kabar

Indonesia bebaskan enam warganya disandera di Benghazi

Mereka ditawan selama tujuh bulan.

02 April 2018 17:22

Pemerintah Indonesia berhasil membebaskan enam warganya disandera di Kota Benghazi, Libya. Setelah disekap sebuah milisi selama tujuh bulan, keenam anak buah kapal itu dibebaskan Selasa pekan lalu.

Keenam anak buah kapal pernah menjadi sandera itu bekerja pada kapal Salvador VI berbendera Malta. Mereka adalah Ronny William dari Jakarta, Joko Haryadi (Blitar), dan empat lainnya berasal dari Tegal, yakni Haryanto, Waskita, Saefudin, dan Muhammad Abudi

Proses serah terima antara keenam mantan sandera di Benghazi ini kepada keluarganya dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di kantornya hari ini.  

Dalam sambutannya, Retno menjelaskan keenam anak buah kapal tersebut disandera oleh sebuah kelompok bersenjata di Benghazi sejak 23 September tahun lalu, namun dia tidak menyebutkan nama milisi ini.

Dia menambahkan Kementerian Luar Negeri baru menerima informasi tentang ada enam warga Indonesia disandera di Benghazi lima hari kemudian. Sejak saat itulah, semua kontak dilakukan, termasuk dengan pemilik kapal, keluarga, dan sempat berkomunikasi dengan para sandera untuk memastikan mereka dalam keadaan selamat.

Menurut Retno, proses pembebasan dilakukan atas kerja sama antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tripoli (Libya), KBRI di Tunis (Tunisia), dan Badan Intelijen Negara. "Pada 27 Maret 2018 sekitar pukul 12:30 waktu setempat, enam ABK WNI dapat diambil atau diserahkan oleh kelompok bersenjata di Benghazi, Libya, kepada tim pembebasan gabungan dari Kemlu, BIN, dan KBRI Tripoli," katanya.

Dia menekankan proses pembebasan sandera tidak mudah karena situasi politik dan keamanan di Libya tidak menentu. Benghazi berada di bawah kekuasaan pemerintahan yang berseberangan dengan pemerintah di Tripoli, yang diakui oleh masyarakat internasional. Sedangkan rezim satunya lagi berpusat di Kota Tobruk, timur Libya.  

Lalu Muhammad Iqbal, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, menekankan tidak ada uang tebusan dibayar untuk membebaskan keenam warga Indonesia itu.

Dia menjelaskan setelah menjalin hubungan secara intensif dengan kelompok penyandera dan pihak-pihak terkait di Benghazi, tim pembebasan gabungan akhirnya berangkat ke Libya melalui Tunisia pada 23 Maret 2018. Dari Tunis, tim pembebasan terbang ke Benghazi.

Iqbal mengatakan penyerahan keenam sandera tadinya akan dilakukan sehari setelah tim pembebasan tiba di Benghazi, namun hingga hari kedua belum disepakati mengenai lokasi serah terima sandera. Sesuai kesepakatan, lanjut dia, serah terima sandera dilakukan pada 27 Maret di pelabuhan ikan di Benghazi.    

"Ketika mereka ditangkap oleh milisi pada 23 September 2017, seluruh isi kapal dirampas, Mulai dari alat navigasi, komunikasi, dan bahkan kulkas diambil semuanya," ujar Iqbal. "Barang pribadi, uang diambil, bahkan sampai pakaian dalam mereka pun diambil."

Dia menambahkan baru pada Desember 2017, pihak KBRI Tripoli menjalin hubungan dengan kelompok penyandera dan disepakati mulai bulan itu keenam sandera diberikan alat komunikasi.  

Salah satu mantan sandera, Ronny William, menjelaskan selama seminggu pertama ditangkap, dia dan kelima rekannya ditaruh di dalam kontainer di sebuah pelabuhan ikan di Benghazi. Baru kemudian dipindahkan ke pelabuhan ikan lainnya.

"Di pelabuhan satu itu baru kami merasa aman karena milisi berbaik hati. Kita kadang kekurangan makanan, mereka kadang kasih," tuturnya.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman saat mengunjungi Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi. (Bandar al-Galud)

Putera mahkota Arab Saudi batalkan lawatan ke Indonesia

Kunjungan ke Mayasia juga dibatalkan.

Menteri Luar Negeri Yaman duduk di samping Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat pembukaan konferensi perdamaian di Timur Tengah, digelar pada 14 Februari di Ibu Kota Warsawa, Polandia. (Arab Observer)

Menteri luar negeri Yaman duduk di sebelah Netanyahu

Mikrofon di meja Netanyahu mati waktu dia ingin berbicara. Al-Yamani lantas memberikan mikroponnya untuk digunakan oleh pemimpin dari negara Zionis itu.

Keharuan menyelimuti proses penyerahan empat mantan sandera Indonesia di Somalia oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di kantornya, 31 Oktober 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Empat mantan sandera di Somalia diserahkan kepada keluarga

Keempat pelaut Indonesia ini termasuk dalam 26 sandera dibebaskan oleh perompak Somalia pada 22 Oktober lalu.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada 24 Oktober 2016 memberikan jumpa pers soal pembebasan 26 sandera oleh perompak Somalia, termasuk empat pelaut Indonesia. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Satu pelaut Indonesia meninggal saat disandera perompak Somalia

Pemerintah membantah membayar uang tebusan untuk membebaskan empat pelaut itu.





comments powered by Disqus