kabar

Turki telah deportasi 21 kombatan ISIS ke negara asal

Sebanyak 13 dari 21 jihadis sudah dideportasi itu adalah warga negara Jerman, Belgi, Belanda, Denmark, Inggris, Amerika Serikat, dan Irlandia.

03 Desember 2019 07:03

Turki terus memulangkan para kombatan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) ke negara asal mereka. Sejak kebijakan itu diambil tiga pekan lalu, sudah 21 jihadis dipulangkan.

Menurut data dari Kementerian Dalam Negeri Turki, jumlah kombatan ISIS masih mendekam di pusat-pusat penahanan di Turki saat ini turun menjadi 938.

Sebanyak 13 dari 21 jihadis sudah dideportasi itu adalah warga negara Jerman, Belgi, Belanda, Denmark, Inggris, Amerika Serikat, dan Irlandia.

Pada 11 November lalu, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Turki Ismail Gatakli mengumumkan dimulainya pemulangan teroris ke negara asal mereka.

Menteri Dalam Negeri Sulaiman Soylu bilang, "Turki bukan hotel bagi para jihadis ISIS dari beragam negara."

Faisal Assegaf/Middle East Monitor

Wilayah dikuasai ISIS. (govexec.com)

Irak tangkap pentolan ISIS tadinya dijagokan jadi pengganti Baghdadi

Seperti Baghdadi, Qardasy juga pernah mendekam dalam penjara militer Amerika Serikat di Irak. 

Struktur kepemimpinan ISIS. (washingtonpost.com)

Perjalanan jatuh bangun ISIS

Pada Desember 2017, Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki mengumumkan kemenangan atas ISIS setelah kelompok bersenjata ini kehilangan 95 persen wilayah kekuasannya, termasuk Mosul di Irak dan Raqqah di Suriah.

Daftar nama warga Indonesua terkait ISIS di kamp Ain Isa. (Rojava Information Center)

Kurdi tidak akan adili keluarga jihadis ISIS asing

"Yang akan diadili hanya jihadis lelaki dan sebagian kecil perempuan. Jumlah mereka seribuan orang," kata Robin Fleming.

Tenda pernah dipakai keluarga anggota ISIS asal Indonesia di kamp Ain Isa, utara Suriah. Mereka sudah kabur dari sana pada Oktober 2019. (Rojava Information Center)

Indonesia tidak akan pulangkan warganya menjadi anggota ISIS di Suriah

Terdapat 689 warga Indonesia bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak berdasarkan data CIA.





comments powered by Disqus