kabar

Bin Salman dan dilema Biden

Bin Salman makin percaya tidak ada yang bisa membantah atau mencegah kuasa mutlaknya, sekalipun negara sebesar Amerika.

02 Maret 2021 13:05

Presiden Amerika Serikat Joe Biden kini menghadapi situasi dilematis seperti dihadapi pendahulunya, Donald Trump, dalam kasus pembunuhan kolumnis surat kabar the Washington Post, Jamal Khashoggi.

Trump waktu itu memilih menyembunyikan laporan CIA (dinas rahasia luar negeri Amerika) menyimpulkan Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman sebagai pemberi perintah. Bagi dia sebagai pengusaha, bermusuhan dengan Saudi sama saja membuat lari pelanggan persenjataan Amerika terbesar di dunia.

Sebuah tim beranggotakan 15 warga Saudi, termasuk tujuh pengawal pribadi Bin Salman pada 2 Oktober 2018 melenyapkan Khashoggi di dalam kantor Konsulat Jenderal Arab Saudi di Kota Istanbul, Turki. Mayatnya kemudian dimutilasi dan sampai kini negara Kabah itu masih merahasiakan di mana keberadaan potongan-ptongan tubuh Khashoggi.

Karena itulah, di masa Trump, Saudi menandatangani kontrak pembelian senjata senilai US$ 32 miliar. Dalam hitungan hari setelah kematian Khashoggi, Saudi memberi uang tutup mulut sebesar US$ 100 juta bertepatan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Mike Pompeo.

"Saya tidak seperti orang bodoh mengatakan, 'Kami tidak mau berbisnis dengan mereka.' Lagipula jika mereka tidak berbisnis dengan kita, kamu tahu apa yang mereka lakukan? Mereka akan berbisnis dengan Rusia dan China," kata Trump, seperti dilansir the Guardian pada Juni 2019.

Komentar Trump ini keluar setelah pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa Agnes Callamard dalam laporan investigasinya menyimpulkan Bin Salman menyetujui misi menghabisi Khashoggi.

Biden memang membuka laporan sensitif itu Jumat pekan lalu untuk memenuhui prinsip keterbukaan, tapi dia tidak memberikan sanksi kepada Bin Salman. Ada 18 orang terlibat pembunuhan Khashoggi dikenai sanksi larangan memasuki Amerika hingga waktu tidak ditentukan dan pembekuan aset mereka di Amerika atau yang dikelola oleh orang Amerika.

Sebanyak 18 orang itu terdiri dari tiga pejabat - Saud al-Qahtani (penasihat media Bin Salman), Brigadir Jenderal Ahmad Hasan al-Assiri (mantan wakil kepala badan intelijen Saudi), dan Muhammad al-Utabiki (eks Konsul Jenderal Saudi di Istanbul) serta 15 anggota tim pembunuh dipimpin Mahir Mutrib.

Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken beralasan Bin Salman tidak dikenai sanksi, "Karena kami mengkaji lagi hubungan dengan Saudi tapi bukan untuk merusak."

Tentu saja sikap dilematis Biden ini menjadi bumerang. Banyak organisasi dan aktivis hak asasi manusia serta demokrasi berharap Biden akan menghukum Bin Salman atas kejahatannya. Ternyata dia juga kebal seperti di era Trump.

"Selama Amerika masih menjual persenjataan ke Saudi, termasuk sistem pertanahan, dan Bin Salman tidak dikenai sanksi, maka Bin Salman bakal terus meyakini dirinya mendapat sokongan Amerika," ujar Direktur Eksekutif Democracy for the Arab World Now (DAWN) Sarah Leah Whitson kepada Albalad.co melalui pesan WhatsApp Ahad pekan lalu.

DAWN adalah organisasi non-pemerintah dirintis oleh Khashoggi untuk mendorong terciptanya demokrasi, penegakan hak asasi manusia dan tatanan hukum di negara-negara Timur Tengah.

Selain itu, Bin Salman makin percaya tidak ada yang bisa membantah atau mencegah kuasa mutlaknya, sekalipun negara sebesar Amerika.

 

Jamal Khashoggi, pengkritik pemerintah Arab Saudi. (Twitter)

Amerika beri sanksi terhadap 18 pembunuh Khashoggi kecuali Bin Salman sebagai pemberi perintah

Blinken menyatakan 18 orang itu tidak boleh memasuki Amerika hingga waktu tidak ditentukan. Sedangkan Departemen Keuangan Amerika mengatakan akan membekukan aset mereka di Amerika atau aset mereka dikontrol oleh warga Amerika.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Arab News)

Laporan intelijen Amerika simpulkan Bin Salman setujui operasi pembunuhan Khashoggi

Keterlibatan Bin Salman kian terbukti lantaran tujuh orang dari 15 anggota tim pembunuhan Khashoggi merupakan anggota pasukan pengawal pribadi Bin Salman.

Jamal Khashoggi, pengkritik pemerintah Arab Saudi. (Twitter)

Janda Khashoggi gugat Bin Salman di pengadilan Amerika

Cengiz menuntut pertanggungjawaban Bin Salman dan orang-orang suruhannya atas penculikan, penyiksaan, pembunuhan, mutilasi, dan penghilangan potongan tubuh Khashoggi.

Jamal Khashoggi, pengkritik pemerintah Arab Saudi. (Twitter)

Hukuman mati dianulir, Saudi vonis lima terdakwa kasus pembunuhan Khashoggi dengan 20 tahun penjara

Saudi mulanya menyangkal telah membunuh Khashoggi, namun Bin Salman akhirnya mengaku bertanggung jawab meski tidak dijadikan tersangka.





comments powered by Disqus

Rubrik kabar Terbaru

Iran puji sikap Indonesia soal isu nuklir Iran

Total perdagangan kedua negara tahun lalu meningkat 52 persen, yaitu mencapai US$ 215 juta dari nilai tahun 2019 sebesar US$ 141,60 juta.

20 April 2021

TERSOHOR