kabar

Ulama Arab Saudi derita luka bakar sekujur tubuh akibat disiksa dalam penjara

Pengadilan pidana Arab Saudi menggelar sidang secara rahasia telah menuntut Dr. Ali al-Umari bareng dua ulama tersohr Arab Saudi lainnya, Syekh Awad al-Qarni dan Syekh Salman al-Audah, dengan hukuman mati.

13 Januari 2019 16:29

Dr. Ali al-Umari, ulama Arab Saudi mendekam dalam penjara, menderita luka bakar dan cedera lainnya di sekujur tubuh akibat siksaan.

Kabar ini disampaikan Prioners of Conscience, lembaga nirlaba pemantau hak asasi manusia di Arab saudi, melalui akun Twitternya tiga hari lalu. "Kami membenafrkan  Dr. Ali al-Umari saat ini mengalami luka bakar parah dan cedera lainnya di seluruh bagian tubuh karena dioukuli dan disetrum sejak mendekam dalam sel isolasi selama 15 bulan terakhir."

Pengadilan pidana Arab Saudi menggelar sidang secara rahasia tahun lalu telah menuntut Dr. Ali al-Umari bareng dua ulama tersohr Arab Saudi lainnya, Syekh Awad al-Qarni dan Syekh Salman al-Audah, dengan hukuman mati. Ketiganya ditangkap atas tuduhan menentang kebijakan Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman.

Sejak Bin Salman menjabat putera mahkota pada 21 Juni 2017, Arab Saudi getol menangkapi ulama, akademisi, wartawan, aktivis, pangeran, dan pengusaha dianggap melawan rezim.

Ulama Arab Saudi Syekh Sulaiman al-Alwan

Arab Saudi tolak bebaskan ulama meski masa hukumannya sudah habis

Syekh Sulaiman ditangkap pada 2004 lantaran paham-pahamnya sangat radikal. Empat tahun sebelumnya, dia berfatwa menyerukan serangan bunuh diri terhadap Israel.

Ulama Arab Saudi Dr. Ahmad al-Amari. (Twitter)

Ulama Arab Saudi koma karena perlakuan buruk dalam penjara

Mantan dekan di Universitas Islam Madinah ini ditangkap tanpa dakwaan.

Dr Muhammad al-Arifi, ulama Arab Saudi dilarang berhaji. (Twitter)

Arab Saudi larang seorang ulama berhaji

Dua imam Masjid Al-Haram masih ditahan.

Syekh Bandar Abdul Aziz Balila, imam Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi. (Twitter)

Dalam setahun, Arab Saudi tahan 60 ulama

Selain ulama, Arab Saudi juga menahan lebih dari 50 profesor, sepuluh pengacara, 20 aktivis hak asasi manusia, 25 wartawan, 60 pemegang gelar PhD, 40 penulis, dan sepuluh perempuan.





comments powered by Disqus