kabar

KJRI Jeddah bantu pemulangan 7.783 warga Indonesia melanggar izin tinggal

Pendatang tidak berdokumen itu terdiri dari 2.199 lelaki, 4.872 perempuan, dan 712 anak.

11 Januari 2019 19:10

Sepanjang tahun lalu, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Jeddah, Arab Saudi, membantu pemulangan warga Indonesia dengan menerbitkan sebanyak 7.783 Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP).

Sebanyak 7.783 warga Indonesia ini mendekam dalam rumah tahanan imigrasi (Tarhil) karena berbagai pelanggaran. Pendatang tidak berdokumen itu terdiri dari 2.199 lelaki, 4.872 perempuan, dan 712 anak.

Sebagian besar dari mereka adalah pemegang visa kerja. Sebagian lagi masuk ke Arab Saudi menggunakan visa umrah kemudian menetap dan bekerja, dan yang lain masuk dengan visa ziarah (kunjungan).

"Mereka ditangkap di berbagai tempat. Ada yang di penampungan, di jalanan, bahkan ada juga di perlintasan tawaf dan sai dalam Masjid Al-Haram," kata Konsul Jenderal Mohamad Hery Saripudin, dalam siara pers diterima Albalad.co hari ini.

Bahkan akhir Desember 2018 dan awal Januari 2019, lanjutnya, sebanyak 25 warga Indonesia dibekuk pihak keamanan Arab Saudi saat mendorong kursi roda jamaah umrah di perlintasan tawaf dan sai dengan imbalan sejumlah uang.

"Mereka punya iqamah, semacam kartu izin menetap,  tapi tetap ditangkap karena kedapatan bekerja bukan pada kafilnya," ujar Hery. "Artinya yang mereka kerjakan tidak sesuai dengan profesi tertera di iqamah mereka."

Pelaksana Fungsi Konsuler Safaat Ghofur, juga merangkap Koordinator Perlindungan dan Pelayanan Warga menyebutkan sebanyak 26 warga Indonesia tengah mengikuti program umrah dan ziarah ke Makkah dan Madinah oleh sebuah lembaga nirlaba diamankan pihak keadaman setempat. Rombongan ini ditangkap 20 Desember lalu.

"Mereka terjaring di pos pemeriksaan KM 40 dari Masjid Bir Ali menjadi tempat miqat karena tidak punya iqamah," tutur Safaat. Mereka ditahan sepuluh hari di penjara Madinah, kemudian dilimpahkan ke tarhil di Syumaisi, Makkah.
 
Safaat menjelaskan warga negara asing di Arab Saudi bisa ditangkap lantaran berbagai pelanggaran. Sebagian diamankan karena masa berlaku izin tinggal telah habis, sebagian karena berbaur atau berada dalam satu rumah dengan warga Indonesia tidak berdokumen resmi. Ada juga karena bekerja tidak sesuai profesinya di kartu izin tinggal.

Masa penahanan warga Indonesia di tarhil, menurut dia, tergantung pada hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh aparat berwenang di tarhil. "Ada yang tersandera oleh denda belum dibayar, karena melaksanakan haji tanpa surat izin. Ada juga tertahan kepulangannya karena kepemilikan kendaraan belum dibalik nama," kata Safaat.

Salat isya si Masjid Nabawi, Kota Madinah, Arab Saudi, 25 Maret 2020. (Haramain Info)

Empat warga Indonesia di Arab Saudi meninggal gegara Covid-19

Sampai kemarin, jumlah penderita Covid-19 di negara Kabah itu adalah 16.299 orang, mencakup 136 mengembuskan napas terakhir. 

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Arabian Business)

Enam warga Indonesia terinfeksi Covid-19 di Arab Saudi

Mereka tersebar di Makkah (3 orang), Riyadh (2 orang), dan Najran (1 orang).

Pelaksana Fungsi Konsuler merangkap Koordinator Pelayanan dan Pelindungan Warga Safaat Ghofur memberikan bantuan bahan makanan dan minuman kepada perwakilan 67 pekerja Indonesia di Tabuk pada 30 Oktober 2019. (KJRI Jeddah buat Alablad.co)

KJRI Jeddah bantu 67 pekerja Indonesia tidak digaji 13 bulan di Tabuk

KJRI Jeddah juga memberikan bantuan bahan makanan dan minuman bagi 67 pekerja Indonesia itu sambil menunggu persoalannya rampung.

Konsul Tenaga Kerja Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Jeddah, Arab Saudi, Mochamad Yusuf saat mengantar kepulangan Darminah Nursia (berkursi roda) dan SW, dua perempuan asal Lombok, ke Indonesia di Bandar Udara Raja Abdul Aziz, Jeddah. (KJRI Jeddah buat Albalad.co)

KJRI Jeddah paksa majikan bayar kompensasi kepada pembantu dianiaya

SW diberangkatkan LR dengan visa ziarah, menurut aturan berlaku di Arab Saudi tidak bisa digunakan untuk bermukim.





comments powered by Disqus