kabar

Libanon-Israel sepakat rundingkan batas laut

Perundingan akan digelar bulan depan di Naqurah, kota kecil di selatan Libanon,

26 September 2020 08:45

Libanon dan Israel telah sepakat untuk merundingkan perbatasan laut antara kedua negara.

Menurut juru bicara Kementerian Energi Israel, pembicaraan itu akan digelar pertengahan bulan depan di Naqurah, kota kecil di selatan Libanon, dekat dengan markas UNIFIL (Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Libanon).

Dalam perundingan batas laut itu, Libanon akan diwakili oleh Ketua parlemen Nabih Birri dan sejumlah pejabat dari kantr kepresidenan. Sedangkan Menteri Energi Yuval Steinitz bakal mewakili Israel. Pembahasan ini juga akan dihadiri oleh David Shencker, Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Urusan Timur Dekat, dan seorang pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kedua negara sudah bersengketa lebih dari satu dasawarsa mengenai tapal batas di wilayah perairan seluas 860 kilometer persegi di Laut Mediterania dan memiliki cadangan gas. Israel sudah menyetujui pembagian 58 persen buat Libanon dan sisanya bagi mereka.

Kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik dan bermusuhan. Israel pada musim panas 2006 berperang dengan Hizbullah, milisi Syiah berpusat di selatan Libanon.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. (Ori/Wikimedia Commons)

Amerika izinkan warganya dilahirkan di Yerusalem menulis Israel sebagai tempat lahir di paspor

Menachem Zivotofsky menjadi warga negara Amerika pertama dilahirkan Yerusalem memperoleh paspor dengan Israel sebagai tempat lahir.

Suasana jamaah bertawaf di Kabah pada Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Arab Saudi izinkan Indonesia kirim jamaah umrah

Setibanya di Saudi, jamaah harus menjalani karantina tiga hari di hotel sebelum mulai melaksanakan umrah.

Sejumlah pekerja tengah membersihkan halaman Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi, Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Lelaki Saudi tabrakkan mobilnya ke pintu masuk Masjid Al-Haram

Kejadian itu kecelakaan bukan disengaja.





comments powered by Disqus