kabar

Arab Saudi kewalahan hadapi Al-Hutiyun

Bandar udara di kota Najran, Jizan, dan Abha berkali-kali dihantam peluru kendali dan pesawat nirawak Al-Hutiyun.

26 Agustus 2019 06:17

Uni Emirat Arab (UEA) akhirnya sadar sulit bagi mereka buat melanjutkan perang terhadap milisi Al-Hutiyun sokongan Iran di Yaman. Karena itulah, tahun ini mereka memutuskan menarik pasukannya dari negara Saba itu.

Namun Arab Saudi, sejak Maret 2015 memimpin pasukan koalisi Arab buat menggempur Al-Hutiyun, tetap nekat. Dokumen rahasia berjudul Laporan Bulanan tentang Arab Saudi diterbitkan pada 24 Mei lalu menyebutkan pertahanan Arab Saudi lemah dalam menghadapi serangan pesawat-pesawat nirawak Al-Hutiyun.

Dokumen itu menyebutkan selama Januari hingga mei tahun ini, Al-Hutiyun 155 kali menyerang target-target Arab Saudi di Yaman dan seantero kawasan Teluk Persia, lebih banyak ketimbang diakui sebelumnya. "Serangan atas pangkalan udara lahj menunjukkan kelemahan pertahanan udara Saudi dan kurangnya kemampuan perang elektronik dalam menghadapi serbuan pesawat nirawak," tulis laporan itu.

Laporan bulanan itu ditulis oleh Emirates Policy Centre, lembaga kajian dekat dengan pemerintah dan badan-badan keamanan UEA. Dokumen rahasian ini hanya diedarkan di kalangan pejabat tinggi UEA secara terbatas.

Lapran ini menyatakan bandar udara di kota Najran, Jizan, dan Abha berkali-kali dihantam peluru kendali dan pesawat nirawak Al-Hutiyun. Padahal bandar udara di Najran dijaga peluru kendali Patriot.

Bulan ini, sepuluh pesawat nirawak Al-Hutiyun berhasil menyerang pabrik likuifaski gas milik Saudi Aramco di Asy-Syaibah, berjarak 900 kilometer lebih dari wilayah kekuasaan Al-Hutiyun di barat daya Yaman.

Kesuksesan serbuan pesawat nirawak Al-Hutiyun ini telah menjatuhkan moral pasukan Arab Saudi ditempatkan di daerah perbatasan di selatan negara itu.

Bukan sekadar kalah, pamor Arab Saudi juga tercoreng lantaran serbuan udara mereka kerap menyasar warga sipil. Sejak 26 Maret 2015 hingga 15 Desember 2017, pasukan koalisi Arab dikomandoi Saudi telah melancarkan 15.489 serangan udara atau 474 gempuran saban bulan.

Dari total bombardir itu, hanya 38 persen menyasar fasilitas-fasilitas militer. Sebanyak 31 persen sasaran lainnya tidak diketahui dan 31 persen lagi mengincar target-target non-militer, termasuk 386 areal pertanian, 183 pasar, 102 instalasi air dan listrik, serta 62 gudang makanan.

Korban manusia sudah lebih dari sepuluh ribu orang tewas, jutaan mengungsi dan kelaparan.

Ironisnya lagi, Arab Saudi masih belum mau mengaku kalah.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Ratusan tentara Saudi tewas di Jizan dalam pertempuran dengan milisi Al-Hutiyun

Bin Salman telah mengisyaratkan menyerah dalam Perang Yaman.

Kebakaran hebat melanda fasilitas pemrosesan minyak terbesar di dunia milik Saudi Aramco di Abqaiq, Provinsi Timur, Arab Saudi. Kebakaran ini dipicu ledakan akibat serangan pesawat nirawak dilakukan milisi Al-Hutiyun dari Yaman. (Screengrab)

Pesawat nirawak serang fasilitas minyak terbesar dunia milik Aramco

Milisi Al-Hutiyun dari Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serbuan itu.

Kerusakan di terminal kedatangan Bandar Udara Internasional Abha di Arab Saudi akibat serangan roket oleh milisi Al-Hutiyun di Yaman. (SPA)

Roket Al-Hutiyun hantam bandar udara di Saudi lukai 26 orang

Serangan ini mengakibatkan 26 orang luka, termasuk tiga perempuan dari Yaman, Saudi, dan India, serta dua anak Saudi.

Nura, bukan nama sebenarnya, menjadi cacat akibat serangan udara pasukan koalisi Arab Saudi di Yaman pada 2015. (Save the Children)

Hingga akhir 2019, Perang Yaman akan tewaskan 233 ribu orang

Satu anak tewas akibat perang dan dampaknya tiap sebelas menit 54 detik. Hingga akhir 2019, 140 ribu anak di Yaman akan terbunuh akibat perang dan dampaknya.





comments powered by Disqus