kabar

Pemimpin Hizbullah, ISIS, dan Hamas puncaki daftar 20 ekstremis paling berbahaya

Dalam daftar itu juga ada mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad karena suka melontarkan pernyataan anti-Yahudi.  

10 Januari 2021 13:29

Pemimpin Hizbullah Hasan Narallah memuncaki daftar 20 ekstremis paling berbahaya sejagat versi Counter Extremism Project (CEP), lembaga kajian non-pemerintah dari Amerika Serikat. 

Dalam siaran pers dilansir Selasa lalu, CEP menempatkan pemimpin ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) Amir Muhammad Said Abdurrahman al-Maula di posisi kedua dan Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyah di rangking ketiga. 

Nasrallah, kelahiran 31 Agustus 1960, dikenal pula dengan nama Hasan Abdul Karim, saat ini tinggal di Libanon. 

Departemen Keuangan Amerika menetapkan Nasrallah sebagai teroris pada 1995, sehingga semua properti dan trsanksinya dilarang di Amerika. 

Muhammad Said al-Maula, kelahiran, 5 Oktober 1976, dikenal juga dengan sebutan Abu Ibrahim al-Hasyimi al-Quraisyi. 

Departemen Keuangan Amerika menyatakan pengganti dari Abu Bakar al-Baghdadi itu sebagai teroris pada 18 Maret 2020. 

Departemen Keuangan Amerika menetapkan Haniyah, kelahiran 29 Januari 1962, sebagai teroris global pada 31 Januari 2018. 

Dalam daftar itu juga ada mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad karena suka melontarkan pernyataan anti-Yahudi.

 

Pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah dan putranya, Jawad Nasrallah. (Arabi21)

Hasan Nasrallah tidak punya telepon seluler dan tidak keluar rumah

Ini kali pertama negara Zionis itu menerbitkan laporan tentang keadaan psikologis Nasrallah,

Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei bersama pemimpin Hizbullah Hasan Nasrallah. (Khamenei.ir)

Pemimpin Hizbullah dikabarkan pindah ke Iran demi alasan keamanan

Setelah pembunuhan Fakhrizadeh, pengamanan terhadap Nasrallah diperketat. Semua rencana perjalanan dibatalkan.

Ismail Haniyah terpilih sebagai Kepala Biro Politik Hamas pada 6 Mei 2017, menggantikan Khalid Misyaal. (Al-Manar)

Pemimpin Hamas bertemu pemimpin Hizbullah di Beirut

Sejak meninggalkan Jalur Gaza akhir tahun lalu, Haniyah sudah berkunjung ke Iran, Irak, Turki, dan terakhir Libanon. Dia kini menetap di Ibu Kota Doha, Qatar.





comments powered by Disqus