kabar

Perempuan Arab Saudi mulai berani merokok di depan umum

Hasil sebuah penelitian pada 2015 menyebutkan hampir 65 persen perempuan Saudi di sekolah menengah merokok diam-diam.

16 Februari 2020 20:40

Rima - nama samaran - tengah duduk di sebuah kafe di kawasan elite di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, sambil memandang ke arah sekeliling secara seksama. Setelah memastikan tidak ada orang mengenal dirinya, dia mulai menyalakan rokok elektrik dan mengepulkan asapnya.

"Saya merasa merokok di muka umum bagian dari melaksanakan kebebasan baru saya," kata perempuan Saudi berumur 27 tahun dan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Riyadh itu. "Saya senang sekarang bisa memilih."

Seperti kaum feminis di dunia Barat di awal abad ke-20, di era perubahan sosial di Saudi, sebagai kaum hawa mulai merokok, mengisap syisya atau rokok elektrik sebagai simbol emansipasi. Beberapa buan belakangan, makin banyak perempuan Saudi merokok di tempat umum, pemandangan tidak pernah diduga sebelum reformasi menyapu negara Kabah itu.

Adalah Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman meluncurkan perubahan sosial dan ekonomi untuk memberi kesan Saudi adalah negara moderat dan ramah buat berbisnis. Perempuan sudah diizinkan menyetir mobil dan mengendarai sepeda motor, menonton pertandingan olahraga dan konser musik, serta mendapatkan paspor tanpa izin muhrimnya.

Rima muai merokok dua tahun lalu. Dia tidak kuatir akan berpengaruh pada kesehatannya. Dia lebih cemas kalau keluarganya tahu. "Saya tidak akan memberitahu karena mereka tidak mengerti perempuan juga bebas merokok seperti lelaki," ujar perempuan berjilbab dan berabaya serba hitam ini.

Najla, juga bukan nama sebenarnya, bilang dapat menjadi sebuah skandal dan hal memalukan bila keluarga mengetahui dirinya sudah menjadi perokok. Perempuan 26 tahun ini ingin menantang norma sosial dan tidak peduli cemoohan orang. "Hak-hak saya akan benar-benar dihormati saat keluarga saya menerima saya sebagai perokok," tuturnya.

Dia bercerita mengenai teman perempuannya dibawa ke klinik pecandu kerika orang tuanya mengetahui anak gadisnya sudah doyan rokok.

Najla mulai merokok ketika masih sekolah. Seperti dirinya, hampir 65 persen perempuan Saudi di sekolah menengah merokok diam-diam, menurut hasil penelitian pada 2015 oleh Fakultas Kedokteran Universitas Raja Abdul Aziz di Jeddah, seperti dilansir Arab News.

Seorang pelayan berkewarganegaraan Libanon mengakui pelanggan perempuan sudah biasa memesan syisya di kafe tempat dia bekerja di utara Riyadh. "Hal semacam ini tidak pernah terpikir tiga bulan lalu," katanya.

Heba, 36 tahun, sudah lama menjadi perokok. "Saya tidak pernah membayangkan saya dapat duduk mengisap syisya di tempat di sebelah lelaki," ujarnya. "Kini segalanya dibolehkan. Perempuan keluar rumah tanpa berjilbab, tanpa berabaya, dan bahkan mereka sudah bisa merokok di depan umum."

 

Suasana di pelataran Masjid Al-Haram, Kota Makkah, setelah Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz memerintahkan isolasi terhadap kota Makkah, Madinah, Riyadh pada 25 Maret 2020. (Haramain Info)

Penderita Covid-19 di Makkah bertambah jadi 384 orang, di Madinah 233 orang

Arab Saudi telah menerapkan jam malam 24 jam sehari terhadap Makkah dan Madinah hingga waktu belum ditentukan. 

Kafe Lorca di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Trip Advisor)

Korban meninggal karena Covid-19 di Arab Saudi naik jadi 25 orang

Jumlah pengidap Covid-19 di negara Kabah itu kini 2.039 orang.

Jalan di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, lengang dari kendaraan setelah jam malam diberlakukan sejak 23 Maret 2020. (Twitter)

Empat kota dengan jumlah penderita Covid-19 terbanyak di Arab Saudi

Jam malam 24 jam berlaku di Makkah dan Madinah hingga waktu belum ditentukan.

Seorang jamaah sedang membaca Al-Quran di Masjid Nabawi, Kota Madinha, Arab Saudi, Juni 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Sudah 199 orang terinfeksi Covid-19 di Madinah

Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi hari ini mulai menerapkan jam malam 24 jam di Makkah dan Madinah.





comments powered by Disqus