kabar

Pengadilan Sudan jatuhkan vonis dua tahun bagi mantan Presiden Umar al-Basyir karena korupsi

Basyir sebelumnya mengaku menerima uang US$ 25 juta dari Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman dan sudah dia bagikan untuk kegiatan amal.

15 Desember 2019 23:55

Sebuah pengadilan di Ibu Kota Khartum, Sudan, kemarin menjatuhkan vonis dua tahun penjara bagi mantan Presiden Umar al-Basyir. Hakim menyatakan lelaki 75 tahun itu terbukti bersalah atas dakwaan korupsi.

"Pengadilan menghukum Umar Hasan al-Basyir," kata Hakim As-Sadiq Abdurrahman. "Pengadilan memutuskan untuk mengirimnya ke pusat rehabilitasi masyarakat selama dua tahun."

Dia menambahkan berdasarkan hukum berlaku di Sudan, terdakwa berumur di atas 70 tahun tidak akan menjalani hukuman penjara.

Dalam sidang itu, penyelidik dari kantor kejaksaan militer menjelaskan telah menemukan dan menyita fulus US$ 351 ribu, enam juta euro, dan lima juta pound Sudan ketika menggeledah rumah Basyir setelah dia digulingkan dari kekuasaan.

Basyir sebelumnya mengaku menerima uang US$ 25 juta dari Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman dan sudah dia bagikan untuk kegiatan amal.

Tim kuasa hukum Basyir bilang kasus kliennya dipolitisasi. Mereka meninggalkan ruangan sidang sebelum putusan dikeluarkan.

Meski begitu, ketua tim pengacara Basyir, Ahmad Ibrahim at-Tahir, mengatakan tidak akan mengajukan banding atas vonis dua tahun itu. "Hakim mengeluarkan putusan bermotif politik tapi kami masih percaya dengan sistem peradilan Sudan," ujarnya.

Melalui keterangan tertulis, Kejaksaan Agung Sudan menjelaskan pihaknya sekarang sedang menyelidiki dugaan kejahatan dilakoni Basyir dan para kroninya sejak berkuasa pada 1989 hingga lengser April lalu. Tuduhan ini termasuk pembunuhan demonstran, pelanggaran hak asasi manusia, kejahatan kemanusiaan di Darfur, Pegunungan Nuba, dan Nil Biru, pemerkosaan, penyiksaan, penghilangan paksa, dan kejahatan korupsi lainnya senilai miliaran dolar Amerika Serikat.

Presiden Chad Idris Deby mengadakan pertemuan dengan tamunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Ibu Kota N'Djamena, 20 Januari 2019. (Twitter/@netanyahu)

Dua pemimpin negara Arab telepon Trump ingin normalisasi hubungan dengan Israel

"Mereka cuma ingin keamanan, perdamaian, dan mereka telah lelah bermusuhan," ujar Trump.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berkomunikasi dengan Muhammad Saud, narablog Arab Saudi, melalui aplikasi telepon video Facetime pada 26 Desember 2019. (Screengrab)

Pertemuan segitiga digelar di Abu Dhabi hari ini buat bahas normalisasi hubungan Sudan-Israel

Sudan meminta tiga syarat: bantuan dana segera senilai lebih dari US$ 3 miliar, komitmen Amerika dan UEA untuk mendukung ekonomi Sudan selama tiga tahun, dan menghapus Sudan dari daftar negara pendukung terorisme.

Sultan Oman Qabus bin Said melakukan pembicaraan bilateral dengan tamunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, di Ibu Kota Muskat, Oman, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Netanyahu pernah bertemu Bin Zayid di Abu Dhabi

Netanyahu ditemani bos Mossad pada 2018 terbang diam-diam ke Abu Dhabi.

Israel Katz, Menteri Luar Negeri Israel, bertemu Menteri Luar Negeri Bahrain Khalid bin Ahmad al-Khalifah di Washington DC, 17 Juli 2019. Keduanya membahas mengenai Iran. (Courtesy)

Ikatan rahasia Bahrain-Israel

Raja Bahrain sudah dua kali bertemu perdana menteri Israel.





comments powered by Disqus