kabar

Sebelum terjadi penyerbuan Masjid Al-Haram pada 1979, perempuan Saudi tidak wajib berabaya dan berjilbab

"Kami bisa mengenakan baju sepinggang dipadu rok bermacam warna," kenang Manal Aqil.

23 September 2019 20:07

Kehidupan kaum hawa di Arab Saudi hingga 1970-an berjalan normal. Mereka bisa berbaur dengan lelaki bukan muhrim di tempat-tempat umum, menonton bioskop, dan belajar di sekolah campur antara lelaki dan perempuan.

Manal Aqil masih ingat betul masa itu. Perempuan Saudi bisa keluar rumah mengenakan blus dan rok beragam warna. Berabaya dan berjilbab serba hitam bukan hal wajib. Cadar pun ditolak kaum hawa di negara Kabah itu. "Kami bisa mengenakan baju sepinggang dipadu rok bermacam warna," katanya.

Perempuan Saudi juga boleh menjadi penyiar radio, presenter televisi, aktris, guru, dan banyak profesi lain. Pemisahan berdasar jenis kelamin di tempat umum dilakukan dengan sopan dan sukarela, bukan atas dasar paksaan.

Faiga Ridwan, mantan kepala seklah, juga masih terkenang keluarganya kerap menghabiskan akhir pekan di pantai di Kota Jeddah.

Namun, lanjutnya, situasi berubah mencekam setelah pasukan beranggotakan 400-500 personel dipimpin Juhaiman al-Utaibi menyerbu dan menguasai Masjid Al-Haram di Kota Makkah pada 20 November 1979. Pasukan elite Saudi berhasil membebaskan Masjid Al-Haram dari penguasaan Juhaiman selama lebih dari dua pekan. Dia kemudian dieksekusi di Makkah pada 9 Januari 1980.

Setelah kejadian itu, situasi tegang dan seolah segala gerak gerik lelaki dan perempuan di Saudi diawasi. "Orang-orang mulai bilang ini halal, ini haram," ujar Manal. 

Dua tahun setelah penyerbuan ke Masjid Al-Haram, konservativisme menguat di Saudi. Menurut Manal, perempuan Saudi diwajibkan berabaya dan berjilbab serba hitam ketika berada di luar rumah.

Polisi syariah berpatroli di jalan-jalan dan tempat-tempat keramaian, seperti mal, restoran, dan kafe. Mereka mengkampanyekan perempuan mesti menyembunyikan tubuh mereka di balik abaya dan jilbab serba hitam. Sedangkan kaum lelaki harus menundukkan pandangannya ketika bertemu perempuan bukan muhrim.

Kebebasan bagi kaum hawa di Saudi kembali meruap setelah Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman meluncurkan Visi 2030. Tahun lalu, perempuan boleh menonton pertandingan sepak bola di stadion, berolahraga di luar rumah, menyetir mobil dan mengendarai sepeda motor. Bioskop tadinya diharamkan, dibolehkan lagi.

Bin Salman tahun lalu bilang Islam tidak mewajibkan kaum hawa berabaya, yang penting berpakaian sopan. 

Ilustrasi perempuan Arab sedang berbicara di telepon seluler. (Arab News)

Perempuan Saudi dilarang bekerja karena bercadar

Bin Salman membolehkan kaum hawa di negara Kabah itu tidak berabaya di tempat umum.

Perempuan Arab Saudi di stadion. (Saudi Gazette)

Saudi izinkan perempuan jadi tentara

Perempuan Saudi kini boleh masuk angkatan bersenjata dan menjadi prajurit, kopral, atau sersan.

Masyail al-Jalud, perempuan Arab Saudi berumur 33 tahun, pelesiran ke mal di Kota Jeddah mengenakan blus dan rok pada September 2019. (Twitter)

Tolak berabaya, perempuan Saudi pelesiran ke mal pakai blus dan rok

Bin Salman menyebut Islam tidak mewajibkan perempuan berabaya dan berjilbab serba hitam.

Ilustrasi perempuan Arab sedang berbicara di telepon seluler. (Arab News)

Terdapat 150.881 perawan tua di Arab Saudi

Mahalnya standar mahar di negara-negara Arab menjadi salah satu ganjalan bagi lelaki buat menikah.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

isis rusak gereja

Rusia sebut 500 kombatan ISIS kabur dari tahanan Kurdi sejak Turki invasi Suriah

Albalad.co memiliki data lebih dari 300 jihadis ISIS asal Indonesia mendakm dalam penjara-penjara Kurdi. Sedangkan 91 lainnya tewas dalam pertempuran, terutama di Gunung Sinjar, Irak.

23 Oktober 2019

TERSOHOR