja, pasti cepat habis. Manfaatkan sebagai modal usaha. Buka warung untuk jualan atau apa saja bisa menghasilkan," ujar Heri Saripudin.
 
Wawas Anulas Sari binti Kandeg, anak pertama dari tiga bersaudara, berangkat ke Arab Saudi pada 2011 dan bekerja di Jeddah. Gajinya sebagian besar telah dikirimkan melalui anak majikannya dan sesuai pengakuannya telah diterima oleh pihak keluarga di kampung halamannya untuk membeli beberapa bidang tanah.

Perempuan yang usianya dibuat tua di paspor saat berangkat ke Arab Saudi ini dipulangkan ke tanah air hari ini.

Rekaman video memperlihatkan seorang tentara Libanon menghadang pasukan Israel agar tidak melewati batas kedua negara. Kejadiannya di Desa Mais al-Jabal, Distrik Marjayun, Libanon Selatan. (Twitter)

Seorang tentara Libanon todong pasukan Israel agar tidak lewati batas kedua negara

Tentara Libanon tidak disebut namanya ini berteriak ke arah pasukan Israel, "Mundur ke belakang pohon, jangan lewati tapal batas."

Yair Netanyahu dan pacarnya Sandra Leikanger. (dagen.no)

Facebook blokir akun anak Netanyahu karena berkomentar anti-muslim

"Semua orang Yahudi pergi (dari Israel) atau warga Palestina angkat kaki," tulis Yair. "Saya lebih suka pilihan kedua."

Facebook menghapus artikel the New York Times soal gadis kelaparan di Yaman. (Al-Bawaba)

Facebook hapus artikel soal gadis kelaparan di Yaman

Sejatinya, artikel ini mengecam keterlibatan Arab Saudi dan UEA karena menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di Yaman.

Halimah Sudin, warga Indonesia dirawat di Rumah Sakit Universitas Raja Abdul Aziz di Kota Jeddah, Arab Saudi. KJRI jeddahmengurus perempuan ditemukan diparkiran rumah sakit itu pada 6 September. dan dipulangkan pada 23 September 2018. (KJRI Jeddah buat Albalad.co)

KJRI Jeddah urus warga Indonesia ditemukan terkapar di parkiran rumah sakit

Halimah berstatus pendatang ilegal. Dia masuk ke Arab Saudi pada 2006, kemudian menetap dan bekerja secara tidak sah.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Seorang tentara Libanon todong pasukan Israel agar tidak lewati batas kedua negara

Tentara Libanon tidak disebut namanya ini berteriak ke arah pasukan Israel, "Mundur ke belakang pohon, jangan lewati tapal batas."

18 Desember 2018

TERSOHOR