kabar

Protes eksekusi Zaini, aktivis buruh berdemonstrasi di depan Kedutaan Besar Saudi

"Kita bicara dengan Saudi ini kadang rasanya seperti bicara dengan tembok," kata Anis. "Dengan bahasa diplomasi, di depan mereka baik tetapi kemudian eksekusi dilakukan."

20 Maret 2018 18:05

Kontroversi seputar eksekusi terhadap Zaini Misrin bin Muhammad Arsyad, tenaga kerja asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur, di Arab Saudi, terus berlanjut. Protes dan kecaman dilontarkan terhadap pemerintah negara Kabah itu.

Para aktivis buruh dari Migrant Care, Human Rights Watch Group (HRWG), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), dan Jaringan Buruh Migran hari ini berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta. Dalam orasinya, para aktivis proburuh migran ini mengecam pemerintah Arab Saudi karena melaksanakan hukum pancung terhadap Zaini tanpa memberitahu pihak keluarga melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ibu Kota Riyadh atau Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Jeddah.

Para aktivis buruh juga mengkritik pelaksanaan hukuman mati atas Zaini karena terjadi saat proses peninjauan kembali terhadap perkara Zaini baru dimulai. Mereka memandang apa yang dilakukan pemerintah Arab Saudi terhadap Zaini merupakan bentuk pelecehan kepada pemerintah Indonesia.

Para aktivis buruh ini mendesak pula pemerintah Arab Saudi untuk menghentikan eksekusi terhadap buruh migran Indonesia.

Mereka membawa banyak spanduk. Dia antaranya bertulisan Pekerja Migran Bukan Hewan Kurban, dan Saudi Atabia, Please Stop Beheading Indonesian Migrant Workers (Arab Saudi, Tolong Hentikan Memancung Pekerja Migran Indonesia). Para pengunjuk rasa juga meneriakkan yek-yel "Arab Saudi pembunuh."

Demonstran juga melakukan aksi teatrikal menggambarkan pemancungan terhadap seorang buruh migran asal Indonesia.

Kepada wartawan, Ketua Pusat Studi Migrasi Migrant Care Anis Hidayah mengakui pemerintah Arab Saudi telah melanggar hukum internasional. Sebab sesuai Konvensi Wina, pemerintah negara manapun harus memberitahu perwakilan negara bersangkutan akalau ada warga negara asing akan dieksekusi.

Dia menambahkan perlu strategi baru dalam berdiplomasi dengan Arab Saudi karena surat dari Presiden Joko Widodo atau pun pembahasan kasus Zaini secara langsung dalam pertemuan dengan Raja Salman bin Abdul Aziz tidak mampu membebaskan Zaini dari hukuman mati.

"Karena tidak mudah. Kita bicara dengan Saudi ini kadang rasanya seperti bicara dengan tembok," kata Anis. "Dengan bahasa diplomasi, di depan mereka baik tetapi kemudian eksekusi dilakukan."

Dia berharap lembaga-lembaga non-negara, lembaga keagamaan, seperti Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah, proaktif melakukan pendekatan kepada pemerintah Arab Saudi agar mereka tidak melanjutkan tindakan brutal dengan mengeksekusi buruh migran. Apalagi, lanjut dia, dalam proses hukum banyak terbukti pekerja migran tidak bersalah dan cuma menjadi korban.

Anis menilai posisi tawar Indonesia Indonesia terhadap Arab Saudi rendah dalam soal buruh migran. Karena itu dia menyarankan pemerintah harus memperbaiki tata kelola pengiriman tenaga kerja ke luar negeri dan meningkatkan kualitas diplomasi.

Supiadin, Anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Partai Nasional Demokrat, mengungkapkan pihaknya akan memanggil Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk membahas persoalan pekerja migran Indonesia terancam hukuman mati di Arab Saudi. "Karena ini masalah prinsip, nanti kita akan pertimbangkan apa langkah-langkah berikutnya harus kita lakukan terhadap Arab Saudi," ujarnya.

Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, mengakui pemerintah kaget karena tidak mendapat pemberitahuan. Dia menyebutkan pelaksanaan hukuman mati terhadap Zaini tersebut diperkirakan berlangsung pada Ahad pukul 11.30 waktu Makkah atau jam 15.30 waktu Jakarta.

Zaini pertama kali berangkat ke Arab Saudi pada 1992 untuk bekerja sebagai sopir pribadi. Dia kembali ke Indonesia dan pada 1996 berangkat untuk kedua kalinya dan bekerja kepada majikan yang sama sebagai sopir pribadi, sapai dengan terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap majikannya pada 13 Juli 2004.

Lebih lanjut Iqbal mengungkapkan pada 13 Juli 2004, Zaini ditangkap Kepolisian Makkah atas laporan anak kandung krban. Dia dituduh membunuh majikannya bernama Abdullah bin Umar.

Data Kementerian Luar Negeri menyebutkan selama 2011-2018 terdapat 102 warga Indonesia terancam hukuman mati di Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, 79 orang berhasil dibebaskan, tiga orang dieksekusi, dan 20 lainnya masih dalam penanganan.

Dari 20 warga Indonesia yang masih terancam hukuman mati di Arab Saudi, 15 orang atas dakwaan pembunuhan dan lima lainnya perkara sihir.            

Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Syekh Ahmad Thayyib di Abu Dhabi, 4 Februari 2019. (WAM)

Putera mahkota Abu Dhabi kunjungi Indonesia pekan depan

Ini bakal menjadi kunjungan pertama putera mahkota Abu Dhabi ke Indonesia.

Pencarian pemuda Israel hilang di Bali dihentikan

Aviv berlibur ke Bali sendirian dan ini merupakan lawatan pertamanya ke Indonesia. Dia tiba di Bali pada 25 Mei lalu.

Kabah dilihat dari lantai atas Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi, 17 Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Arab Saudi eksekusi lalu salib mayat lelaki Myanmar

Seorang lelaki Yaman pada 2010 dieksekusi dan jenazahnya disalib di muka umum lantaran memperkosa dan membunuh seorang gadis, serta menembak mati ayahnya.

Konsul Jenderal Indonesia di Jeddah, Arab Saudi, Mohamad Hery Saripudin saat menerima perwakilan dari kantor pengacara Turki Abdullah al-Hamid di kantornya. (KJRI Jeddah buat Albalad.co)

KJRI Jeddah sewa pengacara buat ungkap pembunuh warga Indonesia

Pembunuhan terhadap Enok binti Empan Hasan terjadi pada 4 Desember 2016 di Distrik Al-Wurud, Jeddah. Hingga kini pelaku belum diketahui.





comments powered by Disqus