kabar

KTT Islam dan arogansi Saudi

Imran Khan batal datang karena ditekan Bin Salman.

19 Desember 2019 15:14

Seorang mantan menteri luar negeri Malaysia marah betul dengan sikap arogan Arab Saudi. Sudah tidak mau berpartisipasi malah menekan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan untuk tidak hadir dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) membahas isu-isu Islam global, termasuk penyiksaan terhadap etnis muslim Uighur, Rohingya, Kashmir, undang-undang anti-Islam di India, dan masalah Palestina.

KTT Islam ini digelar di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, dibuka hari ini hingga Ahad nanti. KTT itu diselenggarakan oleh yayasan bernama Perdana Leadership Foundation bikinan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad. Selain dia, tiga kepala negara lainnya datang adalah Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani, Presiden Iran Hasan Rouhani, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

"Arab Saudi itu jahat sekali. Mereka selalu mengklaim pemimpin Islam tapi sebenarnya pemecah belah umat," kata bekas pejabat Malaysia menolak disebut identitasnya itu kepada Albalad.co kemarin.

Sejumlah sumber diplomatik mengungkapkan Imran Khan membatalkan rencana kehadirannya di KTT tersebut setelah tiba-tiba dipanggil ke Ibu Kota Riyadh oleh Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman, seperti dilansir Middle East Eye. Bekas bintang kriket itu memang tidak bisa menolak tekanan Bin Salman.

Khan merasa berutang budi lantaran tahun lalu negara Kabah itu memberikan bantuan US$ 6 miliar benar-benar sedang dibutuhkan Pakistan. "Kami tengah menghadapi masa-masa sangat sukar. Kami dalam tekanan sangat besar untuk membayar utang," katanya ketika itu. "Kami benar-benar frustasi sekarang."

Padahal Khan terlibat dalam gagasan menggelar KTT Islam ini, dibicarakan bareng Mahathir dan Erdogan di sela Sidang majelis Umum Perserikatan bangsa-Bangsa di Kota New York, Amerika Serikat, September lalu.

Khan sudah menelepon Mahathir untuk memberitahu dirinya batal hadir. Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmud Quraisyi juga tidak bisa datang mewakili Khan.

Saudi benar-benar gusar dengan langkah Mahathir itu. Riyadh merasa Mahathir bersama Erdogan, Syekh Tamim, dan Rouhani berniat membikin kelompok baru tandingan Organisasi Konferensi Islam (OKI). Padahal Mahahtir mengundang semua anggota OKI untuk berpartisipasi.

Menurut mantan menteri luar negeri Malaysia itu, Saudi telah menjadikan OKI sebagai organisasi untuk kepentingan nasionalnya semata, bukan untuk kepentingan umat Islam dunia. Dia bilang Saudi mengontrol OKI lantaran semua pembiayaan kantor Sekretariat Jenderal OKI, termasuk gaji staf di sana ditanggung oleh mereka.

OKI di bawah pengaruh Saudi memang tidak bisa diharapkan lagi. Ketika Saudi menggelar Konferensi Islam-Amerika pada Mei 2017, hasilnya cuma menggelorakan permusuhan terhadap Iran. Sebulan kemudian, Saudi mengajak Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir memutus hubungan diplomatik dengan Qatar dan memblokade negara Arab supertajir itu sampai sekarang.

Apalagi Bin Salman tengah bermesraan dengan Israel. Saudi juga sudah menetapkan Al-Ikhwan al-Muslimun dan Hamas sebagai organisasi teroris dan terlarang di negeri Dua Kota Suci itu.

Dihubungi Albalad.co secara terpisah, seorang perwakilan Hamas hadir dalam acara pembukaan menyayangkan ketidakhadiran kepala negara Indonesia, merupakan negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar sejagat. Presiden Joko Widodo memilih meninjau calon ibu kota baru di Kalimantan Timur. Sedangkan Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengaku kelelahan sehingga absen. "Sangat disesalkan tidak ada perwakilan dari negara muslim terbesar di dunia," ujarnya.

Mestinya Indonesia dan bukan Malaysia mengambil inisiatif menggelar KTT Islam.

Dari salinan daftar peserta diperoleh Albalad.co, juga tidak ada nama Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Para tokoh hadir, termasuk tiga pimpinan Hamas, yakni mantan Kepala Biro Politik Khalid Misyaal, kepala perwakilan Hamas di Libanon Usamah Hamdan, dan bekas Wakil Kepala Biro Politik Musa Abu Marzuq.

Film the Dissident bercerita soal pembunuhan wartawan surat kabar the Washington Post, Jamal Khashggi, atas perintah Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (YouTube)

Hillary Clinton rekomendasikan untuk menonton film pembunuhan Khashoggi oleh Bin Salman

Berdasarkan hasil investigasi, Turki, CIA, Kongres Amerika, dan pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa Agnes Callamard menyimpulkan pembunuhan Khashoggi atas perintah Bin Salman.

Pangeran Abdul Aziz bin Fahad asal Arab Saudi bareng para pengawal pribadinya saat keluar dari klub malam elite Avenue di Manhattan, Kota New York, Amerika Serikat, 25 April 2016. (Splash News)

Bin Salman miskinkan putra dari mendiang Raja Fahad

Pengeluaran bulanan bagi Pangeran Abdul Aziz bin Fahad dipotong menjadi Rp 5,6 miliar dari sebelumnya Rp 223 miliar.

Wartawan Jamal Khashoggi. (Twitter/mercan_resifi)

Penangkapan terhadap oposisi politik di Saudi sudah seperti wabah penyakit

Sejak Bin Salman menjadi putera mahkota pada Juni 2017, Saudi getol menangkapi para pengkritik penguasa negeri Dua Kota Suci itu. 

Mantan Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Nayif. (Arab News)

Mantan putera mahkota Saudi kesakitan dan jadi kurus dalam penjara

Pihak keluarga dan dokter pribadi juga dilarang membesuk Bin Nayif.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Iran bebaskan dua awak kapal asal Indonesia

Iran menahan kapal ikan Farsi bareng awaknya, termasuk Safik dan Solek, selama empat bulan karena izin operasionalnya bermasalah. 

27 Januari 2021

TERSOHOR