kabar

KJRI Jeddah berhasil upayakan fulus Rp 851 juta bagi dua buruh migran Indonesia

Anak majikannya, Ahmad al-Harbi, datang ke KJRI Jeddah untuk menyerahkan santunan empat ribu riyal dan diterima langsung oleh Konsul Jenderal Indonesia di Jeddah Mohamad Hery Saripudin.

30 Juni 2018 07:58

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Jeddah, Arab Saudi, berhasil mengupayakan pembayaran uang sebesar 233.200 riyal atau setara Rp 851.180.000 dari majikan bagi dua mendiang buruh migran Indonesia. Keduanya adalah Emi Nurhayati binti Atim Rukman dan Mamah binti Nalim.

Pertama adalah fulus senilai 83.200 riyal (Rp 303.680.000) untuk Emi Nurhayati. Uang tunai terdiri dari gaji 79.200 riyal dan santunan empat ribu riyal ini diserahkan majikan pada 14 Mei lalu. Namun dua hari kemudian, perempuan kelahiran Purwakarta, 17 November 1972, itu meninggal, seperti dilansjir KJRi Jeddah dalam siaran pers diterima Alabald.co hari ini.

Emi sempat  dirawat di Rumah Sakit Umum Dhuba, Tabuk, selama empat bulan karena menderita sakit atrofi otak.

Anak majikannya, Ahmad al-Harbi, datang ke KJRI Jeddah untuk menyerahkan santunan empat ribu riyal dan diterima langsung oleh Konsul Jenderal Indonesia di Jeddah Mohamad Hery Saripudin.

Dalam pertemuan singkat pada 7 Juni itu, Hery Saripudin mengapresiasi itikad baik keluarga majikan begitu perhatian terhadap Emi, yaitu dengan merawat,  memenuhi hak-haknya, serta memberikan duit santunan.

"Yang terjadi kepada almarhumah adalah takdir. Manusia bisa meninggal kapan saja dan di mana saja," kata Hery Saripudin kepada Al-Harbi. "Kami mewakili keluarga almarhumah menyampaikan terima kasih dan memohon doa untuk almarhumah."

KJRI Jeddah lalu mentransfer uang gaji dan santunan Emi pada 26 Juni ke rekening ahli waris di Indonesia berinisial M.

KJRI Jeddah juga berhasil mengupayakan uang diyat buruh migran bernama Mamah binti Nalim sebesar 150 ribu riyal (Rp 547.500.000)

Uang diyat itu diperoleh setelah majelis hakim Mahkamah Umum Makkah menjatuhkan vonis bersalah atas terdakwa warga negara Saudi berinisia SSB. Terdakwa diwajibkan membayar uang diyat kepada ahli waris korban melalui perusahaan asuransi United Cooperative Assurance sesuai surat jaminan asuransi dimiliki terdakwa.

Menurut Safaat Ghofur, Pelaksana Fungsi Konsuler 1/Koordinator Pelayanan dan Perlindungan Warga KJRI Jeddah, uang diyat itu telah dikirim ke rekening ahli waris Mamah berinisial AN pada 13 Juni.

Bersama majikan sekeluarga, Mamah (42 tahun) mengalami kecelakaan lalu lintas pada 15 Agustus 2013. Perempuan asal Karawang, Jawa Barat, ini mengembuskan napas terakhir besoknya.

Dia meninggal di Rumah Sakit Raja Abdul Aziz, Makkah. Atas persetujuan dan keinginan ahli waris, jenazah Mamah dimakamkan di kota suci itu.

Pengurusan gugatan diyat Mamah sempat mengalami banyak kendala. Dia tidak memiliki paspor sebagai dasar penerbitan sertifikat kematian, menjadi salah satu dokumen wajib untuk melengkapi berkas gugatan ke pengadilan.

Berkat komunikasi baik antara tim perlindungan KJRI Jeddah dengan pihak kepolisian, berkas gugatan dapat dilimpahkan ke Pengadilan Makkah. Pengadilan akhirnya menetapkan keputusan mewajibkan terdakwa membayar uang diyat kepada ahli waris korban.

KJRI Jeddah, Arab Saudi melepas pemulangan 21 perempuan Indonesia bermasalah karena bekerja di Arab Saudi memakai visa ziarah. (KJRI Jeddah buat Albalad.co)

KJRI Jeddah pulangkan 21 warga Indonesia berangkat bekerja ke Arab Saudi dengan visa ziarah

Karena tidak tahan terhadap kondisi kerja, mereka memilih kabur dari rumah majikan ke KJRI Jeddah.

Kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kota Jeddah, Arab Saudi. (Facebook)

Mayat perempuan Indonesia dalam koper di Makkah meninggal karena sakit

Tiga bulan terakhir, korban menderita diabetes dan agak sesak napas sampai meninggal. Dua warga Indonesia pembuang mayat AS akan dideportasi.

Suasana Kota Makkah, Arab Saudi. (Gulf Business)

Polisi Makkah tangkap pembuang mayat perempuan Indonesia dalam koper

Kedua tersangka adalah lelaki dan perempuan warga Indonesia.





comments powered by Disqus