kabar

Pangeran dari UEA kabur minta suaka ke Qatar

Syekh rasyid mengaku diperas oleh badan intelijen UEA. Dia menglaim telah mentranfer fulus US$ 70 juta ke sejumlah rekening di beberapa negara.

15 Juli 2018 09:21

Seorang pangeran dari Uni Emirat Arab (UEA) telah kabur ke Qatar untuk meminta perlindungan. Kejadian ini berlangsung di tengah krisis diplomatik antara Qatar dengan negara Arab Teluk sejak tahun lalu.

Pangeran itu adalah Syekh Rasyid bin Hamad asy-Syarqi, 31 tahun. Dia adalah putra kedua dari emir Fujairah, satu dari tujuh kerajaan bergabung membentuk negara UEA.

Syekh Rasyid meninggalkan UEA dan tiba pada subuh, 16 Mei lalu, di bandar udara di Ibu Kota Doha, Qatar, buat mencari suaka.

Dia bilang kepada para pejabat Qatar dirinya takut dibunuh lantaran bersengketa dengan pimpinan Kerajaan Abu Dhabi, kerajaan kaya minyak mendominasi UEA. Syekh Rasyid dan seorang warga Qatar dekat dengan penguasa membenarkan hal ini.

Seorang perwakilan dari Kedutaan Besar UEA di Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat, menolak berkomentar. Para pemimpin Fujairah juga tidak dapat dihubungi.

Kaburnya Syekh Rasyid ke Qatar merupakan peristiwa pertama bagi UEA dalam kurun hampir 47 tahun, dimana seorang anggota keluarga dari salah satu kerajaan di UEA secara terbuka mengkritik pemimpinnya.

Dalam wawancara khusus dengan surat kabar the New York Times, Syekh rasyid menuding para oemimpin UEA melakukan pemerasan dan pencucian uang. Namun dia tidak memiliki bukti untuk menguatkan tuduhannya itu.

Dia juga mengatakan ada ketegangan di antara para pemimpin UEA - tadinya cuma selentingan - terkait keputusan pimpinan kerajaan Abu Dhabi untuk terlibat dalam perang di Yaman. Menurut dia, para pemimpin Abu Dhabi tidak berkonsultasi lebih dulu dengan pemimpin enam kerajaan lainnya di UEA sebelum memutuskan untuk mengirim pasukan buat memerangi milisi Al-Hutiyun di Yaman.

Perang ini sudah berlangsung lebih dari tiga tahun. Tentara dari enam kerajaan kecil, termasuk Fujairah, termasuk berada di garis depan paagan. Sejauh ini, sudah seratus serdadu UEA tewas di Yaman.

"Paling banyak prajurit terbunuh berasal dari Fujairah ketimbang enam kerajaan lainnya," kata Syekh Rasyid. Dia mengklaim Abvu Dhabi menyembunyikan angka pasti tentara UEA tewas di Yaman.

Dia berharap wawancaranya itu bisa membuka mata masyarakat untuk melindungi keluarga di Fujairah dari tekanan Abu Dhabi. "Saya adalah anggota keluarga kerajaan pertama keluar dari UEA dan mengungkapkan segala hal tentang mereka (penguasa Abu Dhabi)," ujarnya.

Namun ketibaannya di Doha memunculkan sebuah dilema bagi Qatar. Salah satunya karena tidak adanya kejelasan soal perselisihan antara Syekh rasid dengan Abu Dhabi.

UEA bareng Arab Saudi, Bahrain, dan Yaman memutus hubungan diplomatik dengan Qatar sejak 5 Juni tahun lalu. Mereka beralasan negara Arab Teluk supertajir itu menyokong terorisme. Keempat negara Arab ini juga memberlakukan blokade darat, laut, dan udara terhadap Qatar.

Tapi Qatar menolak mengakui secara terbuka Syekh Rasyid kini menetap di negara itu. Seorang petinggi Qatar dekat dengan keluarga kerajaan membenarkan Qatar telah mengizinkan Syekh rasyid bermukim di sana.

Kepada the New York Times, Syekh Rasyid mengungkapkan badan intelijen UEA memeras dirinya dengan ancaman bakal melansir rekaman video sangat pribadi. Namun dia menolak menyebut isi video itu.

Dia mengklaim dirinya diminta mentransfer fulus puluhan juta doalr Amerika Serikat ke rekening beberapa orang dia tidak kenal di negara lain. Dia mengaku telah mengirim uang US$ 70 juta ke rekening di Yordania, Libanon, Maroko, Mesir, Suriah, India, dan Ukraina.

Dia tidak dapat menunjukkan bukti transfer. Dia bilang semua bukti itu masih ada di Fujairah.

Syekh rasyid mengatakan musim semi lalu seorang agen intelijen UEA menyarankan dia untuk merebut kekuasaan dari abangnya menjadi putera mahkota Fujairah.   

Jamaah berkumpul di pelataran Masjid Al-Haram, Kota Makkah, Arab Saudi, sambil menunggu pembagian makanan berbuka puasa, Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Jamaah Qatar bisa pesan paket umrah setiba di Jeddah

Hubungan Saudi-Qatar memburuk sejak awal Juni 2017.

Perdana Menteri Bahrain Pangeran Khalifah bin Salman al-Khalifah. (Eye of Riyadh)

Perdana menteri Bahrain ucapkan salam Ramadan kepada emir Qatar

UEA kemarin melepaskan sebuah kapal angkatan laut Qatar dan empat pelautnya setelah ditahan sepekan sebelumnya.

Gambar wajah Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani di Ibu Kota Doha, Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Blokade Qatar berlanjut tahun ini

UEA bareng Arab Saudi, Bahrain, dan Mesir memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar sejak 5 Juni 2017.

Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani. (tamimhkalthani.com)

Emir Qatar tidak hadiri KTT Dewan Kerjasama Teluk

Dia mengutus menteri negara urusan luar negeri. Sedangkan lima anggota GCC lainnya - Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman - diwakili rajanya masing-masing.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Anak Raja Salman buka tempat judi di Jeddah

"Banyak pangeran Saudi berperilaku bobrok," ujar mantan pengawal pribadi keluarga kerajaan Saudi. "Kegemaran mereka berpesta seks dengan pelacur, bermain judi, dan memakai narkotik." Sila baca:

19 Oktober 2019

TERSOHOR