kabar

Ambisi bobrok Arab Saudi dalam Perang Yaman

Sebanyak 31 persen serangan udara mengincar target-target non-militer, termasuk 386 areal pertanian, 183 pasar, 102 instalasi air dan listrik, serta 62 gudang makanan.

06 Juni 2018 19:26

Petaka itu dimulai setelah Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz menunjuk anak kesayangannya, Pangeran Muhammad bin Salman, menjadi menteri pertahanan pada Maret 2015. Hanya dalam hitungan hari, sang pangeran - telah menjelma menjadi putera mahkota sejak Juni tahun lalu - langsung memerintahkan menggempur Yaman setelah membentuk pasukan koalisi Arab.

Keputusan Pangeran Muhammad bin Salman ini amat bersejarah. Untuk pertama kali, Arab Saudi melakukan intervensi militer ke negara lain. Biasanya, negara Kabah ini cuma menjadi fasilitator dengan mengizinkan wilayah udaranya dilewati pesawat tempur atau pendirian pangkalan militer saat Perang Teluk.

Hasilnya bisa ditebak: keputusan terburu-buru membikin Yaman menjadi Vietnam bagi Arab Saudi, seperti Amerika Serikat takluk dalam Perang Vietnam pada 1970-an.

Ambisi Saudi untuk menumpas pemberontak Syiah Al-Hutiyun sokongan Iran gagal. Milisi Al-Hutiyun masih menguasai Ibu Kota Sanaa, sedangkan Presiden Yaman Abdu Rabbu Mansur Hadi, meminta pertolongan Riyadh, masih memerintah di Kota Aden.

Ironisnya lagi, Perang Yaman kian membuka kebobrokan Arab Saudi.

Sejak 26 Maret 2015 hingga 15 Desember 2017, pasukan koalisi Arab dikomandoi Saudi telah melancarkan 15.489 serangan udara atau 474 gempuran saban bulan.

Dari total bombardir itu, hanya 38 persen menyasar fasilitas-fasilitas militer. Sebanyak 31 persen sasaran lainnya tidak diketahui dan 31 persen lagi mengincar target-target non-militer, termasuk 386 areal pertanian, 183 pasar, 102 instalasi air dan listrik, serta 62 gudang makanan.

Korban manusia sudah lebih dari sepuluh ribu orang tewas, jutaan mengungsi dan kelaparan.

Bobroknya lagi, Arab Saudi masih belum mau mengaku kalah.

Facebook menghapus artikel the New York Times soal gadis kelaparan di Yaman. (Al-Bawaba)

Facebook hapus artikel soal gadis kelaparan di Yaman

Sejatinya, artikel ini mengecam keterlibatan Arab Saudi dan UEA karena menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di Yaman.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Argentina selidiki dugaan kejahatan perang anak Raja Salman dalam Perang Yaman

Save the Children mengatakan 85 ribu anak berumur di bawah lima tahun mati kelaparan di Yaman sejak 2015.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Dua pilot Arab Saudi tewas di Yaman

Keterlibatan pasukan koalisi Saudi di Yaman membikin negara Saba itu mengalami tragedi kemanusiaan.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Pasukan koalisi Arab Saudi akui ledakkan bus sekolah menewaskan 40 anak di Yaman

Dua pekan setelah pengeboman bus sekolah di Saadah, serangan pasukan koalisi dipimpin Arab Saudi terhadap Kota Al-Hudaidah menewaskan paling sedikit 26 anak.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

tkw suriah

KJRI Jeddah berhasil dapatkan uang diyat bagi keluarga warga Indonesia dibunuh

Pihak majikan sepakat untuk memenuhi hak korban senilai 200 ribu riyal, meliput uang diyat syari sebesar 55 ribu riyal, sisa gaji almarhumah belum dibayar 32.400 riyal, dan santunan senilai 112.600 riyal.

15 Februari 2019

TERSOHOR