kabar

Israel dalangi penggulingan Mursi

Israel berkepentingan karena Mursi ingin membatalkan Perjanjian Camp David.

10 April 2019 19:58

Israel rupanya terlibat dalam penggulingan terhadap Presiden Mesir Muhammad Mursi pada 2013. 

Mursi adalah presiden sipil pertama di negara Nil itu, naik ke tampuk kekuasaan melalui pemilihan umum. 

Brigadir Jenderal Aryeh Eldad menulis di surat kabar Israel, Maariv, negara Zionis itu berkepentingan untuk melengserkan Mursi lantaran pemimpin dari kelompok Al-Ikhwan al-Muslimun itu ingin membatalkan Perjanjian Camp David, mendamaikan Israel dan Mesir pada 1979.

Kesepakatan damai itu menjadikan Mesir sebagai negara Arab pertama membina hubungan diplomatik dengan Israel. Yordania mengikuti jejak negara Nil ini pada 1994. 

"Israel segera menggerakkan alat diplomatiknya, bahkan mungkin kekuatan lebih besar, buat menjadikan Abdil Fattah as-Sisi sebagai penguasa di Mesir dan meyakinkan pemerintahan Amerika Serikat di bawah Barack Obama untuk tidak menentang langkah ini," kata Eldad.

Mursi menjabat presiden Mesir dari 30 Juni 2012 hingga 3 Juli 2013, ketika Sisi mengambil alih kuasa. 

Raja Hamad bin Isa al-Khalifah dari Bahrain. (Albawaba)

Raja Bahrain kembalikan status kewarganegaraan 551 warganya

Dalam pengadilan massal pekan lalu, 138 orang diputus kehilangan kewarganegaraannya.

Petugas kebersihan mengumpulkan ribuan jangkrik mati di Masjid Nabawi, Kota Madinah, Arab Saudi. (Saudi Gazette)

Ribuan jangkrik serbu Masjid Nabawi

Lebih dari 150 petugas kebersihan telah diterjunkan untuk menyemprotkan pestisida dan mengumpulkan jangkrik-jangkrik mati.

Ibu Kota Kairo, Mesir. (afrika.com)

Vonis mati buat Mursi dibatalkan

Mursi sudah menerima vonis 20 tahun, 40 tahun, dan penjara seumur hidup atas tiga kasus lainnya.

Mantan Presiden Mesir Muhmmad Mursi. (MidEast Posts)

Mursi divonis penjara seumur hidup atas dakwaan mata-mata

Pengadilan juga memutuskan Mursi bersalah karena memiliki dokumen rahasia curian terkait keamanan negara. Untuk dakwaan ini dia divonis 15 tahun penjara.





comments powered by Disqus