kabar

Tak sengaja bawa peluru, jamaah umrah Indonesia ditahan di Jeddah

Atas jaminan KJRI Jeddah, RS akhirnya berhasil dikeluarkan dari tahanan dan diinapkan sementara di kantor KJRI Jeddah bersama istri.

15 Mei 2018 17:19

Aparat keamanan Bandar Udara Internasional Raja Abdul Aziz di Kota Jeddah, Arab Saudi, Ahad malam lalu menahan seorang jamaah umrah Indonesia berinisial RS.

Jamaah umrah berprofesi sebagai polisi itu ditahan karena dalam tas ranselnya terselip tiga butir peluru terdeteksi oleh mesin x-ray. Semula RS menyangkal kalau dirinya membawa barang terlarang itu. Namun saat membuka dan memeriksa tasnya, petugas menemukan tiga butir peluru terselip di tas itu.

RS telah mencoba meyakinkan petugas, tidak ada unsur kesengajaan karena niatnya mau beribadah.

Permasalahan dialami RS diketahui oleh seorang petugas protokoler Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah tengah bertugas malam itu. Dia segera melaporkan kasus ini kepada pimpinan di KJRI Jeddah, seperti dilansir siaran pers KJRI Jeddah diterima Albalad.co hari ini.

Konsul Jenderal Indonesia Jeddah Mohamad Hery Saripudin langsung memerintahkan Rahmat Aming, Pelaksana Fungsi Konsuler merangkap Kepala Kanselerai dan Majedi Sarbaini, staf KJRI, segera mendatangi kantor penyidik untuk memberikan pendampingan kepada RS.

Atas jaminan KJRI Jeddah, RS akhirnya berhasil dikeluarkan dari tahanan dan diinapkan sementara di kantor KJRI Jeddah bersama istri.

RS, sudah 14 tahun menjadi polisi, menuturkan dirinya teringat sekitar dua bulan lalu saat bertugas. Dia mengisi senjatanya dengan enam butir peluru dan tiga lagi sebagai cadangan dia selipkan dalam tas ransel tersebut. "Yang enam sudah di silinder, tiga saya taruh di tas," katanya kepada petugas KJRI.

Usai bertugas, sambung RS, tas gendong digunakan dia taruh tanpa memeriksa dan mengeluarkan isinya. Tas itu pula dia bawa saat berangkat ke Arab Saudi bersama istri untuk menunaikan ibadah umrah.

Saat berangkat, tas ransel itu kosong dan hendak digunakan untuk menaruh oleh-oleh. Karena kosong, tas itu ditaruh dalam koper dan dimasukkan ke bagasi sehingga lolos saat pemeriksaan di bandar udara di Madinah.

Namun ketika hendak pulang melalui bandar udara di Jeddah, dalam tas gendong tadi tidak hanya penuh dengan oleh-oleh, melainkan juga terselip benda terlarang terdeteksi mesin x-ray.

Rahmat Aming meminta RS dan istri agar bersabar atas ujian menimpa mereka. Sebab, penyelesaian kasusnya akan memakan waktu karena harus menunggu jawaban terhadap surat dari KJRI Jeddah, berisi permohonan penghentian penyidikan dari kantor pusat di Ibu Kota Riyadh. "Pengurusannya makan waktu paling cepat seminggu. Bisa dua minggu, sebulan, atau bahkan dua bulan," ujar Rahmat.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman saat memimpin rapat Dewan Urusan Pembangunan dan Ekonomi di Istana As-Salam di Kota Jeddah, Arab Saudi, 22 Mei 2018. (SPA)

Anak Raja Salman masih hidup

Pangeran Muhammad bin Salman memimpin rapat Dewan Urusan Pembangunan dan Ekonomi Selasa lalu.

Demonstrasi menolak rencana pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem berlangsung di Jakarta, 11 Mei 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Indonesia batalkan kebijakan visa bagi warga Israel

Israel memang tidak memiliki hubungan resmi dengan Indonesia, namun kedua negara menjalin hubungan ekonomi. Alhasil, warga Israel bisa berkunjung ke Indonesia menggunakan visa pelancong dan bisnis.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Bom waktu di negara Kabah

Raja Salman sudah menanam bom waktu itu sejak April 2015, tiga bulan setelah dirinya naik takhta.

Pangeran Khalid bin Farhan dari Arab Saudi, mendapat suaka politik di Jerman sejak 2013. (Middle East Eye)

Pangeran Arab Saudi serukan kudeta terhadap Raja Salman

"Kalau Ahmad dan Muqrin bersatu, saya yakin 99 persen anggota keluarga kerajaan, pasukan keamanan, dan tentara akan mendukung mereka," kata Pangeran Khalid, mendapat suaka politik di Jerman sedari 2013.





comments powered by Disqus