kabar

Turki culik lebih dari seratus pengkritik Erdogan di luar negeri

Penangkapan besar-besaran terhadap wartawan dan para pengkritik Erdogan dimulai ketika Desember 2013, terbongkar skandal korupsi raksasa melibatkan Erdogan, anggota keluarga, kolega bisnis, dan sekutu-sekutu politiknya.

14 Juli 2020 09:09

Agen intelijen Turki sampai sekarang telah menculik lebih dari seratus pengkritik Presiden Recep Tayyip Erdogan tinggal di luar negeri. Tindakan ini berhasil dilakukan lantaran pemerintah Turki sudah menandatangani perjanjian rahasia dengan banyak negara dengan dalih pemberantasan terorisme.

Empat pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam surat bersama ditujukan kepada pemerintah Turki menyampaikan keprihatinan mereka terhadap keselamatan para pengkritik Erdgan dipulangkan paksa ke Turki.

"Pemerintah Turki, berkoordinasi dengan negara lain, telah memulangkan paksa lebih dari seratus warga Turki," kata empat pelapor khusus PBB itu dalam suratnya. "Dari jumlah itu, 40 orang dihillangkan secara paksa, kebanyakan diculik di jalan atau rumah mereka, dan banyak yang diambil paksa bareng anak-anak mereka."

Surat keprihatinan itu ditandatangani bersama oleh kepala pelapor Kelompok Kerja untuk Penghilangan Paksa Luciano Hazan, pelapor khusus urusan hak-hask asasi manusia migran Felipe Gonzalez Morales, pelapor khusus urusan promosi dan perlindungan hak asasi manusia serta kebebasan fundamental ketika memerangi terorisme Fionnuala Ní Aoláin, dan pelapor khusus urusan penyiksaan, kekejaman, dan perlakuan tidak manusiawi Nils Melzer.

Menurut keempat pelapor khusus PBB itu, lebih dari seratus pengkritik Erdogan ini diculik di Afghanistan, Azerbaijan, Albania, Libanon, Kamboja, Gabon, Irak, Kazakhstan, Kosovo, Malaysia, Moldova, Mongolia, Myanmar, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Sudan, Ukraina, dan negara-negara lain.

Perburuan Turki terhadap para pengkritik Erdogan ini dilakuakn dengan dalih mereka terlibat dalam gerakan Gulen - kelompok dipimpin ulama Turki menetap di Amerika Serikat, Fethullah Gulen.

Turki menetapkan Gulen sebagai organisasi teroris pada Mei 2016. Dua bulan kemudian terjadi uoaya kudeta buat menumbangkan Erdogan dan gerakan Gulen dituding sebagai dalangnya.

Sila baca: Geliat Gulen di Indonesia

Keempat pelapor khusus PBB itu mengungkapkan pada 2017 MIT (badan intelijen Turki) membentuk satu departemen bertugas melacak sekaligus memburu warga Turki pengkritik Erdogan tinggal di negara lain.

Penangkapan besar-besaran terhadap wartawan dan para pengkritik Erdogan dimulai ketika Desember 2013, terbongkar skandal korupsi raksasa melibatkan Erdogan, anggota keluarga, kolega bisnis, dan sekutu-sekutu politiknya. Penangkapan kian ditingkatkan sehabis kudeta gagal pada Juli 2016.

Sila baca: Tergelincir menjadi diktator

Museum Hagia Sophia di Kota istanbul, Turki, saat musim dingin. (Maurice Flesier via Wikimedia Commons)

Ribuan orang hadiri salat Jumat perdana dalam 86 tahun di Masjid Hagia Sophia

Sebelum ritual pekanan itu dimulai, Erdogan membaca Al-Quran, Surat Al-Fatihah dan lima ayat pertama Surat Al-Baqarah.

Museum Hagia Sophia di Kota istanbul, Turki, saat musim dingin. (Maurice Flesier via Wikimedia Commons)

Erdogan ubah Museum Hagia Sophia menjadi masjid lagi

Hagia Sophia akan dibuka sebagai masjid lagi pada salat Jumat dua pekan mendatang.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sedang mengajari cucunya, Ahmet Akif Albayrak, di Marmaris, pada 15 Juli 2016. (Hurriyet Daily News)

Lempar foto Erdogan pakai pot bunga, ibu dan anaknya dipenjara 11 bulan

Gurcen marah karena konvoi kampanye AKP membunyikan musik dengan suara keras. Waktu itu ibunya sedang sakit.

Wartawan pengkritik Arab Saudi Jamal Khashoggi. (Twitter)

Erdogan sebut otoritas tertinggi di Arab Saudi perintahkan habisi Khashoggi

Dia tidak meyakini Raja Salman sebagai pemberi perintah.





comments powered by Disqus