kabar

Qatar bayar tebusan Rp 3,8 triliun buat bebaskan sembilan pangeran diculik di Irak

Pembayaran tebusan ini bagian dari kesepakatan lebih luas melibatkan Turki, Hizbullah, Iran, dan dua kelompok pemberontak di Suriah, termasuk Jabhat Nusrah.

04 Mei 2018 10:07

Qatar membayar tebusan sebesar US$ 275 juta atau kini setara Rp 3,8 triliun untuk membebaskan 25 warganya, termasuk sembilan pangeran, diculik di Irak.

Uang tebusan ini dibayarkan melalui pihak ketiga, seperti dilansir the Washington Post Sabtu pekan lalu. Fulus itu termasuk US$ 150 juta untuk pihak ketiga membantu pembebasan mereka.  

Surat kabar ini memperoleh informasi itu dari seorang pejabat pemerintah asing memberikan bocoran percakapan melalui telepon seluler dan beragam pesan dalam bahasa Arab.

Para pejabat Qatar berupaya keras membebaskan 25 warganya diculik saat sedang berburu di selatan Irak pada November 2015. Mereka akhirnya dilepaskan pada April tahun lalu.

Orang-orang Suriah, Hizbullah, Kataib Hizbullah, Irak, semuanya ingin duit dan inilah kesempatan mereka," kata Zayid Ain al-Khayarin, Duta Besar Qatar untuk Irak sekaligus ketua juru runding dalam pembebasan sandera warga Qatar, dalam sebuah pesan. "Mereka semuanya maling."

Pembayaran tebusan ini bagian dari kesepakatan lebih luas melibatkan Turki, Hizbullah, Iran, dan dua kelompok pemberontak di Suriah, termasuk Jabhat Nusrah.

Pemerintah Qatar menolak klaim membayar tebusan untuk membebaskan 25 warganya.

Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Syekh Ahmad Thayyib di Abu Dhabi, 4 Februari 2019. (WAM)

Putera mahkota Abu Dhabi kunjungi Indonesia pekan depan

Ini bakal menjadi kunjungan pertama putera mahkota Abu Dhabi ke Indonesia.

Pencarian pemuda Israel hilang di Bali dihentikan

Aviv berlibur ke Bali sendirian dan ini merupakan lawatan pertamanya ke Indonesia. Dia tiba di Bali pada 25 Mei lalu.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Arab Saudi dukung kebijakan Cina tindas muslim Uighur

Arab Saudi sekawan menyatakan Cina berhasil mengembalikan stabilitas keamanan di Xinjiang dan menjamin hak asasi manusia bagi semua kelompok etnis di sana.

Profesor David Elad dari Universitas Tel Aviv, Israel. (eurekalert.org)

Ilmuwan Israel ciptakan rahim buatan

Para ilmuwan ini berharap rahim buatan itu dapat dijadikan tempat bagi embrio manusia untuk tumbuh dan berkembang.





comments powered by Disqus